SESAL USAI TALAK

SESAL USAI TALAK
Part 10 RENCANA 2


__ADS_3

Byanca dan Evan berjalan menuju kamarnya. Lalu mereka masuk kedalam kamar tersebut. Evan langsung memeluk tubuh istrinya itu dari belakang, menompangkan dagunya di dipundak Byanca.


Byanca tersenyum dan memejamkan matanya, menikmati pelukan suaminya itu.


"By, jangan pernah tinggalkan aku ya!!" Ucap Evan.


"Iya mas."


Lalu Evan mengangkat tubuh istrinya itu ala bridel stay. Menuju ka atas kasur, lalu mereka melanjutkan malam panas mereka.


***


Kediaman Jonathan.


Mamah Lyli terlihat gusar dan gelisah, sedari tadi ia mencoba memejamkan matanya, namun entah mengapa matanya itu tidak bisa terpejam. Papah Jonathan, ia terlihat sudah terlelap dalam tidurnya.


"Ya tuhan ada apa ini, kenapa perasaanku tidak enak begini, kenapa tiba-tiba aku teringat pada Byanca?" Gunamnya.


Lalu mamah Lyli menyenderkan tubuhnya dikepala ranjang. Hatinya sungguh gelisah. Papah Jonathan yang meresakan pergerakan istrinya itu, ia terlihat membuka matanya.


"Mah, kok belum tidur sih?" Dengan suara serak khas orang bangun tidur, papah Jonathan yang masih terlihat mengantuk ia menyenderkan tubuhnya dikepala ranjang.


"Mamah gak bisa tidur Pah, perasaan mamah tidak enak, mamah ingat Byanca terus." Lirihnya, wajah wanita itu terlihat bersedih. Papah Jonathan menarik istrinya itu kedalam pelukannya.


"Byanca pasti baik-baik saja mah, mamah tidak usah khawatir, lagian-kan Byanca bersama suaminya!" Ujar papah Jonathan, sambil mengelus lembut bahu istrinya.


"Iya pah, mamah tau. Tapi entah kenapa perasaan mamah dari tadi gelisah memikirkan anak kita."


"Sudah, sebaiknya kita tidur ini sudah malam!" Lalu papah Jonathan membaringkan tubuhnya, masih dengan memeluk istrinya itu. Mamah Lyli mengangukan kepalanya. Lalu mereka pun tertidur kembali.


***


Keesokan harinya.


Byanca, Evan dan papah Edward, mereka terlihat sudah duduk di kursi meja makan.


Mereka tengah menikmati sarapan mereka pagi ini.


Anita dan Erik, belum terlihat batang hidungnya.


"Pah, mamah sama kak Erik kok gak ikut sarapan?" Tanya Byanca. Melihat kearah mertuanya itu.


"Sudah kamu tidak usah memikirkan mereka, nanti juga mereka sarapan sendiri." Jawab papah Edward.


Byanca terlihat mengangukan kepalanya pelan.


Tak lama kemudian mereka pun selesai sarapan.


"By, mas berangkat dulu ya." Pamit Evan.


"Iya mas." Lalu Byanca meraih tangan suaminya itu, dan mencium punggung tangannya. Evan tersenyum, lalu menempelkan bibirnya di kening istri tercintanya itu.


Papah Edward terlihat mengambangkan senyumannya.


"By, papah juga pamit dulu ya." Byanca menganguk, lalu menyalami mertuanya itu.


"Ayo Pah." Ajak Evan.


Mereka pun bergegas dari meja makan tersebut.


Byanca terlihat mengantar mereka menuju kedepan.


"Kalian hati-hati ya." Ucap Byanca, sambil melambaikan tangannya kepada suami dan mertuanya itu.


Mobil mereka pun melaju meninggalkan rumah mewah tersebut. Byanca memandangi mobil mereka, hingga mobil itu hilang dari pandangannya.

__ADS_1


Byanca terlihat menarik napas panjangnya. "Sekarang apa yang harus aku lakukan, rumah ini terasa sepi sekali!" Gunamnya.


Lalu Byanca masuk kembali ke dalam rumah, ia beranjak menuju kamarnya.


***


"Bagaimana mah? Apa mereka sudah pergi?" Tanya Erik, kepada Anita.


Anita terlihat sedang mengintip dari balik jendela kamar Erik, Anita tersenyum licik saat melihat mobil suaminya, melaju meninggalkan rumah tersebut.


"Mereka sudah pergi." Ucap Anita, ia mendekati Erik yang tengah duduk di tepi ranjang miliknya.


Senyuman licik terlihat mengambang di wajah Erik.


"Bagus, sekarang waktunya kita menjalankan rencana kita mah."


Silvia mengangukan kepalanya, "Iya, cepat kita lakukan, mamah sudah tidak sabar." Ucap tersenyum sinis.


****


Byanca sudah berada di dalam kamarnya. Sepertinya ia benar-benar merasa kesepian. Byanca menekuk wajahnya, lalu ia mengambil ponsel miliknya yang berada diatas nakas. Byanca memainkan ponselnya itu, untuk mengurangi rasa jenuhnya.


"Kenapa tiba-tiba perasaan aku jadi gak enak begini ya?"--Gunamnya


Tiba-tiba pintu terdengar ketukan pintu.


Tok tok tok


Byanca beranjak dari duduknya, menuju arah pintu kamarnya, lalu membuka pintu tersebut.


"Mamah.." Anita terlihat berdiri dengan senyuman palsunya, didepan pintu kamar itu.


"Boleh mamah masuk?"


"Silahkan mah."


"Terima kasih sayang." Ucapnya sambil mengelus bahu Byanca dengan lembut.


"Ada apa dengan mamah Anita? kenapa sikapnya tiba-tiba jadi hangat begini," gunam Byanca.


Ada rasa aneh dihatinya, namun juga senang.


"Byanca kok, malah bengong sih, sini dong mamah mau ngobrol sama kamu." Byanca menghampiri mertuanya itu, yang tengah duduk di sofa yang ada dikamar Byanca. Byanca duduk disamping mamah mertuanya itu. Anita tersenyum, lalu mengusap lembut rambut Byanca.


"Byanca, maafkan mamah ya." Ucapnya, dengan lirih.


"Maaf untuk apa mah?" Menatap mertuanya itu terheran.


"Maaf kalau sikap mamah selama ini kurang baik sama kamu." Anita memasang wajah sedih.


Byanca meraih tangan mertuanya itu, "Mamah, perlu minta maaf, justru Byanca yang minta maaf kalau kehadiran Byanca di keluarga ini membuat mamah terganggu." Ucap Byanca, mempererat genggaman tangan mertuanya itu.


"Tidak, sayang justru mamah senang, kamu bisa hadir di keluarga kami." Ucap Anita. Lalu ia memeluk Byanca.


"Tentu saja aku sangat terganggu dengan kehadiran kamu, karna kamu semua rencana ku hancur!" gunam Silvia.


"Terima kasih mah."


Lalu mereka melepaskan pelukannya, "Iya sayang."


"Evan kemana?" Tanya Anita, berpura-pura tidak tahu.


"Mas Evan sudah pergi ke kantor mah."


"Emm," mengagukan kepalanya. "Kamu pasti kesepian, bagaimana kalau kamu temenin mamah pergi, kebetulan hari ini mamah ada acara."

__ADS_1


Byanca terlihat berpikir sejanak, lalu mengangukan kepalanya dan tersenyum.


"Boleh mah."


"Ya sudah, kamu siap-siap dulu ya! Mamah tunggu dibawah.''


"Iya mah."


Anita pun beranjak dari sofa yang ia duduki itu, lalu melangkah keluar dari kamar Byanca.


Byanca menganti pakaian-nya, dan bersiap-siap.


Anita terlihat sedang menunggu menantunya itu, di ruang tengah.


"Bagaimana mah?'' Tanya Erik, yang menghampirinya.


"Beres, sebaiknya kamu cepat pergi sekarang." Titah Anita. Erik mengangukan kepalanya, lalu melajukan mobilnya meninggalkan rumah tersebut.


"Bersiap-siaplah Evan. Aku akan memberikan kejutan padamu." Ucap Erik, sambil terus melajukan mobilnya.


Tak lama kemudian Byanca terlihat sudah rapih dan cantik, ia tengah berjalan menuruni anak tangga.


"Sudah siap sayang?" Tanya Anita, yang melihat kearah nya.


"Sudah mah."


Lalu mereka pun pergi dari rumah itu. Anita melajukan mobilnya. Tak lama kemudian Anita menepikan mobilnya disalah satu hotel ternama yang ada di kota tersebut.


Byanca terlihat heran. "Kok kita ke hotel sih mah?" Tanya Byanca, menatap mamah mertuanya itu.


"Acaranya memang di sini." Jawabnya. Lalu Anita membuka setblet-nya


"Ayo..." Byanca mengangguk, lalu mengikuti Anita yang terlihat terlebih dahulu keluar dari mobilnya.


"Kenapa perasaanku jadi gak enak begini ya?" Gunam Byanca.


Lalu Anita menarik tangan byanca dengan lembut, menuntunnya masuk kedalam hotel itu. Mereka memasuki satu kamar hotel mewah tersebut.


Byanca merasa binggung, Anita bilang mereka akan menghadiri acara teman mertuanya itu, tapi kenapa Anita malah membawanya kedalam hotel.


"Mah, kita kok malah ke sini? Mana teman-teman mamah?" Tanya Byanca.


"Oh iya By, acaranya belum dimulai, lebih baik kita istrihat saja disini, sambil menunggu teman-teman mamah datang." Ucap Anita, mencoba meyakinkan Byanca. Byanca terlihat mengangukan kepalanya, lalu tersenyum. Tapi Byanca tak bisa membohongi dirinya, kalau saat ini si merasa tidak enak hati.


"Ah, aku tidak boleh mikir macam-macam, tidak mungkin kan mamah Silvia mau berbuat jahat kepadaku." Gunam Byanca, mencoba menyangkal semua sangka buruknya.


"By, mamah tinggal dulu sebentar ya, kamu gak apa-apa kan mamah tinggal di sini sendiri?" Ucap Anita.


"Mamah mau kemana?"


"Mamah mau nemuin temen mamah dulu, sebentar saja kok."


"Iya mah."


Anita pun keluar dari kamar hotel tersebut. Anita terlihat menelpon seseorang. Anita terlihat mengambangkan senyuman liciknya, usai memutuskan sambungan telpon tersebut.


"Selamat bersenang-senang Byanca."--Batin Anita


Lalu ia pergi meninggalkan Byanca yang masih ada dikamar hotel, dan melajukan mobilnya meninggalkan hotel tersebut.


Bersambung...


Jangan lupa like dan komennya KK.


Vote seiklasnya 😉

__ADS_1


__ADS_2