SESAL USAI TALAK

SESAL USAI TALAK
Part 15 INI BUKAN AKHIR DARI SEGALANYA


__ADS_3

Mamah Lily yang sudah menyiapkan makanan, ia terlihat memanggil suaminya. Papah Jonathan yang mendengar ajakan istrinya itu langsung menuju meja makan.


"Pah, mamah panggil Byanca dulu ya!" Ucap mamah Lily diangguki oleh suaminya itu.


Mamah Lily beranjak dari hadapan suaminya itu, berjalan menuju kamar Byanca.


Tok tok


Mamah Lily mengetuk pintu kamar Byanca.


"By, makan dulu yu sayang." Panggilnya, dari balik pintu kamar anaknya itu. Namun tidak terdengar sautan sama sekali dari dalam kamar tersebut.


"Byanca..." teriak mamah Lily lagi, memanggil anaknya. Namun masih tak ada sautan dari Byanca.


''Apa Byanca masih tertidur? "--Batinnya.


Mamah Lily terlihat memegang kenop pintu kamar Byanca, memutar kenop pintu itu perlahan, dan sepertinya Byanca tak mengunci kamarnya, pintu kamar terlihat terbuka.


Perlahan mamah Lily mendorong pintu tersebut, hingga terbuka lebar. Byanca terlihat sedang bersandar di ranjangnya, dengan tatapan yang kosong air mata terlihat mengalir dari mata indah Byanca yang kini sudah sembab. Byanca tak menyadari kalau mamahnya masuk kedalam kamarnya.


Mamah Lily menatap sang anak dengan tatap nanar, sendu merasa iba, kepada putri semata wayang-nya itu. Lalu mamah Lily mengahampiri Byanca yang masih larut dalam lamunannya, dan masih tak menyadari mamahnya berada disana.


Perlahan mamah Lily mendekat kearah Byanca, naik keatas tempat tidur Byanca tersebut.


"Byanca sayang!" ucap mamah Lyli, dengan suara lembutnya, sambil mengusap rambut anaknya yang terlihat acak-acakan.


Byanca masih tak bergeming. Air matanya semakin mengalir deras, sepertinya Byanca sudah menyadari kehadiran wanita yang telah melahirkannya itu, namun entah kenapa Byanca merasa mulutnya terkunci rapat, mulutnya terasa berat untuk mengucapkan kata-kata.


Mamah Lily yang mengerti dengan kondisi sang anak, langsung menarik Byanca kedalam pelukannya. Mengusap lembut rambut dan pundak Byanca yang berada dipelukan-nya itu, mata mamah Lily terlihat berkaca-kaca.


Betapa sakit hatinya, melihat pintu satu-satunya itu seperti itu, mamah Lily merasakan luka dihati Byanca juga melukai hatinya.


"Menangis-lah sayang, jika semua itu membuatmu lebih baik!'' ucap mamah Lily, mempererat pelukannya kepada Byanca, kini air mata mamah Lily ikut mengalir deras.

__ADS_1


Byanca menumpahkan semua kesakitan-nya itu dengan tangisnya, didalam pelukan sang mamah.


Walau pun Byanca menangis tanpa suara, namun dibalik itu semua rasa sakit yang ada dihati Byanca sudah tidak terkira. Cukup lama Byanca menumpahkan tangisnya diperlukan mamahnya. Byanca merasa hatinya sedikit lega, memang benar apa yang dikatakan mamahnya, perlahan Byanca melepaskan tubuhnya dari dekapan wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya itu.


Mamah Lily terlihat mengusap air matanya, lalu tersenyum kearah Byanca yang berada dihadapannya.


Mamah Lily menangkubkan kedua tangannya di wajah putrinya itu, lalu mengusap air mata Byanca dengan lembut. Byanca terlihat tersenyum tipis.


"Terima kasih mah," ucap Byanca, dengan suara pelan menatap mamahnya dengan sedikit senyuman diwajahnya.


"Sama-sama sayang." Ucap mamah Lily, lalu mengecup kening putrinya sekilas penuh dengan kasih sayang.


Mamah Lily menatap intens Byanca. "Byanca dengar mamah nak, ini semua bukan akhir dari segalanya, mamah yakin kamu pasti bisa melewati ini semua" ucap mamah Lily sambil memegang bahu Byanca.


"Sayang kamu masih muda, masa depan kamu masih panjang, lupakan laki-laki itu. Mulai detik ini buka lembaran baru" ucap mamah Lily.


Byanca terlihat tak bergeming sama sekali, air mata Byanca terlihat menetes deras kembali membasihi pipinya. Namun dalam hati dah pikiran Byanca sepertinya ia sedang mencerna apa yang diucapkan mamahnya itu.


"*Y*ang diucapkan mamah memang benar, aku harus bisa melupakan mas Evan" pikir Byanca.


"Mamah tau by, semuanya butuh waktu. Tapi mamah harap kamu tidak membuang waktu kamu hanya untuk terus menangisi laki-laki yang sudah merendahkanmu, bahkan memfitnah kamu." Ucap mamah, sambil mengusap kembali air mata Byanca.


"Kamu harus bangkit sayang, buktikan kepada semua orang bahwa apa yang mereka katakan itu tidak benar, buat Evan menyesali semuanya"


Byanca terlihat mengulas senyuman tipis, mamah Lily tersenyum melihat Byanca yang tersenyum kembali, walau pun hanya senyuman tipis.


"Sudah ya, jangan menangis lagi. Air mata kamu terlalu berharga untuk menangis laki-laki seperti dia."


Byanca menganggukan kepalanya pelan. Seperti ucapan mamah Lily sudah Byanca cerna dengan baik, dan yang di ucapkan mamahnya itu memang semua benar.


"Sebaiknya, kita turun kebawah by, papah sudah menunggu kita untuk makan," ajak mamah Lily, diangguki oleh Byanca.


Mamah Lily tersenyum, lalu beranjak dari atas kasur tersebut, begitu pun Byanca ia terlihat turun mengikuti mamahnya, mamah Lily membantu Byanca. Karna melihat kondisi Byanca tersebut, yang terlihat lemas dengan wajah sembab.

__ADS_1


Lalu mamah Lily membantu Byanca berjalan. Perlahan namun pasti, kini mereka sudah sampai di meja makan, papah Jhonatan terlihat mengulas senyuman-nya menyambut kedua wanita yang ia sangat sayangi itu. Lalu papah Jonathan menarik salah satu kursi meja makan tersebut, mempersilahkan Byanca untuk duduk.


"By..., kamu baik-baik saja kan?" tanya papah Jonathan basa-basi. Walau pun ia tau pertanyaan yang dilontarkannya itu terkesan bodoh.


Mana ada wanita yang baik-baik saja usai di talak suaminya. Dan yang lebih parah putri-nya di talak dengan kesalah pahaman.


Byanca tersenyum tipis, sambil mendudukkan tubuhnya di atas kursi meja makan tersebut.


"Aku baik-baik saja kok Pah" jawab Byanca. Sambil terus mencoba memaksakan senyuman-nya.


"Syukurlah, ya sudah sebaiknya kita langsung makan saja!" Kata papah Jonathan, "Papah sudah laper." Lanjutnya, Papah Jonathan terlihat memegangi perut-nya, sambil tersenyum kekeh.


Mamah Lily dan Byanca mengangukan kepalanya.


Lalu mereka menikmati makanan-nya masing-masing. Tidak ada pembicaraan saat mereka melaksanakan ritual makan bersama tersebut.


Mereka terlihat larut dalam pikirannya.


Sebenarnya Byanca enggan sekali untuk makan, ia merasa ***** makan-nya hilang, namun sekuat tenaga Byanca mencoba untuk menelan makanan yang ada di mulutnya itu.


''Ayo Byanca kamu pasti bisa melewati ini semua, aku harus bangkit, aku akan buktikan kalau aku tidak melakukan apa pun dengan si bajingan itu. Aku akan membuat mu menyesal mantan suamiku''-- Batin Byanca.


Jika bibir sudah tak mampuh berkata, biarkanlah air mata yang berbicara, menjadi saksi bisu akan kekejaman mu padaku.


Semoga tuhan membalas semua itu, karma pasti berlaku. Dan ingat KARMA tak semanis KURMA.


Bersambung...


jangan lupa like, comen dan votenya.


Maaf ya baru sempet up, udah lama ya aku gak up di SUT , semoga kaian sehat selalu.


Salam HaluπŸƒπŸƒπŸƒ

__ADS_1


__ADS_2