SESAL USAI TALAK

SESAL USAI TALAK
Part 71. MENANTI KELAHIRAN


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu. Akhirnya bulan yang di nanti-nanti Byanca dan Evan kini sudah tiba, bulan ini adalah bulan dimana seharusnya Byanca melahirkan. Perkiraan dokter Byanca akan melahirkan sekitar satu Minggu lagi.


Byanca sudah tidak sabar, menanti kebahagian tersebut. Apa lagi melihat Dara yang sudah melahirkan bayinya, satu bulan yang lalu, bayi Dara dan Erik berjenis kelamin perempuan. Bayinya sangat lucu dan menggemaskan. Dara dan Erik kini sudah tinggal di rumah yang layak, walaupun tak semewah rumah Evan dan Byanca. Erik bangga karna membelinya dengan hasil jeri payahnya sendiri. Erik masih berkerja di restoran tempatnya berkerja, namun bukan sebagai pelayan resto, tapi sebagai manajer plus pemilik resto tersebut. Evan memberikan resto itu kepada kakak tirinya tersebut, awalnya Erik menolak, namun Evan memaksanya. Dan tak di sangka resto tersebut langsung berkembang pesat di kelola oleh Erik, bahkan beberapa bulan ini Erik sudah berhasil membuka berapa cabang di luar kota. Memang benar jika ada kemauan, tuhan pasti memberi kemudahan dan itulah yang Erik rasakan, ia tak menyangka bisa berada di titik yang sekarang.


***


Sedangkan Evan dan Byanca kini mereka sudah tidak tinggal di apartemen. Kini mereka sudah pindah ke rumah mewah baru mereka.


Pagi ini Evan dan Byanca masih betah berbaring di atas kasur size-king mereka. Matanya mereka sudah terbuka, namun mereka merasa enggan untuk berajak dari tempat ternyaman mereka itu. Apa lagi suasana diluar sangat mendukung, rintik hujan di pagi hari membuat suasana semakin dingin ditambah AC yang menyala. Membuat pasangan suami itu semakin betah berpelukan.


"Mas kamu yakin gak ngantor?" Tanya Byanca.


"Enggak sayang, mas udah bilang selama 2 Minggu ke depan mas cuti," jawab Evan. Seraya mengelus kepala Byanca penuh cinta.


"Kenapa lama sekali mas?"


"Lah emangnya kenapa? Terserah mas dong, lagian itukan perusahaan milik mas, mau cuti sampai tahun depan juga gak akan ada yang larang!''


"Kalau cuti sampai tahun depan, bisa bangkrut dong mas?" Byanca terkekeh mendengar penuturan suaminya itu.


"Eh jangan ngomong gitu, ucapan adalah doa. Kalau mas bangkrut nanti kamu makan apa dong? Makan cinta mau?"


"Hahaha," Byanca tertawa, "emang cinta bisa bikin kenyang mas?"


"Nah makanya jangan bicara sembarangan!''


"Iya-iya maaf, dan makanya juga, mas jangan cuti lama-lama." Ucap Byanca tak mau kalah.


"Dasar bisa aja kamu," Evan mencubit gemas hidung istrinya itu.


"Aww, sakit tau mas!" Evan hanya tersenyum tanpa dosa mendengar rengekan Byanca tersebut.


"Mas itu cuman mau jagain kamu sayang. Kelahiran kamukan sudah dekat, kalau kamu mulai mules, nanti siapa yang bantu kalau mas lagi di kantor hemm?"


"Iya-iya mas! Makasih."


"Makasih untuk apa?"


"Tau ah!" Byanca menatap malas suaminya, yang pura-pura tidak mengerti ucapnya.


"Mas aku laper!" Lanjut Byanca.


"Ya sudah kamu tunggu di sini, mas buatkan kamu sarapannya. Mau sarapan apa sayang?"

__ADS_1


"Apa saja mas, yang penting kenyang!" Jawab Byanca sambil memberikan cengiran.


"Eh mas, nasi goreng saja. Tapi aku mau mas yang masakin nasi gorengnya, gak mau di masakin sama bibi," ujar Byanca.


"Oke siap, nyonya." Evan memberikan hormat kepada Byanca. Lalu ia berajak dari kasur.


"Sayang kamu mau kemana?" Evan terheran melihat istrinya yang ikut bangun juga.


"Mau ikut kamulah mas,"


"Jangan sayang tunggu saja di sini, kalau sudah siap nanti mas bawa ke sini, kamu jangan banyak gerak sayang!"


"Mas gak ingat apa kata dokter hmm? Kalau aku itu harus banyak gerak, biar nanti bisa mempermudah persalinannya!"


Evan menghelai nafasnya, lalu mengangguk pasrah.


"Baiklah, ayo! Tapi kamu liatin saja jangan ikut masak."


"Iya mas, bawel banget sih."


"Ya sudah ayo," Evan mengulurkan tanganya kepada Byanca, Byanca meraih tangan suaminya itu. Lalu mereka--pun keluar dari kamar tersebut, menuju dapur.


Byanca melihat suaminya yang terlihat sibuk membuatkan nasi goreng untuk sarapan mereka. Byanca menahan tawanya melihat Evan yang memasak dengan begitu seriusnya.


Kurang lebih setengah jam, akhirnya Evan selesai. Ia membawa satu piring nasi goreng ke meja makan, dengan senyuman yang puas, Evan menyajikannya untuk sang istri tercinta.


"Selamat makan sayang!"


"Wah, keliatannya enak mas," Byanca menatap nasi goreng itu, dari bentuknya terlihat sangat menggugah selera. Bagaimana dengan rasanya? Biasanya sih, nasi goreng buatan Evan suka keasinan, kalau tidak keasinan sedikit gosong.


"Ya sudah ayo dimakan," titah Evan. Ia bersedekap melihat Byanca yang mulai memakan nasi gorengnya.


Waw, Byanca tak percaya. Nasi goreng buatan suaminya, kali ini benar-benar luar biasa. Rasanya pas dan tidak gosong juga. Byanca melahap nasi goreng itu dengan begitu semangat.


Namun baru lima sendok ia menyuapkan nasi goreng tersebut, tiba-tiba perutnya terasa sakit. Byanca menghentikan makannya, ia menetapkan sendok tersebut. Tanganya memegangi perutnya yang sakit itu.


"Aww, mas..."


Evan terkejut, ia bangkit dari duduknya. Ia langsung menghampiri istrinya itu.


"Sayang kamu kenapa?"


"Sakit mas, aww perutku sakit sekali." Jawab Byanca sambil berusaha menahan sakit di perutnya semakin terasa menusuk.

__ADS_1


Evan terlihat benar-benar begitu panik, harus bagaimana sekarang? Kenapa tiba-tiba Byanca merasakan perutnya sakit, apa jangan-jangan karna nasi goreng yang ia buat. Evan mencoba menenangkan Byanca, lalu ia menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.


Rasanya enak kok, malah ini rasanya jauh lebih enak di bandingkan nasi goreng yang pernah ia buat, tapi kenapa istrinya, malam sakit perut. Evan tidak memasukan bahan-bahan yang aneh kok pada nasi goreng itu.


"Mas, kanapa kamu masih diam. Aww sakit mas!" Teriak Byanca.


"Lalu aku harus bagaimana sayang?"


"Bibi, Bi...." Lanjut Evan ia memanggil. Asisten rumah tangganya.


"Iya tuan ada apa?"


"Ya Allah tuan, nyonya kenapa?" Bibi terlihat panik melihat nyonya yang terlihat kesakitan, sambil memegangi perutnya.


"Bi saya harus bagaimana mana?" Tanya Evan.


"Kita bawa ke rumah sakit sekarang tuan. Seperti nyonya akan melahirkan!"


"Hah melahirkan? Tapi kata dokter masih seminggu lagi bi,"


"Tuan itu hanya perkiraan. Bisa saja lahir lebih awal atau lewat dari waktu yang di perkirakan dokter."


"Mas, Bi. Cepat... Sakit sekali," ucap Byanca.


Mereka berdua langsung sigap, Evan mengangkat tubuh istrinya itu, menuju mobil. Bibi art mengikuti majikannya itu dari belakang.


"Bi ambilkan tas di kamar saya. Itu perlengkapan bayi bi,"


"Baik nyonya." Bibi langsung memutar haluan, ia berjalan sedikit berlari menuju kamar Byanca.


Byanca kini sudah berada di dalam mobil, tak lama bibi art terlihat kembali membawa tas perlengkapan bayi yang sudah di siapkan tempo hari olehnya.


"Ayo cepat tuan," pinta bibi art yang kini sudah duduk di samping Byanca.


Evan mengangguk, ia langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


'Ya tuhan, aku kira Byanca sakit perutnya itu karna keracunan, nasi goreng yang aku buat. Ternyata istriku akan melahirkan. Ya tuhan semoga semuanya diberikan kelancaran,' gunam Evan berdoa dalam hatinya.


Bersambung...


Maaf baru sempat up, real life sibuk sekali guys.


Jangan lupa like, komen, Votenya ya.

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2