SESAL USAI TALAK

SESAL USAI TALAK
Part 67. TANDA ITU?


__ADS_3

Pagi harinya, Dara duduk termenung sendiri di dalam kamarnya, usai menyelesaikan tugasnya melayani Erik menyiapkan sarapan dan lainnya, dan Erik kini sudah berangkat menuju tempat kerjanya.


Usai melakukan pergulatan panas semalam, hati dan pikiran Dara merasa tidak tenang, Dara tak menyesali hal semalam, karna memang dirinya--pun menginginkannya, tapi ada satu hal yang mengganjal di hati Dara, membuatnya sangat gelisah serta ketakutan.


"Tanda itu?" ucap Dara lirih.


"Ya tuhan, kenapa tanda itu mirip sekali dengan laki-laki yang merenggut kesucianku pada waktu itu. Apa ini hanya kebetulan? Atau memang yang melakukan itu mas Erik?" Ucap Dara lagi.


Ya Dara semalam Dara melihat tanda tahi lalat, yang berada di punggung Erik, tanda itu sama persis dengan laki-laki yang telah membuatnya hamil. Itulah yang mengganjal di hati Dara sekarang. Dara takut! Jika benar Erik yang sudah merenggut kesuciannya.


Dara sangat membenci laki-laki itu, dan jika benar itu Erik, Dara akan lebih membencinya. Apakah Erik sudah mengetahui semuanya? Dan dia berpura-pura tidak tau? Apa ini alasan Erik menikahi Dara?


"Aku harus tanyakan hal ini nanti kepada mas Erik langsung!" ucap Dara.


Sementara itu, Erik kini sudah berada di tempat kerjanya. Wajah Erik terlihat sangat berseri-seri. Bagaimana tidak? Semalam dia menghabiskan waktu dengan istrinya melewati malah yang membawanya melayang sampai ke nirwana.


Setalah kejadian semalam, cinta Erik kepada Dara semakin bertambah, dalam sedalam, **********. Erik berjanji pada dirinya sendiri, ia akan selalu membahagiakan Dara dan juga calon anak mereka. Erik akan menjaga mereka sekuat jiwa dan raganya.


Anak mereka? Ya memang benar, anak itu anak Erik bukan? Tapi Dara, tidak mengetahuinya. Erik tidak akan memberitahu Dara, tekadnya sudah bulat. Karna Erik tau jika ia memberi tahu Dara, bom waktu pasti akan meledak pada saat itu juga, Erik tidak mau kehilangan Dara dan calon anak mereka. Selama tidak ada yang tau masalah ini, semuanya aman, pikir Erik.


Hari sudah mulai gelap, sebentar lagi waktu kerja Erik habis, dengan penuh semangat Erik segara menyelesaikan pekerjaannya, ia sudah tak sabar ingin cepat pulang, ingin cepat bertemu dengan istrinya, tidak bertemu beberapa jam saja, membuat Erik merasakan rindu yang teramat berat pada istrinya itu.


Resto tempat Erik sudah di tutup, tidak ada lagi pelayan yang di sana, Erik kini tengah mengelap semua meja-meja.


"kak Erik," panggil Evan. Ia baru saja memasuki resto tersebut.


"Loh Evan, ngapain kamu disini? Restonya sudah tutup!" ujar Erik.


"Benarkah? Ya aku telat dong. Padahal Byanca ingin makanan dari resto ini!" Evan memasang wajah masam, sebenarnya Evan berbohong kepada Erik, ia memang sengaja ingin bertemu dengan Erik, ada hal yang ingin Evan bicarakan kepada Erik. Karna Erik tidak tau jika Evan pemilik resto tersebut, jadi Erik tidak curiga dengan kedatangan Evan.


"Wah Byanca ngidam Van? Tapi sayang sekali kita sudah tutup. Besok saja datang kesini lagi."


"Yah sayang sakali ya kak. Kakak sekarang kerja di sini?"


"Iya Van, aku bersyukur bisa diterima di kerja di sini, bosnya sangat baik," jawab Erik. Tanganya masih sibuk mengelap meja-meja. Evan mengangguk-anggukan kepalanya.


"Bagiamana kabar Dara?" Tanya Evan basa-basi, sebelum ia membicarakan hal inti pada Erik tersebut.

__ADS_1


"Baik Van, Byanca bagaimana?"


"Baik."


"Syukurlah, lalu bagaimana dengan papa?"


"Papa juga baik. Oh iya kak papa sangat kesepian, apa kak tidak bisa merubah keputusan kak buat tinggal sama papa?"


"Tidak Van, aku tidak mau merepotkan kalian."


"Oh iya kak, ada hal penting ya ingin aku bicarakan!"


"Hal penting? Apa Van? Bicara saja!"


"Nanti saja, kakak bereskan saja pekerjaan kakak. Aku akan menunggu kakak di mobil, biar aku antarkan kakak pulang sekalian."


"Tidak usah Van, aku bisa pulang sendiri, bukankah kamu sedang mencari makanan untuk Byanca?"


"Gampang itu kak, nanti aku akan kirim pesan pada istriku."


"Santai saja kak."


"Baiklah terserah kamu saja. Lalu apa yang akan kamu bicarakan?" Tanya Erik, ia sangat penasaran. Apa sebenarnya yang akan dibicarakan oleh Evan.


"Nanti saja kak, aku tunggu di mobil ya!" ucap Evan, ia langsung berlalu dari hadapan Erik.


Erik--pun dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya itu.


Evan kini sudah berada di dalam mobilnya menunggu Erik. Beberapa menit kemudian, Erik terlihat keluar dari resto tersebut, ia berjalan menuju mobil Evan, lalu masuk ke dalam mobil tersebut.


"Kita bicara sambil mengantarkan kakak pulang saja ya!" ucap Evan, ia mulai menyalakan mobilnya.


Erik mengangguk, lalu Evan--pun melajukan mobil tersebut, mobil Evan mulai membelah jalan raya, yang terlihat cukup ramai.


"Apa yang ingin kamu bicarakan Van?" Erik mengeluarkan suara, ia sudah sangat penasaran dengan apa yang akan Evan katakan.


"Ini tentang Dara kak!" jawab Erik, matanya masih fokus kejalanan.

__ADS_1


"Dara? Ada apa dengan Dara?" Erik menatap Evan penuh tanya.


"Apa Dara sudah tau semuanya?"


"Maksud kamu, tau apa?"


"Kak aku sudah tau semuanya, anak yang di kandung Dara itu anak kakakkan?"


Deg...


Erik terkejut, kenapa Evan bisa tau? Dari mana Evan tau masalah ini? Tidak, jangan sampai Evan memberi tahu Dara tentang kebenarannya.


"Eemm, ka--kamu tau dari mana?" Erik terlihat sangat gugup.


"Kak kau taukan papa bagaimana? Kita sudah menyeledikinya. Maaf bukannya kita ikut campur urusanmu, tapi kita hanya ingin tau kebenarannya saja!"


Erik terdiam, ya Erik tidak bisa menyalahkan Evan atau papa Edward, mereka menyelidiki semuanya, pasti ada alasannya. Mereka takut kalau Dara berbohong, mereka takut kalau Dara mengandung anak Evan, padahal semuanya tidak begitu. Dara berkata jujur dan pada kenyataan memang Erik--lah yang sudah menghamili Dara.


"Iya aku mengerti. Tapi aku mohon jangan beritahu Dara dulu," ucap Erik, memohon.


"Kami belum memberitahu siapa--pun kak, kau tenang saja. Hanya saja aku ingin mengingatkan kakak! Lebih baik kakak katakan yang sejujurnya kepada Dara, jangan sampai nanti kakak menyesal. Lebih baik Dara tau kebenaran dari kakak dari pada orang lain bukan?"


"Iya Evan aku tau. Tapi aku belum siap! Kamu taukan Dara pernah bilang kalau dia sangat membenci laki-laki itu, Dara pasti akan membenciku jika dia tau."


"Iya kak, tapi lebih baik jujur sekarang. Ingat kak, sepandai apa--pun kita menyembunyikan bangkai lama-lama bau busuknya akan tercium juga."


Erik langsung terdiam, ya yang di ucapkan oleh Evan memang benar. Tapi apakah Erik sanggup mengatakannya? Apakah bom waktu akan meledak dalam waktu dekat?


Bersambung...


Jangan lupa like, komen dan Votenya.


Maaf ya baru sempat up.


Kayanya gak jadi up 3 bab hari ini, tapi besok aku usahain ya.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2