
Byanca terlihat sedang memasukan beberapa baju kedalam koper, masukkan baju miliknya. Hari ini Byanca dan Evan berencana akan menginap beberapa hari di rumah Edward.
"Sudah selasai sayang?'' Tanya Evan, menghampiri istinya tersebut.
"Sudah mas." Jawab Byanca, menutup koper yang sudah terisi dengan baju-baju miliknya.
"Ya sudah, ayo kita berangkat." Ajak Evan, menyeret koper tersebut. Byanca mengangguk, lalu meraka berjalan keluar dari kamar tersebut.
"Kalian jadi menginap dirumah papah Edward?" Tanya papah Jonathan. Yang tengah duduk santai diruang keluarga bersama istrinya.
"Jadi Pah." Jawab Byanca,Evan tersenyum mengangguki-nya
"Ya sudah kalian hati-hati ya."
Evan dan Byanca menghampiri mereka, meraih tangan keduanya. Berpamitan.
"Byanca pergi dulu ya mah, pah." Pamit Byanca dan Evan. Meraka pun melangkah meninggalkan rumah tersebut, Evan memasukan koper milik istrinya kedalam bagasi mobilnya. Membukakan pintu mobil untuk istri tercintanya itu.
"Terima kasih suamiku." Ucap Byanca, tersenyum lalu masuk kedalam mobil tersebut.
"Sama-sama istriku." Ucap Evan, lalu Meraka tertawa kekeh dengan tingkah mereka itu.
Lalu Evan masuk kedalam mobil, mengemudikan mobil tersebut, melaju meninggalkan rumah orang tua Byanca.
"Oh iya mas, kamu sudah kasih tau papah kalau kita mau nginap hari ini?'' Tanya Byanca, menatap suaminya yang tengah mengemudikan mobil.
Evan terlihat menepuk jidatnya, "Oh iya mas lupa by." Ujarnya, sekilas melihat kearah istrinya itu sambil tersenyum cengengesan. Byanca terlihat menggelengkan kepalanya. Evan meraih ponsel miliknya. Lalu memberikan ponsel tersebut kepada istrinya.
"By tolong telponin papah, mas sudah lagi nyetir."
Byanca mengangguk, lalu meraih ponsel milik suaminya itu, lalu Byanca menelepon mertuanya. Tak lama sambungan telpon tersebut tersambung. Byanca menaruh ponsel tersebut didekat telinga Evan.
"Hallo..Evan ada apa?'' Ucap Edward diseberang sana.
"Iya hallo Pah, Pah Evan dan Byanca lagi dijalan menuju rumah, kami mau menginap ditempat papah boleh kan?"
"Tentu saja Evan, papah tunggu kedatangan kamu." Ucap Edward, terdengar tawa bahagia darinya.
"Baik Pah, kalau begitu Evan tutup telponnya, Evan lagi nyetir."
"Iya-iya, hati-hati."
"Oke pah."
Sambungan telpon pun terputus. Byanca menarik ponsel tersebut dari dekat telinga suaminya.
"Bagaimana mas?"
"Bagaimana apanya sayang?"
"Ya bagaimana, apa papah ngebolehin kita nginep disana?" Ucap Byanca, wajahnya terlihat kesal.
"Iya tentu saja sayang." Evan tersenyum kekeh melihat Byanca yang terlihat memasang wajah kesalnya itu.
"Jangan cemberut jelek." Goda Evan, mengacak-acak puncak rambut Byanca.
__ADS_1
"Mas rambutku jadi berantakan ah." Protes Byanca, dengan suara manjanya, Lalu merapihkan rambutnya.
"Habis kamu ngegemesin sih, mah pengen cepet-cepet malam jadinya."
"Cepet-cepet malam? Memang kenapa?" Menatap suaminya dengan heran.
"Iya pengen cepet-cepet malam aja." Jawabnya, lalu Evan mendekatkan kepalanya wajahnya kearah Byanca yang sedang menatapnya.
"Pengen cepet-cepet makan kamu." Bisik Evan, tepat ditelinga Byanca.
Seketika bulu kunduk Byanca berdiri, lalu ia mencubit perut Evan. "Dasar mesum." Ucapnya, terlihat wajah Byanca memerah.
"Awwww...sakit yang."
Byanca tidak menyahutnya , ia memalingkan wajahnya kearah samping menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah seperti tomat. Evan hanya tersenyum kekeh, melihat tingkah istrinya itu, menggoda Byanca seperti sudah candu baginya.
***
Kediaman Edward.
Laki-laki itu terlihat mengambangkan senyum bahagianya, usai menerima telpon dari anaknya.
Mendengar anak dan menantunya akan menginap di rumahnya membuat laki-laki itu terlihat bahagia sekali.
"Bi Minah...Bi...." Panggil Edward, kepada asisten rumah tangganya. Dengan suara yang terdengar sedikit berteriak.
Bi Minah yang sedang berada di dapur dengan sigap menghampiri majikannya itu.
"Iya tuan."
"Bi hidangkan makanan yang spesial, anak dan mantu saya akan kesini sekarang" Titahnya.
Anita yang tengah berjalan menuruni anak tangga, tak sengaja menguping pembicaraan suaminya itu dengan asisten rumah tangganya. Anita terlihat menarik ujung bibirnya tersenyum licik.
"Jadi mereka akan menginap disini, kesempatan bagus. Aku harus segara melakukan rencana ku, Erik aksi harus kasih tau anak itu."---Batinnya.
Anita berjalan menuju kamar anaknya Erik, mengetuk pintu kamar tersebut, namun tidak ada sahutan dari yang empunya kamar itu. Anita memutar kenop pintu kamar Erik, dan pintu itu terbuka, Erik rupanya tak mengunci pintu kamarnya tersebut.
Anita mengelengkan kepalanya, saat masuk kedalam kamar anaknya itu. Erik terlihat sedang tertidur pulas di atas kasur miliknya.
"Anak ini benar-benar membuatku kesal, sudah hampir sore begini belum bangun juga." Gerutunya kesal.
Anita berjalan mendekat kearah anaknya yang masih tidur nyenyak tersebut.
"Erik bangun." Ucapnya, menggoyangkan tubuh Erik. Erik terlihat mengelitkan tubuhnya, lalu mengucek matanya perlahan.
"Apaan sih mah, ganggu orang lagi tidur aja. Sentaknya, dengan suara khas orang bangun tidur.
"Cepat bangun, mamah punya kabar gembira." Erik terlihat sedang mengumpulkan kesadarannya.
"Kabar apaan sih mah." Tanyanya, memalas.
"Evan dan Byanca akan menginap disini."
Erik terlihat membulatkan matanya. "Serius mah?"
__ADS_1
"Iya..Erik barusan mamah denger, papah kamu sendiri yang bilang tadi."
"Bagus kalau begitu, sepertinya rencana kita harus segara disiapkan." Ucap Erik, terlihat senyuman sinis mengambang diwajahnya.
"Tentu saja, harus sekarang." Ucap Anita, dengan senyum yang sama seperti anaknya itu
"Dan ingat jangan sampai gagal Erik." Lanjutnya
Erik terlihat mengaggukan kepalanya. "Serahkan semuanya pada Erik mah, mamah hanya duduk manis saja melihat pertunjukan nanti yang akan Erik berikan kepada mamah." Tersenyum licik.
"Oke, mamah percaya sama kamu." Anita pun berajak dari kamar anaknya itu
"Evan liat apa setelah ini Lo akan bahagia, permainan baru dimulai Evan."---Batin Erik.
***
Sekitar menempuh perjalanan satu jam, Evan dan Byanca terlihat sudah sampai di kediaman Edward tersebut. Evan melajukan mobilnya memasukan mobilnya kedalam halaman rumah itu. Usai memakirkan mobilnya, Evan keluar dari mobil tersebut terlebih dahulu, lalu membukakan pintu mobil untuk istrinya. Byanca keluar dari mobil tersebut usai Evan membukakan pintu mobil tersebut untuknya.
"Terima kasih sayang." Ucap Byanca, tersenyum kearah suaminya. Evan mengangukan kepalanya, lalu membalas senyuman istrinya itu. Lalu Evan menuju bagasi mobil, mengambil koper milik Byanca.
Papah Edward terlihat sudah berdiri di depan rumah tersebut, laki-laki itu terlihat mengambangkan senyum bahagianya, menyambut anak dan menantunya itu.
"Pah.." Ucap Evan dan Byanca, lalu meraka meraih tangan papah Edward dan menciumnya.
"Ayo masuk." Meraka pun masuk kedalam rumah tersebut.
Erik dan Anita terlihat sedang berjalan menuruni anak tangga rumah itu.
"Eh ada Evan sama Byanca." Ucapnya, memasang wajah palsunya, Anita terlihat mengembangkan senyumannya, lalu ia dan Erik menghampiri Edward, Evan dan Byanca.
"Mah...kak Erik..." Byanca dan Evan, lalu mereka menyalaminya.
"Bagiamana kabar mu?" Tanya Anita.
"Baik mah." Jawab Byanca.
"Sebaiknya kalian istirahat saja dikamar." Ujar Edward.
Evan dan Byanca terlihat mengaggukan kepalanya, lalu meraka berjalan menuju kamar milik Evan, yang berada di lantai dua. Edward memandangi pundak anak dan menantunya dengan senyuman.
Anita dan Erik pun terlihat memandangi meraka, namun tatapan mereka terlihat berbeda. Namun senyuman Edward itu reda, usai Evan dan Byanca berlalu dari pandangannya. Lalu pandangannya beralih menatap kepada istri dan anak tirinya itu.
"Dengar kalain berdua, kalau sampai kalian melakukan hal-hal yang aneh, saya pastikan kalian akan hidup sengsara." Ancam Edward. Menatap Erik dan Silvia dengan sorotan mata tajam.
"Maksud kamu apa mas?''
"Iya maksud papah apa, gak jelas?!" Sambung Erik.
Edward terlihat tak menyahut perkataan mereka, lalu ia berjalan meninggalkan Erik dan Anita, yang menatapnya penuh tanya.
'Berbahagialah dulu untuk kalain, karna sebentar lagi permain baru akan dimulai."---Batin Anita.
Senyuman sinis nan licik terpancar dari wajah wanita itu.
"Aku akan menghancurkan kalian semua, lihat saja.''--Batin Erik.
__ADS_1
Mengepalkan kedua tangannya, amarah terlihat terpancar dari wajah laki-laki itu.
Bersambung...