
Setelah berjam-jam Evan merenungi nasibnya itu, seolah kini memang takdir sedang mempermainkan Evan, dengan berjuta-juta penyesalan Evan menumpahkan kebodohannya itu dengan air mata yang terus membanjiri wajahnya. Evan pun memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya, pulang masih dengan penyesalan.
Evan melangkah gontai menelusuri lorong apartemen menuju lift. Dengan tangan yang lemas lesu, Evan menekan tombol lift, tidak terlihat ada ke semangatan dari laki-laki tampan itu, bahkan kini penampilannya sangat-sangat berantakan. Tak lama kemudian lift terbuka, Evan masuk ke dalamnya. Tatapan Evan kosong melompong, seperti kehidupannya kini, tanpa Byanca, wanita yang sangat-sangat ia cintai, namun dengan bodohnya ia melukai hati wanita itu.
Ting
Pintu lift terbuka, kini Evan sudah sampai di loby apartemen-nya itu, Evan melangkahkan kakinya keluar dari lift, Evan tak menghiraukan bisikan-bisakan orang-orang yang berada di sekitar loby itu yang memperhatikannya dengan keadaan kacau balau seperti itu.
Seorang laki-laki terlihat mendekat kearah Evan, dia adalah orang yang tugaskan untuk mengawasi Evan, oleh papa-nya Edward. Melihat Evan yang sangat membuat laki-laki itu meresa khawatir dan iba.
"Tuan muda, mau kemana?" Tanya laki-laki itu, membungkuk hormat kepada majikannya.
"Antarkan saya pulang." Jawab Evan, berucap tanpa menatap laki-laki yang ada di hadapannya itu.
"Baik tuan muda."
Mereka pun berjalan beriringan ke luar dari gedung apartemen itu.
"Silahkan tuan muda." Laki-laki itu membukakan pintu mobil, mempersilahkan Evan masuk.
__ADS_1
Tak ada jawaban dari Evan, ia langsung masuk kedalam mobil, laki-laki itu pun menutup kembali pintu mobil, lalu menyusul masuk ke dalam mobil, duduk di kursi mengemudi. Mobil itu pun melaju, meninggalkan gedung apartemen tersebut.
Laki-laki yang bernama Arsan itu pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali ia melihat Evan dari pantulan kaca spion kecil yang berada di depannya. Rasa iba muncul di hati Arsan, melihat Evan yang terlihat begitu terpuruk. Arsan sudah mengenal cukup lama tuan mudanya itu. Baru kali ini ia melihat Evan benar-benar dalam keadaan yang seperti sekarang.
"Semoga tuan muda, di berikan kesabaran."--Batin Arsan.
Tak lama kemudian, mereka pun sampai di depan rumah Edward. Arsan dengan gesit membukakan pintu mobil untuk Evan. Evan pun ke luar dari mobil itu, ia langsung berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Edward terlihat sudah menunggu kedatangan putranya itu. Edward begitu sangat terkejut melihat penampilan Evan yang sangat berantakan.
"Pah..." Ucap Evan lirih, sambil menghambur papa-nya itu. Edward mengelus bahu Evan pelan.
"Semuanya takdir yang sudah di gariskan Evan, kamu harus bisa mencoba menerima kenyataan ini." Ujar Edward.
Edward tidak bisa berkata apa-apa, jika ia boleh mengeluh pun, ia pasti mengeluh seperti Evan, kenapa takdir begitu kejam kepada putranya itu. Namun Edward mencoba menerima semuanya, ini semua sudah kehendak Tuhan, Edward tidak bisa apa-apa. Saat ini ia hanya bisa memberi dukungan kepada putranya itu. Agar Evan bisa bangkit dari keterpurukan ini.
"Byanca tidak mau memaafkan aku Pah!! Evan harus bagaimana? Evan sangat mencintai Byanca Pah." Lanjut Evan.
"Dengan papah nak, jika kalian berjodoh suatu saat nanti kalian pasti akan kembali." Ujar Edward mencoba menenangkan putranya itu.
__ADS_1
"Tapi aku sudah mentalak tiga Byanca Pah!! Itu tidak mungkin. Walau pun suatu saat nanti Byanca memaafkan Evan, dan menerima Evan kembali, bukankah Byanca harus menikah terlebih dahulu bersama orang lain. Evan tidak rela Pah."
Edward mengeleng-gelengkan kepalanya, bagaimana anaknya sebodoh ini. Dia mengucapkan talak tapi tidak tau syarat dan hukumnya talak. Tapi Edward tidak terlalu menyalahkan Evan atas ke tidak taunya itu. Edward sadar ini salahnya, karna dulu tidak terlalu menuntun anaknya untuk memperdalam ilmu agamanya. Dulu Edward di sibukkan dengan duniawi-nya. Sehingga ia lalay mendidik Evan dengan baik.
"Tidak Evan, dalam agama kita. Jika seorang laki-laki mengucapkan talak tiga, pada waktu bersamaan itu tetap saja jatuhnya talak satu, tidak talak tiga." Jelas Edward.
"Jadi apa masih ada kemungkinan Evan dan Byanca kembali?" Wajah Evan terlihat sedikit berseri.
Edward hanya memberikan senyuman menjawab pertanyaan putranya itu.
"Lebih baik kamu bersih-bersih sana, makan terus istirahat. Kamu tidak akan seperti ini terus bukan?"
"Iya pah, Evan akan mencoba bangkit, memperbaiki semuanya."
"Ya sudah sana." Evan mengangguk, lalu berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Secerca harapan timbul kembali di hatinya, semangat yang memudar perlahan mulai menyatu kembali dirinya. Masih ada harapan untuk kembali, dan bagaimana pun caranya Evan akan mencoba memperjuangkan cintanya kepada Byanca. Tak perduli nanti penolakan Byanca, yang pasti Evan tidak akan menyerah sampai ia bisa kembali pada Byanca, dan hidup bersama selamanya, bahagia dengan wanita yang di cintainya itu.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan komen.
Terima kasih.