SESAL USAI TALAK

SESAL USAI TALAK
Part 69. ANTARA CINTA DAN KEKECEWAAN


__ADS_3

Dara menangis pilu usai kepergian Erik. Ia menumpahkan semua air matanya. Kecewa tentu saja! Ia kecewa karna Erik sudah menyembunyikan semuanya. Andai saja Erik bicara dari awal mungkin Dara tidak akan seperti ini. Haruskan ia pergi meninggalkan Erik? Di sisi lain, rasa cintanya semakin hari semakin membesar kepada suaminya itu. Haruskah Dara memaafkan Erik begitu saja? Haruskan Dara membuanh egonya? Bukankah dengan Erik kini menjadi suaminya itu beruntung. Erik sudah mengambil mahkotanya, hingga dirinya hamil. Dan sekarang Erik sudah menjadi suaminya, Erik bahkan meyayanginya, mencintainya. Bukankah selama ini Dara ingin pertanggung jawaban dari laki-laki yang sudah menghamilinya itu, laki-laki itu Erik, bahkan Erik sudah menikahinya. Lalu apa yang diingkan Dara sekarang? Bercerai? Apa itu jalan yang terbaik, Dara sedang hamil, hamil anak Erik. Jika ia berpisah dengan Erik suatu hari nanti anaknya akan menjadi korban keegoisannya sendiri. Dan jika ia berpisah dengan Erik dia akan berlindung kepada siapa. Orang tua sudah tidak ada, keluarga tidak ada. Teman? Tidak ada. Ada Byanca, tapi tidak mungkin Dara melibatkan Byanca dalam hal rumah tangganya.


Tidak ada pilihan lain, Dara harus menerima semuanya. Memaafkan Erik, memberinya kesempatan dan memulai lagi dari awal. Iya benar, itu yang harus Dara lakukan! Tapi tunggu, kemana Erik pergi?


Dara tersadar, ia mengusap air matanya. Lalu mengambil ponselnya. Keputusan Dara kini sudah bulat, ia akan membuang egonya dan memperbaiki semuanya.


Namun beberapa kali Dara mencoba menghubungi Erik, dengan menelpon suaminya itu. Namun tidak ada sama sekali respon dari Erik. Sambungan terhubung namun Erik enggak mengangkat telponnya.


"Mas kamu di mana? Kana kamu tidak mengangkat telponku mas, aku sudah memaafkan kamu. Kita mulai dari awal lagi mas, kita perbaiki semuanya." Ucap Dara, sambil terus berusaha menghubungi suaminya itu.


***


Sementara itu, Erik yang sangat hancur. Ia berjalan tak tentu arah. Entah harus bagaimana Erik sekarang? Bom itu sudah meledak, apakah ini awal kehancuran rumah tangganya dengan Dara? Memang pernikahan antara dirinya dan Dara tidak di awali dengan rasa cinta. Namun seiring berjalannya waktu, kini cinta diantara keduanya sudah bertumbuh.


Apa cinta Dara akan memudar setelah ini? Masih adakah kesempatan untuk Erik menuai cintanya kembali kepada sang istri? Erik benar-benar bingung, haruskah ia menyetujui permintaan Dara? Haruskan Erik menceraikannya? Semua itu sangat bertentangan dengan hatinya, ia tak rela jika harus berpisah dengan Dara. Namun jika perceraian yang terbaik untuk mereka, haruskah erik melakukannya?


"Loh mas, bukannya itu kak Erik?" ucap Byanca kepada Evan yang tengah mengemudikan mobilnya.


"Iya sayang benar, kenapa malam-malam begini dia berjalan kaki seperti itu?"


"Entahlah mas, sebaiknya kita samperin dia," ajak Byanca. Evan menganggukan kepalanya. Lalu mereka berhenti tepat di samping Erik yang tengah berjalan itu.


"Kak Erik," panggil Byanca. Erik langsung menoleh kearah mereka. Byanca dan Evan turun dari mobilnya.


Mereka berjalan mendekati Erik.


Evan dan Byanca menatap bingung kepada Erik, penampilannya sangat begitu berantakan. Kancing kemeja atas terbuka, rambut yang acak-acakan, serta wajahnya yang kusut, jejak-jejak air mata terlihat ada di wajahnya.

__ADS_1


"Kak apa yang terjadi?" Tanya Evan.


"Semuanya hancur Van, hancur!" Jawab Erik, tangisnya pecah, Erik terkurai lemas tak bisa lagi menahan bobot tubuhnya.


"Mas sebaiknya kita bawa kak Erik ke mobil saja!" pinta Byanca. Diangguki oleh suaminya.


"Ayo kak, kita bicara di mobil saja," ajak Evan. Ia membantu Erik berdiri. Lalu memapahnya berjalan menuju mobil.


Mereka kini sudah berada di dalam mobil.


"Apa yang terjadi kak?" Tanya Evan lagi.


"Aku sudah memberitahu Dara Van, Dara sekarang membenciku, bahkan dia meminta cerai dariku Van! Harus bagaimana aku sekarang?" Lirih Erik. Wajah keputusasaan terlihat diwajahnya.


"Apa kakak sudah menjelaskannya kepada Dara?" Kini Byanca yang bertanya.


"Sudah by, tapi aku rasa dia tidak akan memaafkan aku. Dia sangat kecewa padaku."


"Iya benar kak, apa yang dikatakan Byanca. Kakak jangan putus asa, jangan sampai kakak mengambil keputusan yang membuat kakak menyesal nantinya. Ingat anak kalian, calon anak kalian," timpal Evan.


Erik terdiam, ia mencoba mencerna kata-kata adik dan adik iparnya itu.


"Kak aku hanya ingin kakak tidak menyesal seperti aku dulu, dan jangan pula Dara merasakan itu. Kakak taukan bagaimana waktu itu aku dan Byanca. Masalah kami lebih sulit dari pada kalian. Jika kalian saling mencintai, aku yakin pasti ada jalan keluarnya," tutur Evan.


Mendengar ucapan Evan, Erik kembali teringat kepada kesalahannya itu. Dialah yang menyebabkan Evan dan Byanca terpisah.


"Kenapa kalian masih baik padaku? Bahkan aku pernah melakukan kejahatan pada kalian, memisahkan kalian."

__ADS_1


"Yang lalu biarlah berlalu kak, setiap orang punya kesempatan. Kita hanya manusia, tuhan saja maha pemaaf. Dan aku yakin Dara juga begitu, Dara pasti akan memberi kakak kesempatan lagi," ucap Byanca.


"Aku tidak yakin By,"


"Kakak harus yakin kak," sahut Evan.


"Iya benar, kakak harus yakin," timpal Byanca.


"Namun dibalik keyakinan itu, kita juga harus bisa pasrah. Percayakan pada semuanya pada Tuhan kak. Tuhan sudah memberikan takdir kepada setiap umatnya. Jika kakak berjodoh dengan Dara, sesulit apapun situasinya, kalain akan tetep bersama," lanjut Byanca.


"Aku manusia kotor By, apa tuhan akan memberikan kebahagiaan untukku? Apa tuhan akan memberikan kesempatan untukku yang hina ini?"


"Tuhan maha adil kak, setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan, dan tuhan pasti akan memberikan kesempatan. Jika kakak masih ragu, aku akan membantu kakak untuk bicara dengan Dara!"


Evan tersenyum kepada istrinya, betapa beruntungnya Evan memiliki Byanca.


"Iya kak, kita akan membantu kakak." Timpal Evan.


Akhirnya Erik pun mengangguk, ia menyetujuinya. Evan--pun melajukan mobilnya menuju rumah kontrakan Erik.


"Apa kalian yakin Dara akan memaafkan ku?" Tanya Erik kepada Byanca dan Evan.


"Kita coba dulu saja kak, hasilnya kita pasrahkan saja kepada yang di atas," jawab Byanca diangguki oleh suaminya. Evan tersenyum tipis, lalu mengangguk.


'Ya tahun, aku tau aku bukan manusia yang baik, aku sangat hina, aku sangat kotor. Ya tuhan bolehkan aku memohon padamu, tolong. Tolong bukakan hati istri hamba, bukakan hati Dara, berikan aku kesempatan untuk menebus semuanya, aku berjanji akan membahagiakan tuhan,' batin Erik.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan Votenya ya.


Terima kasih.


__ADS_2