SESAL USAI TALAK

SESAL USAI TALAK
Part 55 SEMUANYA SUDAH JALAN TUHAN


__ADS_3

Evan tak bisa berkontraksi saat melakukan pekerjaannya. Pikirannya terus saja tertuju pada Dara. Rasa ketakutan Evan semakin besar, takut menghadapi kenyataan bagaimana kalau memang anak yang di kandungan Dara itu anaknya?


"Ya tuhan, jangan berikan aku cobaan yang berat lagi, aku sudah cukup lelah, izinkan aku bahagia dengan istriku. Jangan biarkan rumah tangga kami tergoyah lagi." Ucap Evan lirih.


"Sepertinya aku harus menemui Dara dan Erik ke rumah sakit sekarang, aku yakin mereka masih ada di sana."


Evan--pun berajak dari kursi kebesarannya, ia harus bergerak cepak, memastikan semuanya. Jangan ada kesalah pahaman lagi, jangan sampai ia menyakiti hati istrinya lagi.


Evan--pun meninggalkan kantornya, ia melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Sebelumnya Evan sudah bertanya kepada orang kepercayaannya, yang ia tugas untuk menyelediki Dara dan Erik.


Sekitar menempuh perjalan satu jam, Evan akhirnya sampai di rumah sakit tersebut. Terlebih dahulu ia bertanya kepada petugas rumah sakit, dimana ruangan atas nama mamah Anita, karna Evan yakin yang sakit itu mamah Anita.


Setelah mendapatkan informasi tersebut, Evan langsung menuju ruang rawat mamah Anita. Namun sesampainya di sana, ruangan tersebut kosong.


"Dimana mereka? Apa mereka sudah pulang?" Erik bertanya-tanya. Kebetulan ada suster yang masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Sus, maaf pasien yang bernama Anita dimana ya? Apa mereka sudah pulang?" Tanya Evan kepada suster tersebut.


"Oh ibu Anita, saat ini beliau tengah menjalankan operasi," jawab suster tersebut, dengan ramah.


"Operasi? Sebenarnya sakit apa mamah Anita? sampai ia harus di operasi?" batin Evan.


"Oh, kalau ruangan operasi-nya sebelah mana sus?" tanya Evan lagi.


"Dari sini, bapak jalan lurus saja, nanti belok kiri. Ruang operasi di sebelah sana pak!"


"Ya sudah, terima kasih sus!"

__ADS_1


"Sama-sama pak!"


Evan--pun langsung berjalan keluar dari ruangan rawat tersebut, ia langsung berjalan menuju ruangan operasi mamah Anita.


Setelah berjalan mengikuti arah yang di beritahukan oleh suster tadi, akhirnya Evan--pun sampai. Ia melihat Erik dan Dara yang tengah duduk di depan ruangan operasi tersebut. Namun tak lama kemudian, pintu itu terbuka, seorang dokter terlihat keluar dari ruangan itu. Erik dan Dara terlihat menghampiri dokter tersebut.


Evan tak menghampiri mereka, ia bersembunyi di balik tihang, sambil mendengarkan percakapan Erik, Dara dan dokter tersebut.


"Dok bagaimana keadaan mamah saya?" Suara Erik terdengar bertanya kepada dokter tersebut.


"Maaf pak, kami sudah melakukan sebisa mungkin, melakukan yang terbaik, namun sayangnya tuhan berhendak lain. Ibu Anita tidak bisa di selamatkan, karna saat tengah melakukan operasi keadaan beliau berubah drastis menjadi kritis!" jawab dokter tersebut.


"Apa? Maksud dokter, ma---mamah saya meninggal?"


"Iya pak, bapak dan ibu yang tabah ya! Ini semua sudah kehendak yang maha kuasa. Saya permisi." Dokter tersebut berlalu dari hadapan Erik dan Dara.


Erik menangis sejadi-jadinya, Dara mencoba menenangkan suaminya itu. Sementara itu Evan tak kalah terkejut saat mendengar semuanya. Namun Evan masih setia dalam persembunyian.


"Sabar mas, semua ini sudah kehendak Tuhan. Ini yang terbaik untuk mamah, setelah ini mamah tidak akan merasakan kesakitannya lagi, kita doakan mamah agar di tempat, di tempat yang terbaik di sisinya." ucap Dara, wanita itu--pun ikut merasakan kesedihan Erik. Walau bagaimana--pun Dara dan ini sudah dekat. Sudah seperti anak dan ibu. Dara sangat merasa kehilangan.


"Tapi aku belum bisa membahagiakan mamah di masa terakhirnya Dara, kenapa mamah begitu cepat meninggalkan aku." Erik memeluk Dara, ia menumpahkan kesemua penyesalan dan kesedihannya.


Erik menyesali semuanya, di masa-masa terkahir hidup bersama mamahnya, ia tidak bisa memberikan kehidupan yang layak untuk mamah Anita, tinggal di tempat kumuh, makan seadaanya. Walaupun Anita tidak pernah mengeluh namun sebagai anak Erik merasa ia sangat tidak berguna.


"Sudah mas, jangan seperti ini. Sabar, ikhlaskan semuanya. Biar mamah tenang."


Evan yang tak kuasa mendengar kesedihan Erik itupun, ia langsung keluar dari persembunyiannya. Evan langsung menghampiri Erik dan Dara.

__ADS_1


"Evan..." lirih Dara, yang melihat Evan berjalan kearah mereka.


Erik yang mendengar Dara menyebut nama Evan, ia langsung melepaskan pelukannya kepada Dara, Erik mengikuti pandangan Dara.


"Evan..." Erik langsung berjalan kearah Evan, yang sedang berjalan itu. Mereka langsung berpelukan.


"Mamah Van, mamah." Lirik Erik dengan sendu.


"Aku sudah tau kak, aku mendengar semuanya. Kita harus ikhlas kak. Biarkan mamah tenang," ucap Evan.


"Aku anak tidak berguna Van, aku tidak bisa membahagiakan mamah di masa hidupnya." Mereka melepaskan pelukannya.


"Jangan bicara seperti itu kak, semua sudah jalan Tuhan. Lebih baik kita segara urus jenazah mamah. Kakak tidak usah khawatir masalah biaya biar aku yang mengurusnya.


Erik menganggu pasrah, karna mamang ia tidak punya banyak uang untuk mengurus semuanya.


"Terima kasih Van!" ucap Erik tulus.


"Sama-sama kak, mamah Anita mamahku juga!"


Bersambung ...


Jangan lupa like, komen dan votenya.


Eh aku mau ngucapin terima kasih banyak buat kalain yang setia membaca karyaku ini, banyak yang bilang konflik terlalu di paksakan apa lah, maaf jika alurnya tidak seperti yang kalian mau, aku nulis ini udah bikin kerangka ceritanya dari awal sampai nanti endingnya, semuanya aku udah susun gak mungkin aku rubah. Dan ini emang novel dari tahun lalu aku buatnya, kenapa sampai sekarang belum tamat, jujur saja aku nulis novel ini itu berat banget, karna banyak konfliknya. Tapi itu tantang tersendiri buat aku.


Doakan semoga aku bisa cepat nyelesaiannya ya.

__ADS_1


Sehat-sehat buat kalain semua. I love you sekebon cabe..


Terima kasih.


__ADS_2