
Mamah Lyli terlihat gusar, sejak tadi Byanca tidak kunjung kembali dari toilet, padahal tadi ia sudah mengingatkan putrinya itu agar tidak berlama-lama.
"By kamu kok lama sih!" ucapnya pelan.
"Sebaiknya aku susul saja," mamah Lyli--pun memutuskan untuk menyusul Byanca, ke toilet rumah sakit tersebut.
Wanita parubaya itu mengayunkan kakinya, menelusuri kolidor rumah sakit yang menyambung ke arah toilet. Namun langkah wanita itu terhenti, netranya membulat sempurna, terkejut.
"Byanca..." Teriaknya, sambil berjalan kembali mendekat kearah Byanca, yang tengah di pelukan Evan.
Evan dan Byanca yang mendengar--pun, mengalihkan pandanganya kearah sumber suara tersebut. Byanca segara melepaskan pelukan Evan, mendorong laki-laki itu dengan kuat, hingga Evan kehilangan ke seimbangan tubuhnya. Untung ada tiang yang menahannya.
"Mamah," ucap Byanca, ia terkejut melihat mamah Lyli yang berjalan kearahnya.
"Ayo, dokter sudah memanggil kamu," bohongnya, mamah Lyli menarik tangan Byanca pelan, segera berlalu dari hadapan Evan.
"By tunggu!!" Teriak Evan, ia segara menyusul Byanca dan mamah Lyli yang terus berjalan.
"By..." Evan menarik tangan Byanca, sehingga Byanca menghentikan langkahnya.
"Jangan pegang-pegang anak saja!" Ucap mamah Lyli ketus, ia menepis tangan Evan dari tangan Byanca.
"Mah, aku masih ada hak dengan Byanca, Byanca masih sah istriku, talak itu tidak berlaku mah. Karna Byanca sekarang tengah mengandung anakku!" Tegas Evan.
Mamah Lyli melirik kearah Byanca, Byanca hanya diam tertunduk. Entahlah Byanca harus bagaimana, yang di katakan Evan mamang benar adanya, tapi...
Mamah Lyli--pun ikut terdiam.
Evan Kembali menarik tangan Byanca, meraih tangan wanita itu dengan lembut.
"By, izinkan aku menemani kamu untuk melihat perkembangan calon anak kita," ucap Evan memohon.
Byanca mengangkat kepalanya, ia menatap kepada Evan, Byanca terlihat sangat kebingungan. Lalu Byanca melihat kearah mamah Lyli.
Mamah Lyli menganggukan kepalanya pelan, walau bagaimana--pun Evan adalah ayah kandung dari anak yang Byanca kandung. Dan akhirnya Byanca--pun menganggukan kepalanya pelan.
Evan tersenyum sumringah, tentu saja merasa bahagia. Bahkan sakit yang di rasakan tubuhnya seketika hilang, saat bertemu dengan Byanca, apa lagi mengetahui bahwa wanita itu tengah mengandung anaknya.
"Ya sudah ayo." Ajak mamah Lyli, ia berjalan terlebih dahulu.
Evan dan Byanca mengikuti langkah wanita itu, mereka berjalan menuju ruangan dokter kandungan.
"Ya tuhan terima kasih, kau sudah mempercayai aku.
Sebentar lagi aku akan menjadi seorang Ayah. Papah pasti senang mendengar berita bahagia ini." Batin Evan.
"Ya tuhan harus bagaimana aku sekarang?" Batin Byanca.
Jujur saja Byanca sangat bingung, kehamilannya yang ia tutupi dari Evan berbulan-bulan, kini sudah terbongkar. Evan sudah mengetahui bahwa Byanca tengah mengandung anaknya. Harus bagaimana sekarang Byanca? Sebenarnya Byanca ingin sekali menolak Evan untuk menemaninya memeriksa kandungannya, tapi entah kenapa susah sekali untuk mengucapkan 'tidak', hatinya malah merasa bahagia Evan ingin menemaninya, apa ini ikatan batin antara ayah dan calon anaknya. Ya mungkin alasannya itu, karna tidak mungkin Byanca yang menginginkannya, hatinya masih terasa berat untuk menerima kehadiran Evan kembali.
Mereka--pun sampai di depan ruangan dokter kandungan, nomer antrian Byanca terdengar di panggil.
"Ayo, masuk sayang!" ajak Evan, ia masih menggenggam tangan Byanca dengan erat, rasanya Evan tidak ingin melepaskannya.
__ADS_1
Byanca masih terdiam, ia menoleh kearah mamah Lyli, mamah Lyli mengerti arti tatapan Byanca itu, Byanca meminta izin kepadanya.
"Masuklah, mamah akan menunggu disini," ujarnya.
Byanca dan Evan--pun masuk ke dalam ruangan dokter tersebut.
"Tuhan aku serahkan kepadamu, jika memang Byanca dan Evan kembali bersatu. Aku tidak akan menghalanginya, aku masih melihat ada cinta di ke dua mata mereka."
"By mamah serahkan padamu, mamah tidak akan ikut campur dengan semua ini, jika kamu bahagia. Mamah akan ikut bahagia. Karna kebahagian kamu kebahagian mamah juga!" Batin mamah Lyli.
Evan dan Byanca sudah berada di ruangan dokter kandungan tersebut.
"Bagaimana kabarnya By?'' tanya Dokter.
"Baik dok," jawab Byanca.
"Wah sekarang di temani suaminya ya! Di mana mamah Lyli?" Tanya Dokter, mereka memang sangat akrab.
Byanca mengulas senyumannya, "mamah ikut kok dok, nunggu di luar."
Dokter itu menganggukan kepalanya.
"Ya sudah ayo kita mulai periksa," ujarnya.
Byanca--pun mulai membaringkan tubuhnya, dokter mulai memeriksa kandungan Byanca dengan teliti.
"Bagaimana dok, perkembangan calon anak saya?" Tanya Evan penuh antusias.
"Semuanya baik pak," jawab dokter, usai memeriksa Byanca. Evan dan Byanca tersenyum bahagia.
Tatapan mata Byanca, Evan, dan dokter itu, sekarang fokus kepada layar monitor yang ada di depan mereka.
Di sana nampak sosok bayi mungil yang terlihat sudah mulai aktif bergerak. Evan begitu sangat antusias melihatnya, matanya tak lepas dari layar monitor tersebut, sedangkan tanganya yang mengelus lembut kepala Byanca.
"Jujur saja hatiku membencimu mas, atas semua yang sudah kau lakukan dulu padaku, tapi kenapa aku tak bisa menolak semua perlakuan manismu,'' gumam Byanca.
"Dok apa kita bisa lihat jenis kelaminnya?" Tanya Evan, sangat-sangat antusias.
"Boleh pak, bisa sekali," jawab dokter.
"Wah sepertinya calon anak kalian baby boy,'' ucapnya.
"Benarkah dok?"
"Iya pak lihat ini," dokter menunjukkan kearah monitor, "iyakan?"
Evan dan Byanca menganggukan kepalanya. Mereka terlihat sangat bahagia.
Akhirnya pemeriksaan tersebut selesai. Evan dan Byanca berpamitan keluar dari ruangan tersebut.
"By, bisa kita bicara sebentar?"
"Aku rasa sudah tidak ada yang harus di bicarakan mas!"
__ADS_1
"By aku mohon sebentar saja," Evan memberikan tatapan memohon kepada Byanca.
Byanca menghembuskan nafas beratnya, "baiklah hanya sebentar saja, aku harus segara pulang kasian mamah menunggu lama."
"Mah, Evan mau bicara dulu sebentar dengan Byanca, mamah tidak apa-apakan tunggu sebentar, tidak lama kok mah!" Ucap Evan, ia meminta izin terlebih dahulu kepada mamah Lyli.
"Baiklah, mamah akan menunggu di mobil," sahut mamah Lyli, tersenyum.
Evan mengulas senyumannya, lalu mengangguk. Mereka berjalan menuju taman rumah sakit.
Mereka duduk di bangku Yanga da di taman tersebut.
"Mau bicara apa mas?" Tanya Byanca, to the poin.
Evan meraih tangan Byanca, netranya menatap lekat bola mata milik Byanca, namun Byanca tak membalas tatapan Evan, ia mengalihkan pandangannya kearah lain.
"By kenapa kamu menyembunyikan semua ini dariku?" Tanya Evan dengan lirih, raut wajah kekecewaan terpancar jelas darinya.
"Apa perlu?" Byanca menjawab dengan mata yang masih melihat kearah lain.
"Tentu saja By, karna janin yang ada di perutmu itu darah dangingku," tegas Evan.
Byanca tersenyum smirk, lalu ia matanya menatap kearah Evan, dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Jangan sok perduli mas!"
"Apa maksudmu By? Kenapa kamu berbicara seperti itu? Aku sangat perduli denganmu dan calon anak kita."
"Sudahlah mas, simpan omong kosongmu itu. Aku tak ingin mendengarnya. Aku masih bisa bertahan dengan calon anakku, tanpa kamu,"
Deg...
Hati Evan bagai tertusuk belati tajam, sesak, sakit, perih. Mendengar ucapan yang keluar dari mulut wanita yang di cintainya itu.
"By kamu masih istriku, talakku tidak sah By waktu itu, karna kamu sedang mengandung anakku!"
"Ku mohon by, maafkan aku. Aku janji akan menjaga kamu dan calon anak kita, aku akan membahagiakan kalian. Izinkan aku menebus semua kesalahanku By," lanjut Evan.
Namun Byanca hanya terdiam, air mata mulai keluar dari pelupuk mata indah Byanca. Evan melepaskan genggaman tanganya dari tangan Byanca, lalu ia menangkubkan tanganya ke pipi Byanca, mengusap lembut air mata Byanca.
"Jangan menangis By, maafkan aku," ucap Evan dengan tatapan memohon.
"Kembalilah padaku..."
Bersambung...
Ke malaman ya up--nya.
Hiks, hiks. Tadi otakku mundeng guys...
Ngopi keknya enak nih (Sawer kopilah)
Like, komen, dan Votenya.
__ADS_1
Jangan lupa.
Terima kasih.