
"Maaf menunggu lama ya By, tadi ada metting dulu sama clien!" ucap Yusa, ia baru saja ke restoran tempat ia dan Byanca berjanjian sebelumnya.
Ya Byanca mengajak Yusa untuk bertemu, belakangan ini hubungan mereka semakin dekat, Byanca menganggap Yusa orang yang sangat asik di ajak bicara. Dan kali ini Byanca butuh Yusa untuk menjadi pendengarnya. Apapun yang terjadi Byanca selalu bercerita kepada Yusa, ia sudah menganggap Yusa sebagai sahabatnya bahkan lebih, Byanca mengaggap Yusa seperti kakaknya sendiri, Byanca menyayangi Yusa, begitu--pun Yusa, tapi entah rasa sayang apa yang Yusa rasakan kepada Byanca, hanya dia dan tuhan yang tau. Yang pasti untuk saat ini Byanca sangat berharga bagi Yusa.
"Gak apa-apa kok Yusa, maaf ya aku mengganggu kamu!"
"Gak kok By, kamu gak ganggu. Malah aku senang, ada apa hmm?" Yusa memasang senyumannya, jujur saja Yusa merasa ada rindu untuk Byanca, karna beberapa hari ini Byanca tidak sama sekali mengabarinya, biasa setiap hari mereka selalu berkomunikasi.
"Nanti aku cerita, tapi kita makan dulu ya! Aku lapar," pinta Byanca, ia memberikan cengiran kepada Yusa.
"Oke, kita pesan makanan dulu saja, kalau begitu."
Yusa dan Byanca--pun memanggil pelayan resto, lalu mereka memesan makanan. Pelayan resto berlalu usai mencatat pesanan mereka berdua. Tak selang beberapa lama pelayan itu kembali membawa makanan yang Yusa dan Byanca pesan.
Tak banyak pembicara lagi, mereka langsung menikmati makanan tersebut. Hingga mereka--pun akhirnya menghabiskan makan mereka masing-masing.
"Eh, emm tadi kamu mau bicara apa By?" tanya Yusa, usai ia meneguk jus miliknya sebagai penutup, "terus kemana beberapa hari ini hmm? Kenapa WhatsApp aku gak pernah kamu bales, cuman ceklis biru doang!" lanjut Yusa, dengan ekspresi kesalnya.
"Maaf, beberapa hari ini aku lagi banyak pikiran Yus,"jawab Byanca, lirih. Wajahnya terlihat bersedih.
"Ya seharusnya kamu jangan diemin aku By, biasanya juga kalau ada apa-apa kamu cerita sama aku!"
"Dan ingat jangan banyak pikiran, ingat kamu itu sedang mengandung! Jangan sampe kamu setres karna terlalu banyak pikiran, kasian calon anak kamu By."
Byanca hanya membuang nafasnya, sudah pasti Yusa bakalan ngomel kaya gini. Tapi emang yang dikatakan Yusa benar.
"Makanya biar aku gak banyak pikiran, dengerin cerita aku dan kasih solusinya," rengek Byanca.
__ADS_1
"Iya, tuan putri. Hamba siap mendengarkan cerita tuan putri!" ujar Yusa, sambil tersenyum menggoda Byanca.
"Jadi gini Yus----" tiba-tiba Byanca merasa ragu akan menceritakannya kepada Yusa, tapi kalau tidak jadi bicara, pasti dia bakalan di omelin lagi sama Yusa.
"Jadi----?" Yusa mengulang ucapan Byanca, tatapannya menatap Byanca penuh penasaran. Yusa tau pasti ini bukan masalah yang sepele, pasti ada masalah serius yang menimpa Byanca, tapi apa?
Byanca terdiam sejenak, dalam benaknya terus bertanya-tanya, cerita apa enggak? Tapi saat ini ia sangat butuh masukan dari Yusa, tidak ada orang yang selama ini mengerti kan Byanca selain Yusa.
"By, kok malah bengong sih?" Yusa terlihat kesal, eh bukan kesal tepatnya gregetan. Jiwa penasaran Yusa semakin meronta-ronta, bukan apa, Yusa hanya takut ada hal yang buruk yang menimpa Byanca nantinya, jadi Yusa ingin tau masalah apa sebenarnya yang sedang di hadapi Byanca, itu saja.
"Ada masalah apa By? Ayo cerita!" ucap Yusa lagi, ia mencoba menyakinkan Byanca.
"Aku bingung Yus..." Akhirnya Byanca membuka suara kembali.
"Bingung, ada apa By? Cerita sama aku, siapa tau aku bisa bantu," tutur Yusa.
"Hah," Yusa terlihat terkejut. Entah kenapa rasanya ia ingin marah mendengar semuanya. Namun sebisa mungkin Yusa bertingkah biasa-biasa saja.
"Iya Yus, aku bingung. Aku harus bagaimana sekarang? Jujur saja hatiku masih sakit Yus. Tapi mas Evan keukeh memintaku untuk bersamanya lagi."
"By, kamu jangan jadi pendendam, jangan sampai karna satu kesalahan, kamu melupakan semua kebaikan yang pernah Evan lakukan sama kamu. Bukannya itu bagus kalau Evan dan kamu bersama?"
"Walau--pun sebenernya aku tak rela By, kamu kembali sama Evan, tapi aku sadar aku tidak berhak melarangmu, aku sadar posisiku!" lanjut Yusa dalam hatinya.
Jujur saja Yusa merasa ada goresan pisan yang melukai hatinya saat mengatakan hal tersebut.
"Aku tidak dendam Yus, aku selalu berusaha melupakan kejadian itu. Tapi aku hanya manusia biasa Yusa. Aku tidak selapang itu, luka yang mas Evan torehkan terlalu dalam," jawab Byanca, tetasan air mata kini terlihat keluar dari pelupuk matanya.
__ADS_1
"Lalu apa keputusan kamu By?"
"Aku akan mencoba memberikan kesempatan kepada mas Evan, tapi aku juga mengajukan syarat untuknya."
"Syarat? Maksud kamu?"
"Aku akan kembali bersama mas Evan, kita akan bersama sampai bayi yang ada dikandunganku ini lahir."
"Apa? Kamu gila By. Syarat macam apa itu? Itu sama saja kamu melukai hati kamu sendiri By, bukan hanya kamu tapi Evan. Itu akan menambah luka kalian." Yusa tak habis pikir, apa yang diputuskan Byanca benar-bener membuatnya mengeleng kepala.
"Lalu apa Evan menyetujuinya?" Tanya Evan dan Byanca mengelengkan kepalanya.
"Tentu saja By, kamu memberikan pilihan yang sulit untuknya. Dengan aku By," Yusa meraih tangan Byanca, "ikuti kata hatimu By, jangan sampai kamu menyesal dengan keputusan kamu ini!"
"Aku gak bisa ngikutin kata hatiku Yusa, bahkan aku tidak mengerti dengan hatiku sendiri, kadang aku ingin kembali kepada mas Evan, tapi kadang aku sangat membencinya. Aku merasa hatiku tidak ada tujuan Yus." Byanca semakin terisak tangis.
Yusa yang melihat Byanca semakin terisak tangis itu--pun, ia beralih duduk di samping Byanca, ia membawa By kedalam pelukannya. Yusa membiarkan pundaknya jadi sandaran untuk Byanca.
"Andai saja aku bisa menyembuhkan lukamu By, aku tak tega melihatmu seperti ini. Dan jujur saja aku tak rela jika sampai kamu kembali bersama Evan." Gumam Yusa.
"Aku harus bagaimana?" Lirih Byanca.
Bersambung...
Jangan lupa, like, komen dan Votenya ya!!
Terima kasih.
__ADS_1