
Seorang wanita tengah memeluk nisan, air mata terus mengalir deras dari matanya, bagaimana tidak. Orang yang selama ini sangat ia cintai dan sayangi meninggalkan dirinya seorang diri di dunia ini.
"Ibu maafkan Dara, kenapa ibu meninggalkan Dara secepat ini. Dara harus bagaimana sekarang Bu?" lirihnya sendu.
Langit mulai berubah warna, awan mulai menghitam, tanda-tanda hujan sepertinya akan datang. Tak lama rintik air hujan mulai turun. Namun Dara masih setia memeluk nisan sang ibu. Ia tak menghiraukan air hujan yang mulai membasahi tubuhnya.
Namun tiba-tiba Dara tak merasakan air hujan itu kembali menetes, namun ia melihat di sekitarnya hujan masih deras. Dara melepaskan pelukan di nisan mending sang ibu, ia mengangkat kepalanya, sebuah payung terlihat melindunginya dari air hujan tersebut.
"Sudah puas menangis?" Terdengar seseorang bertanya padanya.
"Kamu..." ucap Dara, saat menoleh kebelakang, terlihat Erik berdiri sambil memegangi payung tersebut.
Lalu Erik mengulurkan tanganya kepada Dara. Perlahan dengan ragu, Dara meraih tangan Erik. Erik membantu Dara berdiri.
__ADS_1
"Ayo kita pulang," ajaknya. Namun Dara malah terdiam mematung.
Pulang? Kemana ia harus pulang? Rumahnya sudah di sita oleh rentenir akibat hutang-hutang yang menumpuk, bekas pengobatan mendiang ibunya. Dan keluarga satu-satunya, om Hendra ia kini mendekam di penjara, akibat tindakan kriminalnya dulu, yang baru terungkap sekarang.
Dara hanya sebatang kara sekarang, bahkan Sesil sahabatnya membenci Dara sekarang, karna Sesil waktu itu tak sengaja mendengar percakapan dirinya dengan om Hendra yang sudah menjabat Evan. Byanca? Tidak mungkin dia meminta tolong pada Byanca, cukup sudah ia membuat kesalahan besar pernah menjebak Evan, hanya karna uang. Tidak ada nyali untuk Dara, walaupun Dara tau Byanca belum mengetahui hal tersebut. Ia saat ini belum! Tapi nanti pasti Byanca tau! Byanca pasti akan kecewa pada dirinya, mungkin lebih, bahkan membencinya.
"Ikutlah bersama ku, aku akan menjagamu. Sesuai janjiku pada om Hendra!" ucap Erik lagi. Namun Dara rasanya ragu menyetujui permintaan Erik. Apa yang dikatakan laki-laki itu benar? Apa dia bisa dipercaya?
"Aku tidak akan menyakitimu aku janji. Ayo cepat hujannya semakin deras! Kamukan sedang hamil."
Mereka menaiki angkot untuk menuju kediaman Erik. Tak lama kemudian mereka sampai.
Bukan rumah mewah, hanya sebuah rumah petak, itupun hanya rumah kontrakan. Hendra menitipkan Dara kepada Erik, ia memberikan rumahnya, menyuruh Erik menjualnya. Dan hasil penjualan rumah tersebut, Erik gunakan untuk menyewa rumah kontrakan. Dan sebagiannya lagi ia simpan untuk kebutuhan makan mereka sehari-hari.
__ADS_1
Otak Erik memang pas-pasan, jadi dia belum bisa berpikir matang untuk mengelola uang tersebut. Jika orang-orang mungkin akan membuka usaha kecil-kecilan. Namun tidak dengan Erik, ia berpikir kalau ia takut gagal, makanya dia hanya menyimpan uang tersebut, dan memilih untuk mencari kerja serabutan untuk tambahan.
Beberapa bulan berlalu, Erik memutuskan untuk menikahi Dara, sebenarnya keduanya terpaksa menikah, akibat desakan warga sekitar sana. Karna mereka tinggal satu atap tanpa ikatan. Mamah Anita menyetujui semuanya, hidupnya sudah susah ia tidak mau kesusahannya bertambah dengan mulut pedas tetangga mereka. Hingga akhirnya Dara dan Erik menikah. Dara memang mempunyai sikap baik, jadi tidak susah meluluhkan hati mamah Anita. Hingga mamah Anita, seiring berjalannya waktu ia menerima Dara sebagai menantunya. Mereka hidup dalam kesederhanaan.
Bersambung...
Like
komen
Vote
Jangan lupa ya!!
__ADS_1
Terima kasih.