
Usai mendapatkan semua penjelasan, mereka semua pamit dari kediaman Erik dan Dara tersebut.
"Kalau begitu kita pamit dulu ya Dara, kak Erik!" ucap Byanca. Erik dan Dara menganggukan kepalanya.
"Iya Tante sama om juga pamit," timpal mamah Lyli.
Mereka--pun berajak dari tempat tersebut. Kini hanya tinggal Dara, Erik dan papa Edward. Papa Edward belum pulang karna ia sedang menunggu sopirnya yang masih di perjalanan, untuk menjemputnya.
Seketika suasana menjadi hening, mereka semua terdiam. Dara yang merasa canggung, ia berpamitan kepada suaminya dan papa Edward, Dara ingin beristirahat.
"Saya tinggal dulu ya mas, om." Pamit Dara, ia berajak lalu berjalan menuju kamar. Sebenarnya Dara tidak terlalu lelah, namun mungkin ada yang akan Erik dan papa Edward bicarakan berdua saja, jadi Dara memberikan mereka waktu berdua.
Usai kepergian Dara.
"Kamu yakin tidak mau tinggal di rumah lagi, ikut bersama papa?" tanya papa Edward kepada Erik.
"Tidak Pah," jawabnya singkat.
"Baiklah, papa gak akan maksa kamu, tapi jika kamu perlu apa-apa tidak usah sungkan."
"Terima kasih Pah sebelumnya, tapi Erik tidak akan minta apa-apa. Erik tidak ingin merepotkan papa."
"Lalu apa yang akan kamu lakukan setelah ini?"
"Tidak tau, belum ada rencana. Tapi Erik akan berusaha mencari pekerjaan tetap, agar bisa menghidupi istri Erik! Memberi Dara kehidupan yang lebih baik."
__ADS_1
"Kalau begitu kerjalah di kantor Evan, nanti papa bilang sama Evan, biar mencarikan posisi yang baik untuk kamu!"
"Tidak usah Pah. Erik akan berjuang sendiri," tolak Erik.
Sebenarnya Erik sedikit tertarik dengan penawaran tersebut, namun ia malu.
"Baiklah, kalau itu mau kamu." Papa Edward terlihat pasrah ia tak mau memaksa Erik, walaupun dalam hatinya merasa sangat iba, melihat kondisi Erik yang sekarang.
"Apa kamu tau, anak siapa yang di kandung Dara?" lanjut papa Edward bertanya. Dengan gugup Erik mengelengkan kepalanya. Walaupun Erik yakin, bahwa anak yang tengah dikandung Dara itu anaknya, namun Erik tak punya nyali untuk mengakuinya.
Erik belum siapa, dengan resiko yang akan di hadapinya nanti, apa lagi tadi dia mendengar sendiri, bahwa Dara mengatakan kalau ia sangat membenci laki-laki yang sudah membuatnya hamil itu. Erik mengakui kalau dia sudah mencintai Dara, ia tak mau kehilangan Dara.
"Apa kamu yakin?" tanya papa Edward lagi, entah kenapa papa Edward melihat ada sesuatu yang sedang di sembunyikan oleh Erik.
"Ya---yakin Pah!" jawab Erik masih dengan gugup.
Tak lama kemudian, sopir yang menjemput papa Edward sudah datang.
"Papa pulang dulu," pamitnya.
"Iya pah hati-hati."
Papa Edward pun meninggalkan rumah Erik.
"Kenapa papa bertanya seperti itu? Apa jangan-jangan papa mencurigai aku? Apa jangan-jangan papa tau kalau Dara mengandung anakku?" Gumam Erik.
__ADS_1
Sementara itu, Byanca dan Evan yang tengah di perjalanan menuju apartemen mereka. Mereka di landa perasaan yang sangat lega. Usai mengetahui semua kebenarannya.
Namun Evan, ia tetap saja tak bisa menyembunyikan penyesalan karna pernah tidur dengan Dara, walau--pun itu memang jebakan. Namun tetap saja Evan merasa sangat bersalah dan hina, dihadapan Byanca. Walau Byanca sudah memaafkannya.
"Sayang, maafkan aku."
"Sudahlah mas, akukan sudah bilang yang lalu biarlah berlalu. Bukannya mas sendiri yang menginginkan kita membuka lembaran baru?" Byanca tersenyum kearah Evan, yang tengah mengemudikan mobilnya.
Sebelah tangan Evan meraih tangan Byanca, ia mengucap tangan Byanca berkali-kali. Evan merasa sangat beruntung mendapatkan Byanca.
Byanca semakin melebarkan senyumannya, ia bahagia.
"Ya tuhan terima kasih engkau sudah memberiku kesempatan bersama lagi dengan istriku. Aku berjanji akan selalu membahagiakan kamu By!" batin Evan.
Bersambung...
Maaf ya baru sempat up, mood nulis lagi ancur kemarin tuh. Hehe
Part selanjutnya, Erik sama Dara ya.
Jangan lupa like, komen dan votenya.
Terima kasih.
Kalian penyemangat ku...
__ADS_1
I love u