SESAL USAI TALAK

SESAL USAI TALAK
Part 14 TERPURUK


__ADS_3

Byanca dan orang tuanya sudah sampai dikediaman mereka. Mereka turun dari mobil tersebut, lalu masuk kedalam rumah.


Mamah Lily mengantar Byanca menuju kamarnya.


Byanca sudah berhenti menangis, namun kini diwajahnya tidak nampak kegairahan untuk hidup.


Dengan mata yang sembab, tatapan Byanca pun kosong.


"Sayang, kamu istrihat ya!'' Titah mamah Lily, ia membantu Byanca untuk membaringkan tubuhnya diatas kasur tersebut.


Byanca tidak menyahut ucapan mamahnya itu, Byanca diam, ia hanya pasrah dan menurut membaringkan tubuhnya diatas kasur.


"Mamah tinggal dulu ya sayang!" Mamah Lily menyelimuti tubuh anaknya itu, lalu mencium kening Byanca dengan lembut.


Mamah Lily menatap nanar anaknya itu, sebagai seorang wanita mamah Lily mengerti apa yang kini tengah dirasakan Byanca.


"Ya tuhan, apa yang harus aku lakukan, berikan anakku kekuatan dan kesabaran agar bisa melewati ujian darimu ini" --**B**atin mamah Lyli.


Byanca terlihat memejamkan matanya, mamah Lily keluar dari kamar anaknya itu.


Papah Jonathan terlihat sedang duduk di sofa ruang tengah, laki-laki itu memijat-mijat pelipis keningnya.


Mamah Lily mendekat kearah suaminya itu.


"Pah.."


Papah Jonathan melihat kearah istrinya itu, yang tengah berjalan kearahnya.


"Bagaimana Byanca mah?"


"Byanca tidur Pah, biarkan saja dulu. Mamah rasa ia butuh waktu sendiri untuk saat ini." Ucap mamah Lyli, sambil duduk di sofa, disamping suaminya itu.


Mamah Lily menghelai napas panjang. "Kenapa semua ini terjadi pada putri kita Pah?" Lirih mamah Lily. Dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Kenapa Evan begitu tega kepada Byanca!" Lanjut mamah Lily, yang kini sudah meneteskan air matanya.


Raut wajah kekecewaan terpancar jelas dari wanita itu.


Papah Jonathan merangkul istrinya itu, dan menarik kedalam pelukannya.


"Sabar mah, papah juga tidak menyangka semuanya akan berakhir seperti ini!" Papah Jonathan mengelus bahu sang istri.

__ADS_1


"Evan, saya akan membuat perhitungan dengan kamu, lihat saja. Kamu sudah berani-beraninya menyakiti putriku, dan membuatnya terluka. Kamu sudah membuah kedua wanita yang ku cintai bersedih. Saya akan pastikan kamu menyesal Evan." ---Batin papah Jonathan.


"Sudah mah jangan menangis, ini semua mungkin memang sudah takdir. Sekarang yang terpenting bagaimana caranya agar Byanca bisa ceria seperti dulu, kita tidak boleh membiarkan putri kita terus berlarut dalam kesedihannya, kita harus mengsuport Byanca agar tidak terpuruk dan Byanca harus melanjutkan hidupnya dengan bahagia. Byanca masih muda. Papah yakin suatu saat nanti ia pasti bisa menemukan laki-laki yang jauh lebih baik dari mantan suaminya itu!" ujar papah Jonathan.


Mamah Lyli, beranjak dari pelukan suaminya itu, wanita itu menghisap air matanya, lalu tersenyum menatap suaminya.


"Iya papah benar, kita harus bisa membantu Byanca untuk melupakan Evan."


Papah Jonathan tersenyum, lalu mengangukan kepalanya. Walau pun dalam hatinya, sebenarnya ia tidak terima dangan perlakuan Evan yang sudah menghina putrinya itu, namun didepan istrinya ia mencoba untuk menyembunyikan semua kekesalan serta kemarahannya itu.


"Ya sudah, kalau begitu mamah mau siapin dulu makan siang Pah." Papah Jonathan mengangukan kepalanya.


"Iya mah, papah juga masih ada sedikit pekerjaan yang harus diselesaikan."


Mamah Lily beranjak dari hadapan suaminya itu menuju dapur, untuk membatu Art memasak.


Sedangkan papah Jonathan ia beranjak menuju ruang kerja yang berada dirumah nya itu.


***


Evan beranjak menuju kamarnya, menghempaskan tubuhnya diatas kasur.


Kepalanya terasa berat, Evan memejamkan matanya sejenak. Bayangan Byanca seketika hadir dalam benaknya.


Bayangan Byanca terus hadir dalam benak Evan, bayangan dimana ia selalu menghabiskan waktu dengan wanita itu.


Rasa sesal kini semakin mendalam dalam hati Evan, namun ego-nya menyangkal semua itu, sepertinya Evan sudah gelap mata.


"Tidak, aku harus bisa melupakan wanita murahan itu!" gunamnya.


Namun dalam hati kecilnya, Evan merasa ada belati yang menusuk dalam, bahkan sangat dalam, membuat hatinya terasa sakit.


Lalu pandangan Evan beralih kesebuah bingkai foto berukuran besar yang tertempel di ding-ding kamarnya. Evan menatap nanar foto tersebut. Foto tersebut adalah foto pernikahan ya dengan Byanca.


Lalu ia beranjak dari atas kasur tersebut, lalu mendekat kearah bingkai foto itu, Evan melepas bingkai foto tersebut dari ding-ding kamarnya itu.


Evan menatap Foto mereka, yang tengah tersenyum bahagia di hari pernikahannya itu.


Mata Evan terlihat memerah, menahan air matanya.


Evan mengusap lembut gambar Byanca yang ada di foto itu, Evan mengulas senyumannya.

__ADS_1


Namun Evan mengingat kembali, saat ia melihat Byanca yang berada di hotel dengan laki-laki, seketika senyuman itu berubah, menjadi senyuman yang sulit diartikan.


"Aaaggghhhh......" Teriak Evan, sambil membanting bingkai bingkai foto tersebut kelantai dengan keras, hingga membuat bingkai foto pernikahannya dengan Byanca hancur, kaca bingkai foto itu berserakan diatas lantai kamar Evan.


"Kenapa? Kenapa semua ini terjadi kepadaku." Teriak Evan, membanting semua barang-barang yang ada di kamarnya itu.


Evan tertunduk lemah, air mata kini lolos dari mata laki-laki itu. Antara cinta, kecewa, dan ego bercampur di hati Evan.


"Byanca..." Teriak Evan.


Sedangkan diluar kamar Evan, Anita dan Erik tertawa penuh kemenangan, mendengar teriakan Evan tersebut.


"Sepertinya anak itu sebentar lagi akan gila." Ucap Anita.


"Iya mah, mungkin lebih dari itu. Aku harap dia mengakhiri hidupnya saja!" Sahut Erik


Lalu mereka tertawa bersama. Tertawa puas dan merasa menang, karna telah membuat Evan hancur, dan mentalak Byanca.


"Ya sudah ayo kita pergi dari sini, nanti ada orang yang curiga." Ajak Anita.


Erik mengangukan kepalanya, lalu mereka beranjak dari depan kamar Evan tersebut.


Mereka tak menyadari bahwa sedari tadi ada yang mengawasi gerak-gerik mereka.


Edward terlihat mengepalkan kedua tangannya, raut wajahnya terlihat penuh dengan kemarahan.


Laki-laki itu tengah memandangi layar monitor yang terhubung dengan CCTV rumahnya.


"Sudah ku duga, semua ini pasti ulah mereka." Ucap Edward, geram, sedari tadi memantau istri dan anak tirinya itu lewat CCTV.


"Aku akan membuat kalain menyesal, namun sebelum itu, aku akan lihat dulu sampai dimana permainan kalain."


Lalu Edward terlihat menelpon seseorang, yang tak lain adalah orang kepercayaannya, untuk maemantau garak-gerik Anita dan Erik, dan menyuruh mereka untuk memcari tau siapa yang terlibat dengan permainan istri dan anak tirinya itu.


"Anita, Erik kalian pikir kalian bisa membodohi-ku. Tidak, kalian bisa membodohi Evan, tapi tidak denganku. Usai ini aku akan membuat kalian menyesali semua permainan kalian, dan akan ku pastikan kalain akan menanggung akibatnya, karena sudah berani-beraninya menghancurkan pernikahan anak ku." Pekik Edward, penuh amarah.


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya, like, comen dan Votenya,๐Ÿ˜Œ๐Ÿ˜Œ๐Ÿ™


Terima kasihโค๏ธโค๏ธโค๏ธ

__ADS_1


Salam Halu๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


__ADS_2