
Setelah berkutat hampir satu jam, melintasi jalan raya yang cukup padat si sore hari itu, akhirnya Evan pun sampai di kediamannya.
Evan langsung mencari sosok sang Ayah, seperti niat awalnya, untuk mengucapkan terima kasih kepada sang Ayah, Edward.
Namun ketika Evan akan menaiki anak tangga, menuju kamar papahnya, Anita dan Erik memanggilnya.
"Evan.."
Evan pun menghentikan langkahnya, dan menoleh kearah ke dua orang tersebut.
"Ada apa?"
Tanpa menjawab pertanyaan Evan tersebut, Anita dan Erik langsung bersujud di kaki Evan.
"Evan maafkan kami." Ucap Anita, ibu tirinya sambil terisak tangis.
Evan terdiam, ia merasa bingung. Ada apa sebenarnya? Kenapa tiba-tiba ibu dan kakak tirinya, bersujud di kaki Evan, dan meminta maaf.
"Kalian ini kenapa?"
"Maafkan kami Evan, maaf tolong jangan usir kami." Anita memeluk erat kaki Evan.
"Ibu, kak. Kalian ini kenapa? Jelaskan padaku ada apa ini?"
"Berdiri Bu, kak. Jangan seperti ini." Sambung Evan. Namun keduanya enggan untuk melepaskan kaki Evan. Membuat Evan kesal.
__ADS_1
"BERDIRI." Teriak Evan.
Akhirnya Anita dan Erik pun menuruti permintaan Evan tersebut, ia tak mau membuat Evan lebih murka. Bagaimana pun caranya mereka tidak mau jika harus pergi dari rumah tersebut. Anita dan Erik kini sudah berdiri, dengan kepala yang tertunduk.
"Jelaskan ada apa ini?" Tanya Evan lagi. Namun kedua-nya masih tak bergeming. Tak ada yang berani membuka suaranya.
"Anita, Erik. Cepat jelaskan!" Suara tegas, terdengar menghampiri mereka. Edward mendekat kearah mereka.
"Pah ada apa ini?"
Edward tersenyum miring, namun di balik senyumannya itu, ada raut wajah yang sulit diartikan.
"CEPAT." Teriak Edward, kepada Anita dan Erik.
Deg....
Napas Evan seketika memburu, wajah penuh amarah terlihat jelas di sana, Evan mengepalkan ke dua tangannya.
"Van, maafin kami. Kami khilaf.." Ucap Erik, dengan wajah penuh penyesalan.
Bruuug.. Bruuug... Bruuug...
Tiga bogem mentah mendarat di wajah Erik. Evan melampiaskan kemarahannya kepada kakak tirinya itu.
"Berengs*k, Kakak macam apa kau hah? Tega-teganya menghancurkan pernikahan adiknya sendiri." Teriak Evan, dengan penuh amarah.
__ADS_1
"Pergi kalian dari sini. Pergi.." Lanjut teriaknya lagi, mengusir ibu dan kakak tirinya itu. Lalu Evan menyeret kedua orang itu, keluar rumahnya. Lalu menuntup pintu rumah itu dengan keras dan menguncinya.
Di luar Anita dan Erik terus menggedor-gedor pintu, sambil terus memohon agar Evan dan Edward memaafkan mereka. Namun Security rumah tersebut, segara menyeret mereka keluar.
Evan tertunduk lemas, mendapati kenyataan tersebut.
Kenapa Anita dan Erik tega melakukan semua ini kepadanya. Edward terlihat mendekat kearah Evan, menepuk bahu Evan pelan.
"Pah." Evan langsung memeluk Edward, menumpahkan air matanya di pelukan sang Ayah.
"Bagaimana bisa mereka melakukan ini padaku Pah." Ucap Evan lirih.
"Ikut papah, ada yang ingin papah tunjukan." Pinta Edward, sambil berjalan. Evan pun mengikuti langkah sang ayah tersebut.
Edward memperlihatkan, semua bukti rekaman CCTV kepada Evan. Penyesalan kembali Evan rasakan, semua yang ia tuduhkan kepada Byanca ternyata salah. Dirinya sudah gelap mata, bahkan sudah menjatuhkan talak tiga kepada Byanca. Bahkan Evan sudah mencaci maki, menghina Byanca dengan ucapan yang sangat menyakitkan. Sungguh Evan sangat-sangat menyesali semuanya.
Yang di ucapakan Byanca memang benar, bahwa ia tidak pernah menghianati dirinya, kenapa? Kenapa pada saat itu Evan tak mendengarkan istrinya. Evan lebih percaya kepada dua orang iblis itu. Bahkan Evan mengabaikan ucapan Edward, orang tuanya sendiri.
Evan tidak bisa membayangkan, bagaimana perasaan Byanca pada saat itu, Evan benar-benar menyesal. Pasti Byanca sangat terluka saat itu, ia sudah menjatuhkan talak tiga kepada Byanca, dan melontarkan kata-kata kasar kepadanya.
"Byanca maafkan aku, aku menyesal. Maafkan aku by.
Aku lebih percaya kepada orang lain dari pada istriku sendiri waktu itu."---Batin Evan.
Edward yang melihat putranya itu pun merasa iba, tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa. Ini semua memang kesalahan Evan, seharusnya Evan bisa mengontrol dirinya pada saat itu. Nasi sudah menjadi bubur, memang penyesalan selalu datang belakangan.
__ADS_1