
Evan menyuruh orang kepercayaannya untuk mengurus semua administrasi rumah sakit, menyuruh pihak rumah sakit segera memandikan dan membungkus jenazah mamah Anita.
Tak lupa Evan mengabari papa Edward juga istrinya Byanca. Mengabarkan kabar duka tersebut. Mereka semua terkejut, secepat ini Anita meninggalkan dunia.
Kini semua sudah berada di pemakaman, semua orang terlihat sudah berkumpul untuk mengantarkan Anita ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Erik masih terlihat menitihkan air matanya, membuat semua orang merasa iba kepadanya. Jenazah Anita--pun di kebumikan. Ustad memimpin doa penutup. Kemudian satu persatu pelayad yang mengantarkan Anita mulai berajak dari pemakaman itu satu persatu.
Kini di sana hanya ada Erik, Dara, Byanca, Evan dan papa Edward, kedua orang tua Byanca--pun ada di sana.
Erik menangis lirih sambil memeluk nisan mamahnya.
"Mah maafkan Erik, semoga mamah tenang di sana," ucap Erik, ia mencium nisan mamahnya itu dengan dalam. Dara mengusap punggung suaminya, ia mencoba menenangkan Erik.
Namun di sisi lain, kedua orang tua Byanca dan papa Edward, mereka bertanya-tanya dalam hatinya. Apa lagi mereka melihat sosok Dara di sana, dan wanita itu terlihat sedang hamil.
"Sudah kak, mamah sudah tenang di sana, sebaiknya kita pulang." Ajak Evan.
Erik menganggukan kepalanya, ia berdiri di bantu oleh Dara.
Mereka semua meninggalkan pemakaman tersebut. Mengantar Erik dan Dara ke rumahnya.
Evan dan Byanca, mengajak Erik dan Dara ke mobil mereka, sedangkan papa Edward dan kedua orang tua Byanca menaiki satu mobil lainnya. Mobil Evan melaju terlebih dahulu, di ikuti oleh mobil orang tua mereka.
Dalam perjalan.
"Pak Edward..." panggil Papa Jonathan.
"Apakah Dara yang bapak maksud itu Dara yang bersama Erik, maksud saya yang pernah menjebak Evan itu dia?" lanjut papa Jonathan bertanya.
"Iya," papa Edward menghelai nafasnya. Ia tau apa yang sedang di pikirkan besannya itu, dia--pun sama sedang memikirkan hal itu.
__ADS_1
"Pah, mamah takut. Bagaimana kalau anak yang di kandung Dara itu anak Evan. Byanca pasti tidak akan bisa menerimanya Pah, Byanca pasti terluka lagi. Byanca pasti bersedih," timpal mamah Lyli, sebagai seorang wanita, apa lagi seorang ibu, tentu saja ia sangat mengkhawatirkan Byanca.
"Semoga yang kita pikirkan itu tidak benar Bu," sahut papa Edward.
"Tidak benar bagaimana pak? Apa anda tidak lihat usia kehamilan Byanca dan Dara tidak jauh berbeda, dilihat dari besar perut mereka!" mamah Lyli sedikit memekikkan suara.
"Sabar mah, kita tanyakan saja nanti kebenarannya sama mereka!" pungkas Papa Jonathan suaminya.
Sementara itu di mobil Evan. Evan sebelah tangan Evan menggenggam tangan Byanca, sambil fokus menyetir. Melihat sikap Byanca ada kekhawatiran di benak dan hati Evan, Evan tau apa yang kini sedang istrinya itu pikirkan. Namun Evan berusaha menenangkan Byanca, sebelum ia nantinya meminta penjelasan kebenaranya kepada Dara.
Sedangkan Dara dan Erik, Dara bersikap biasa-biasa saja, tepatnya pura-pura biasa-biasa saja. Ingin rasanya Dara menyapa Byanca, namun mengingat apa yang sudah pernah ia lakukan kepada Evan, membuat nyali Dara menciut. Malu rasanya Dara pada Byanca. Walau--pun Dara tidak tau apa Byanca sudah mengetahuinya atau tidak? Yang pasti Dara tidak berani berbicara. Dan Erik, laki-laki itu masih hanyut dalam kesedihannya.
"Ya tuhan, Dara hamil. Apa anak yang dikandung Dara anaknya mas Evan. Tuhan cobaan apa lagi ini? Aku baru saja memulai kembali pernikahan ini, apa badai akan menghantamnya kembali," gumam Byanca.
Ditengah gumamnya itu, Byanca mencoba tetap tenang. Ia belum tau kebenarannya, sebisa mungkin Byanca berpikir jernih, positif thinking. Bukannya Dara kini sudah menjadi istri Erik, bisa jadi itu anak Erik. Ya Byanca harap itu anak Erik bukan anak Evan.
"Dara apa kabar?" Tanya Byanca, menoleh kearah Dara Byanca menarik ujung bibirnya tersenyum. Ia mencoba mencairkan suasana canggung tersebut.
"Apa Byanca tidak mengetahui semuanya? Apa Evan menyembunyikan semuanya dari Byanca. Byanca maafkan aku!" lanjut Dara dalam hatinya.
"Pantas saja aku tidak pernah melihatmu, ternyata kamu sudah menikah dengan kak Erik. Sepertinya kalian sebentar lagi akan mempunyai baby!" ujar Byanca.
"Aku tak berani menampakan diri dihadapanmu by, aku malu. Aku teman yang sangat buruk untukmu. Aku sudah menghianatimu, maafkan aku By..."
"Iya, kalian juga ya?" jawab Dara.
"Iya Alhamdulillah, berapa usia kandunganmu?" tanya Byanca lagi.
"Menginjak usia delapan bulan."
"Delapan bulan, usia kandunganku baru tujuh bulan." Byanca bertanya-tanya dalam hatinya, kenapa kandungan Dara lebih tua darinya?
__ADS_1
Byanca hanya menganggukan kepalanya. Namun entah kenapa ada rasa lega di hatinya. Karna kemungkinan besar, anak yang sedang Dara kandung itu bukan anak dari suaminya, karna jika itu anak dari Evan, harusnya kandungan Dara lebih muda dari Byanca, ini malah sebaliknya.
Setelah hampir empat puluh menit melajukan mobil tersebut. Akhirnya mereka sampai di kediaman Erik dan Dara.
Mereka begitu terkejut, saat melihat keadaan Erik dan Dara. Tempat tinggal yang sempit, lingkungan kumuh. Bagaimana bisa mereka tinggal di tempat yang seperti ini?
"Maaf, jika tempatnya kurang nyaman. Tapi inilah keadaan kami," ujar Dara, mereka kini sudah di dalam rumah kontrakan tersebut.
"Tidak usah di pikirkan," sahut mamah Lyli.
"Sejak kapan kamu tinggal di tempat seperti ini Erik? Pantas saja mamahmu sakit-sakitan, harusnya kamu memberikan tempat tinggal yang nyaman untuk mamahmu itu," ucap papa Edward penuh penekanan.
"Maaf Pah, tapi hanya ini yang bisa Erik berikan kepada mamah. Erik sudah berusaha keras untuk semua ini," jawab Erik lirih, ia tak merasa marah dengan ucapan papa Edward, memang pada kenyataannya dia tidak bisa membahagiakan sang mamah diakhir hanyatnya.
Papa Edward menatap tak percaya dengan ucapan Erik barusan, benarkah ini Erik? Jika Erik yang dulu pasti dia akan marah jika papa Edward berkata seperti itu. Erik benar-benar sudah berubah.
"Pah, jangan bicara seperti itu," ujar Evan, bisa-bisanya papanya itu berkata pedas seperti itu, di saat situasi seperti ini.
"Tidak Evan, yang papa katakan benar. Aku memang anak yang tak berguna, aku tidak bisa membahagiakan mamah di masa hidupnya, memberikan tempat yang layak."
Semua orang terlihat semakin iba kepada Erik, namun di sisi lain mereka merasa senang, karna Erik yang sekarang jauh berbeda dengan Erik yang dulu mereka kenal, tidak ada keangkuhan sama sekali.
"Ya sudah kemasi barang-barang kalain ikutlah bersamaku!" titah papa Edward.
Mereka semua langsung membulatkan matanya, manatap Edward penuh tanya. Benarkah, bukannya Edward sangat tidak menyukai Erik. Memang benar tuhan maha membolak-balikan hati manusia.
Bersambung...
Jangan lupa like, komen dan votenya.
Terima kasih.
__ADS_1