
"Sayang, udah selesai belum?" Tanya Evan, kepada Byanca, yang sedang bersiap-siap.
"Udah mas!" jawab Byanca, yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Ya sudah, ayo kita berangkat," ajak Evan, diangguki oleh Byanca. Hari ini mereka akan mengunjungi rumah orang tua Byanca, setalah itu kerumah papa Edward.
Mereka berjalan keluar dari apartemen tersebut, menuju mobil. Evan langsung melajukan mobilnya menuju kediaman mertuanya.
Sekitar menempuh kurang lebih 40 menit, mereka sampai di kediaman orang tua Byanca.
Mamah Lyli dan papa Jonathan terlihat sudah berada di depan rumah, menyambut anak dan menantunya itu.
"Mamah...." Teriak Byanca, ia berlari kecil tak sabaran, kearah mamah Lyli.
"Sayang, jangan lari-lari." Teriak Evan. Namun Byanca tak menghiraukannya. Evan hanya mengelengkan kepalanya. Ia tau kalau istrinya itu sangat merindukan mamahnya.
"Hallo by, apa kabar sayang?" Tanya mamah Lyli, sambil merentangkan tanganya kearah Byanca.
"Baik mah," Byanca langsung menghambur memeluk mamah Lyli. Sudah beberapa Minggu ia tak bertemu, rasanya rindu sangat menggebu-gebu.
Cukup lama mereka berpelukan. Menumpahkan kerinduan mereka.
"Ehemm," papah Jonathan berdehem, "papa dikacangin nih," ucapnya memelas.
Byanca dan mamah Lyli menyengir kuda. Lalu mereka melepaskan pelukannya.
"Hehe, maaf pah." Byanca langsung memeluk papa Jonathan. "Byanca juga kengen sama papa!"
Papa Jonathan tersenyum, ia membalas pelukan putri semata wayangnya itu.
"Mah, apa kabar?" Tanya Evan, sambil tersenyum. Lalu meraih tangan mertuanya itu.
"Baik Evan," jawab mamah Lyli.
"Pah," Evan kini meraih tangan papa Jonathan.
__ADS_1
"Van," papa Jonathan, menepuk bahu Evan.
"Ya sudah, ayo sebaiknya kita masuk!" Ajak mamah Lyli, diangguki oleh suaminya, Byanca serta Evan.
Mereka--pun masuk ke dalam rumah tersebut. Mereka mengobrol hangat, Byanca dan mamah Lyli mengobrol tentang perkembangan bayi yang ada di kandungan Byanca. Sedangkan Evan dan papa mertuanya, mengobrol tentang bisnis.
Tak terasa waktu sudah sore, Evan dan Byanca--pun berpamitan.
"Mah, Pah. Byanca sama mas Evan pulang dulu ya!" Pamit Byanca.
"Kalian yakin gak nginep disini?" Tanya papa Jonathan.
"Enggak Pah, besokkan mas Evan harus ngantor."
"Kan bisa berangkat dari sini By, atau enggak kalian pulangnya malam saja ya." Rayu mamah Lyli.
"Maunya gitu mah, tapi papa nyuruh kita ke rumah dulu, jadi sebelum kita pulang lagi. Kita mau ke rumah papa dulu," sahut Evan.
"Oh, ya sudah. Kalian hati-hati ya!" Pesan mamah Lyli. Diangguki oleh Evan dan Byanca.
Evan mulai melajukan mobilnya, Byanca melambaikan tanganya kearah kedua orang tuanya itu. Mamah Lyli dan papa Jonathan membalas lambaian tangan Byanca kearah mobil Byanca yang mulai melaju meninggalkan halaman rumah mereka, hingga mobil itu menjauh dan menghilang dari pandangan mereka.
Evan melajukan mobilnya membelah jalan raya, yang cukup padat. Waktu menunjukkan sudah jam empat sore, mereka langsung melajukan mobilnya itu kekediaman papa Edward, entah ada hal apa yang akan disampaikan oleh papa Edward kepada Evan dan Byanca, hingga menyuruh mereka datang hari ini juga.
Tak lama kemudian mereka--pun sampai. Evan dan Byanca keluar dari mobil tersebut, mereka langsung memasuki rumah mewah tersebut.
Papa Edward terlihat sudah menunggu mereka di ruang tamu. Evan dan Byanca langsung menyalami papa Edward secara bergantian. Lalu mereka--pun duduk di sofa berhadapan dengan papa Edward.
"Maaf, papa membuat kalain repot," ucap papa Edward.
"Enggak kok Pah." Jawab Evan, diangguki oleh Byanca.
"Ada apa memangnya Pah?" Lanjut Evan bertanya.
"Papa cuman mau tanya tentang Erik," jawabnya. "Bagaimana, apa kamu sudah melakukannya Evan?"
__ADS_1
"Sudah Pah. Papa tenang saja. Kak Erik sudah mendapatkan pekerjaan sekarang!" Jawab Evan, sambil mengambangkan senyumanya.
Ya papa Edward dan Evan, diam-diam membantu Erik agar mendapatkan pekerjaan. Tentu saja itu hal yang mudah untuk mereka, dan kini Erik sudah bekerja di salah satu resto. Resto tersebut sebenarnya milik Evan, namun di kelola oleh teman lamanya. Dan Erik tidak tau tentang itu. Mereka sengaja tidak memberitahu Erik, karna mereka yakin kalau Erik tau, pasti dia tidak akan mau berkerja disana. Karna Erik sudah dalam pendiriannya, kalau dia tidak mau merepotkan Evan dan papa Edward.
"Baguslah.'' Papa Edward ikut tersenyum.
"Oh iya, ada informasi baru. Orang-orang papa sudah menyelidiki, siapa yang sudah menghamili Dara." Lanjut papa Edward.
"Lalu bagaimana hasilnya Pah?"
"Mereka berhasil."
"Maksud papa? Mereka tau siapa laki-laki yang sudah membuat Dara hamil itu?" Ucap Byanca, ia menyahut pembicaraan suami dan papa mertuanya.
"Iya By, mereka sudah mengetahui semuanya."
"Lalu, siapa laki-laki itu Pah?"
"Erik." Jawab papa Edward.
Byanca dan Evan saling melempar pandangan mereka. Erik? Erik yang sudah mengambil kesucian Dara, sampai hamil itu. Dan Erik kini sudah menikah dengan Dara.
"Jadi laki-laki yang sudah merenggut kesucian Dara itu kak Erik?" Tanya Byanca. Diangguki oleh papa Edward.
"Jadi anak itu anak Erik?" Timpa Evan. Dan papa Edward kembali menganggukan kepalanya.
Byanca dan Evan membulatkan matanya, mereka tak percaya. Kenapa bisa seperti ini? Apa jangan-jangan Erik sudah mengetahui semuanya, makanya dia mau menikahi Dara.
Bagaimana kalau Dara tau, kalau Erik--lah yang sudah menghamilinya itu?
Bersambung...
Jangan lupa like, komen dan Votenya.
Terima kasih.
__ADS_1