SESAL USAI TALAK

SESAL USAI TALAK
Part 68. HARUS JUJUR


__ADS_3

Tak lama kemudian akhirnya Evan sampai di depan rumah kontrakan Erik.


"Terima kasih Van kamu sudah mengantarkan aku, kamu mau mampir dulu?" Tanya Erik, sebelum ia keluar dari mobil Evan.


"Tidak usah kak, Byanca sudah menungguku," tolak Evan dengan halus.


"Ya sudah, kalau begitu hati-hati." Evan menganggukan kepalanya, lalu Erik keluar dari mobil tersebut.


"Kak, jangan lupa pikirkan ucapanku tadi," pesan Evan, sebelum ia melajukan mobilnya kembali. Erik hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Mobil Evan--pun berlalu dari hadapan Erik.


'Mungkin memang ini saatnya aku harus berkata jujur, cepat atau lambat Dara pasti mengetahuinya, mungkin lebih baik dari tau dari aku dari pada dari orang lain, ya tuhan jangan sampai bom waktu ini, menghancurkan semuanya," gumam Erik. Erik--pun berjalan masuk menuju rumahnya.


Tok tok tok


Erik mengetuk pintu rumah kontrakannya itu, beberapa detik kemudian pintu terbuka, nampak sosok istri tercintanya, Dara membuka pintu tersebut.


"Mas," ucap Dara, ia meraih tangan Erik dan menyalaminya. Erik tersenyum, lalu ia masuk kedalam rumah tersebut.


"Aku ambilkan minum dulu ya mas," Erik mengangguk, lalu Dara berjalan menuju dapur, mengambilkan air minum untuk suaminya itu.


'Ya tuhan bagaimana aku harus memulainya, bagaimana aku menjelaskan semuanya pada Dara?' Batin Erik.


Tak lama kemudian Dara kembali dari dapur, ia membawa segelas air putih, lalu memberikannya kepada Erik.


"Ini mas di minum, kamu keliatannya lelah sekali," ucap Dara. Erik langsung mengambil gelas tersebut, lalu meneguk air putih tersebut sampai tandas.


Dara tersenyum manis, sambil memperhatikan wajah lelah sang suaminya itu.


"Terima kasih," ucap Erik.


"Sama-sama mas, oh iya aku sudah masak. Apa kamu mau langsung makan, atau mandi dulu?"


"Kalau mau mandi biar aku masak air dulu ya mas, biar kamu mandinya pake air anget!" lanjutnya.


"Tidak usah sayang." Tolak Erik.


"Gak apa-apa kok mas, sebentar ya biar aku masak airnya dulu," Dara langsung berajak dari hadapan Erik. Namun saat Dara hendak melangkahkan kakinya, ia terhenti karna tangannya di tahan oleh Erik, Erik menarik tangan Dara.


"Ada apa mas?" Tanya Dara, menatap Erik keheranan.


"Ada yang ingin aku bicarakan," jawab Erik.

__ADS_1


"Apa? Nanti saja mas, biar aku masak air buat mandi kamu dulu," pinta Dara.


"Ini penting Dara!"


"Penting?" Dara mengulang ucapan Erik. Erik menganggukan kepalanya.


"Baiklah, katakan mas. Apa yang ingin kamu bicarakan?" Dara kembali duduk di hadapan Erik sambil memasang senyuman manisnya.


Erik terdiam, ia bingung bagaimana caranya ia menjelaskan pada Dara. Erik menatap mata Dara dengan lekat. Jika Dara sudah mengetahui yang sebenarnya apa Erik bisa menatap Dara sedekat ini? Apa Dara akan tetap bersamanya? Apa Dara akan membencinya? Apa Dara akan meninggalkannya?


"Mas kok malah bengong sih? Katanya tadi mau bicara penting. Bicara apa sih mas, kamu bikin aku penasaran aja!" ucap Dara, seketika membuyarkan lamunan Erik.


Dengan ragu akhirnya Erik--pun mengeluarkan suaranya. Erik meraih tangan Dara, matanya tak lepas memandangi manik mata indah milik Dara.


"Sayang maafkan aku," ucap Erik. Dengan bersungguh-sungguh.


"Maaf, maaf untuk apa mas?" Dara menatap bingung. Kenapa tiba-tiba suaminya meminta maaf? pikirnya.


"Sebenarnya---"


"Sebenarnya apa mas?"


"Sebenarnya aku yang sudah merenggut kesucianmu malam itu," ucap Erik.


Jantung Dara terasa berhenti berdetak, matanya langsung berkaca-kaca, detik kemudian air mata itu lolos dari pelupuk mata indahnya. Dara menatap tak percaya, ia benar-benar sangat terkejut dengan pengakuan Erik tersebut.


Erik? Jadi laki-laki yang sudah merenggut mahkota miliknya pada malam kelam itu Erik, Erik suaminya.


Jadi dugaan Dara selama ini benar, tanda itu memang benar. Apa yang dipikirkan Dara selama ini benar. Kenapa Erik baru mengatakannya sekarang. Apa dia sengaja menutupinya? Atau memang ini alasan Erik menikahinya? Ya tuhan kenapa jadi serumit ini. Dara sangat membenci laki-laki yang sudah menodainya itu, dan pada kenyataan laki-laki yang sangat ia benci itu ternyata laki-laki yang selama ini hidup bersamanya. Apa yang harus Dara lakukan sekarang? Dara mencintai Erik, tapi Dara sangat membenci Erik.


Dara langsung melepaskan genggaman tangan Erik, wajahnya kekecewaan serta kemarahan terlihat dari wajah Dara.


"Sayang maafkan aku, maaf. Bukan maksudku menutupi semuanya dari kamu. Aku hanya belum siap, aku takut. Aku takut jika kamu tau yang sebenarnya kamu akan meninggalkan aku, maafkan aku sayang, maaf. Aku tak sengaja melakukan hal itu pada kamu, kamu taukan kondisi aku waktu itu, aku dalam kondisi mabuk. Aku tak sadar, aku mohon maafkan aku!" Ucap Erik dengan lirih. Erik memohon kepada Dara. Wajah penuh penyesalan terlihat jelas dari wajah Erik.


"Kamu jahat mas, aku benci sama kamu, aku kecewa sama kamu. Kamu bilang apa tadi hah? Tidak bermaksud menutupi semuanya? Lalu selama ini apa yang kamu lakukan mas? Apa? Kamu sudah tau kebenaran, tapi kamu tidak jujur padaku. Kamu seolah-oleh tidak tau apa-apa mas. Kamu membiarkan aku tenggelam dalam luka itu, kamu tau mas. Bagaimana hancurnya aku saat itu hah? Bahkan aku sampai hamil, aku sampai menjebak mas Evan. Aku benar-benar hancur saat itu. Kenapa kamu baru bilang sekarang mas, kenapa?" ucap Dara penuh amarah. Ia mengeluarkan semua isi hatinya. Hancur, kecewa itulah yang saat ini Dara rasakan.


"Maafkan aku sayang, maaf..." Erik bersujud di kaki Dara.


"Jangan panggil aku sayang mas. Aku muak sama kamu. Berisi mas berdiri.." pinta Dara.


"Tidak sayang. Aku tidak akan berdiri sebelum kamu memaafkan aku, aku akan bersujud di kakimu sampai kamu mau memaafkanku,"

__ADS_1


"Cukup mas, aku tidak akan pernah memaafkan kamu."


"Apa yang harus aku lakukan agar kamu memaafkan aku? Aku akan melakukan apa saja agar kamu mau memaafkan aku Dara!"


"Berdiri mas," pinta Dara lagi, namun Erik tidak menurutinya. Erik menggelengkan kepalanya.


"Berdiri atau aku tidak akan pernah memaafkan kamu," lanjut Dara. Erik--pun akhirnya menurutinya ia berdiri.


"Kamu bilang kamu akan melakukan apa saja agar aku mau memaafkanmu?"


"Apa Dara katakan? Aku pasti akan melakukannya." ucap Erik sambil menatap Dara penuh harap.


"Ceraikan aku mas," ucap Dara.


Sakit, hati Dara sangat sakit bagai tertusuk ribuan pisau tajam. Mengucapkan kata-kata tersebut. Ia tak bisa membohongi dirinya sendiri ia sangat mencintai Erik. Hati dan pikiran Dara kini tidak sejalan. Hatinya berkata tidak, namun pikirannya berkata iya, menyetujui ucapnya itu.


"Tidak, aku tidak akan mencerikan kamu Dara." Tolak Erik dengan cepat.


"Sampai kapanpun aku tidak akan mencerikan kamu, kalau kamu mau aku melakukan itu, lebih baik kamu bunuh aku saja Dara. Bunuh aku saja, lebih baik aku melepaskan kamu dengan kematianku dari pada aku harus melepaskan saat ini, aku sangat mencintai kamu Dara," lanjut Erik.


"Cinta? Kamu bilang cinta mas! Apa ini yang dinamakan cinta hah? Aku rasa ini bukan cinta mas, kamu menikahiku karna kamu merasa bersalah kan? Iyakan? Karna sudah tau bahwa kamulah yang sudah merenggut kesucianku! Bahkan sampai aku hamil mas, aku hamil anak kamu!"


"Tidak Dara, aku menikahi bukan karna itu. Aku tidak tau apa-apa saat aku menikahimu, aku belum tau kebenarnanya, aku belum tau kalau wanita yang sudah aku nodai itu kamu. Percayalah Dara, aku mohon. Aku mencintaimu."


"Omong kosong! Kamu memang pandai berpura-pura mas. Seharusnya tidak mempercayai kamu. Pembohong tetaplah pembohong. Kamu memang pintar bersandiwara mas, harusnya aku sadar. Setelah apa yang sudah kamu lakukan kepada Byanca dan Evan. Kamu bahkan merusak rumah tangga mereka, aku menyesal mempercayai kamu mas!"


"Ya aku tau, aku memang bukan orang baik Dara. Tapi aku berusaha menjadi orang baik. Sejak aku tau bahwa kamu mengandung anakku, aku belajar menjadi orang baik, aku berusaha berubah. Aku sudah menyesali semuanya."


"Kamu kira aku percaya mas? Tidak, aku tidak percaya lagi sama kamu. Aku minta ceraikan aku mas!"


"Tidak, sampai kapanpun aku tidak akan menceraikan kamu. Camkan itu," ucap Erik, lalu ia berajak dari hadapan Dara, Erik berjalan keluar dari rumahnya. Entah mau kemana, namun Erik saat ini butuh waktu untuk menangkan hatinya, dan memikirkan cara membujuk Dara agar mau memaafkannya, Erik sangat mencintai Dara, ia tak berpisah dengan Dara, apalagi kini Dara tengah mengandung anaknya.


Bersambung....


Lebih baik disakiti dengan kejujuran dari pada dibahagiakan dengan kebohongan.


Bukan begitu teman-teman.


Oke, jangan lupa like, komen dan Votenya ya.


Mau crazy up, belum sempat uy. Maaf ya bukan bermaksud PHP--in kalian, real life sangat sibuk.

__ADS_1


Terima kasih.


__ADS_2