SESAL USAI TALAK

SESAL USAI TALAK
Part 24 PENYESALAN EVAN


__ADS_3

Evan bergegas dari rumahnya, ia melajukan mobilnya meninggalkan rumah tersebut. Tujuan Evan sekarang adalah ke rumah Byanca. Untuk menjelaskan semuanya, berharap Byanca bisa memaafkannya, dan kembali padanya.


Walau pun Evan tau harapan itu, mungkin tidak ada. Tapi setidak-nya Evan akan berusaha sebisanya. Apa pun caranya Evan harus kembali kepada Byanca, Evan masih sangat-sangat mencintai Byanca. Kesalah pahaman fatal itu membuatnya, sangat begitu menyesali perbuatannya itu.


Evan mendengkus kesal, beberapa kali ia menekan klakson mobilnya, kemacetan jalan raya begitu padat. Membuat mobilnya susah bergerak. Hingga satu jam kemudian mobil Evan akhirnya lolos dari kemacetan jalan raya ibu kota itu.


Kini Evan kini sudah berada di depan rumah Byanca.


Rumah itu nampak sepi, bahkan gorder-gorder rumah tertutup rapat.


"Kenapa rumahnya seperti tidak berpenghuni?" Lirih Evan, lalu ia keluar dari mobilnya.


Sebuah mobil berhenti tepat di belakang mobil Evan.


"Pah bukannya itu mobil Evan?" Tanya Mamah Lyli kepada suaminya.


"Iya mah, mau apa dia kesini?" Wajah Papah Jhonatan terlihat penuh amarah. Lalu kedua orang tua Byanca itu menoleh kearah belakang, dimana Byanca tengah tertidur pulas di mobil tersebut.


"Sebaiknya kita turun mah, kita samperin Evan, apa maksud dia ke sini? Jangan bangunkan Byanca, papah tidak mau kalau Byanca dan Evan bertemu, Evan pasti melontarkan kata-kata kasar pada Byanca." Tutur Papah Jhonatan diangguki oleh istrinya, lalu mereka pun keluar dari mobilnya.


"Mau apa kamu?"


"Pah, Evan langsung mendekat kearah papah Jonathan, dan Evan meraih tangan mantan mertuanya itu, namun dengan cepat papah Jonathan menepisnya.


"Jangan pernah panggil saya papah, saya tidak Sudi." Tegas Papah Jhonatan, menatap tajam Evan.


"Pah, maafkan Evan, maaf Pah. Semua ini hanya salah paham Pah. Dalang dari semua masalah ini ibu Anita dan Kak Erik Pah, semuanya sudah terbongkar Pah. Evan mohon maafkan Evan Pah." Evan memohon.


"Evan menyesal Pah, tolong maafkan Evan Pah."


Papah Jhonatan tersenyum sinis. "Sudah saya duga. Tapi sayangnya penyesalan kamu terlambat tuan Evan Satria yang terhormat. Apa kamu tidak berpikir sebelum memutuskan sesuatu? Kamu sudah menyakiti anak saya, kamu sudah menghina anak saya. Yang jelas-jelas Byanca tidak pernah melakukan-nya. Apa kamu pikir itu semua bisa di maafkan begitu saja hah?" Ucap Papah Jonathan, penuh penekanan, meluapkan amarahnya.


Evan hanya bisa terdiam, bagai mendapat sebuah tamparan keras, yang di ucapkan oleh mantan mertuanya itu memang benar adanya. Evan tak bisa mengelak-nya.


"Kenapa kamu diam hah? Jangan pernah berharap kami akan memaafkan kamu Evan, walau pun kamu menangis darah, sampai kapan pun aku tidak akan memaafkan mu. Camkan itu." Sambung Papah Jonathan.

__ADS_1


"Tapi Pah---"


"Sudah saya bilang jangan pernah panggil saya papah, apa kamu tidak dengar."


"Evan sebaiknya kamu pergi." Pungkas Mamah Lyli. Untuk pertama kalinya, mamah Lyli melihat suaminya itu, marah seperti ini. Mamah Lyli takut terjadi hal yang tak dinginkan, jika Evan masih berada di hadapan mereka.


"Tapi mah, Evan mohon kasih Evan kesempatan untuk berbicara dengan Byanca. Evan mohon." Mohon Evan, dengan suara lirihnya.


"Saya bilang pergi, dan jangan pernah muncul lagi di hadapan kami." Bentak Papah Jonathan.


Evan menggelengkan kepalanya, "Evan tidak akan pergi sebelum Evan bertemu dengan Byanca Pah."


"Kamu ini benar-benar----" Papah Jonathan mengepalkan tanganya, sudah bersiap melayangkan tangannya kearah Evan, tapi...


"Pah cukup." Teriak Byanca. Mereka pun menoleh kearahnya. Byanca berjalan mendekat kearah mereka.


"By, kamu ngapain?" Tanya mamah Lyli.


"Pah, mah tolong tinggalkan Byanca. Byanca juga ingin berbicara dengan mas Evan!" Pinta Byanca.


"Tapi by---"


"Sudah Pah, berikan mereka waktu. Mamah yakin Evan tidak akan menyakiti Byanca." Ucap Mamah Lyli.


Evan dan Byanca kini masih terdiam, usai mereka melihat kedua orang tua Byanca masuk ke dalam rumahnya. Evan menatap Byanca dengan lekat, Byanca terlihat baik-baik saja. Ingin rasanya Evan memeluk Byanca, ia merasa rindu dengan wanita yang sangat ia cintai itu. Evan melangkah maju, mendekat kearah Byanca, sambil mengambangkan senyuaman-nya.


"Jangan mendekat!" Pinta Byanca, membuat Evan langsung menghentikan langkahnya, senyuman di wajah tampan Evan pun sirna. Apa lagi melihat wajah Byanca yang sama sekali tidak bersahabat, apa segitu bencinya-kah Byanca terhadapnya?


"Mau bicara apa?" Sambung Byanca, melipatkan kedua tanganya kedapan dada. Byanca mencoba menahan dirinya, jujur saya berdua dengan mantan suaminya saat ini, membuat Byanca merasakan lukanya tergores kembali. Sebisa mungkin Byanca menahan sesak yang memenuhi dadanya. Sudah cukup tidak akan ada lagi air mata. Byanca sudah berjanji tidak akan menangisi Evan lagi.


"Aku rindu kamu By?" Ucap Evan, dengan lirih, matanya berkaca-kaca.


Byanca menarik ujung bibirnya tersenyum tipis. "Rindu?" Senyuman Byanca berubah menjadi senyuman mengejek kepada Evan.


"Apa kamu tidak malu mas? Berkata rindu pada aku? Untuk apa kamu rindu kepada wanita murahan sepertiku?" Mata Byanca terlihat sudah mulai memerah.

__ADS_1


Evan langsung meraih tangan Byanca, "By, maafkan aku. Maaf aku sudah menuduh kamu yang tidak-tidak. Aku tau aku salah. Aku menyesal by tidak mempercayai kamu waktu itu."


Byanca langsung menepis tangan Evan dengan kasar.


"Menyesal? Sekarang kamu baru menyesal mas? Setelah apa yang kamu lakukan kepada aku, kamu menghina aku di depan semua orang. Sakit mas, sakit. Duniaku hancur saat itu, bahkan kamu langsung menjatuhkan talak tiga kepadaku." Amarah Byanca memuncak, "penyesalan-mu sia-sia mas." Air mata Byanca yang sedari tadi ditahan-nya, lolos begitu saja membasahi pipinya. Namun dengan cepat Byanca mengusap air matanya itu.


"Aku tau by, aku mohon maafkan aku." Evan kembali meraih tangan Byanca, namun dengan cepat Byanca menepis tangan Evan kembali.


"Aku mencintaimu by, sangat mencintaimu. Aku mohon jangan tinggalkan aku." Lirih Evan.


"Kamu yang memaksa aku untuk meninggalkanmu mas, jangan pernah katakan cinta padaku, hatiku terlalu sakit mendengar semua itu, aku sudah tidak percaya cinta mas, pergilah, lupakan aku." Ucap Byanca, lalu berjalan dari hadapan Evan.


"Tolong jangan seperti ini by, beri aku kesempatan." Ucap Evan, melingkarkan tangannya ke perut Byanca, memeluk Byanca dari belakang.


Air mata Byanca mengalir deras, ia tak bisa lagi menahan semuanya, antara cinta dan benci Byanca kini rasakan. Jujur dalam hati Byanca, masih mencintai Evan, namun dirinya menolak hal itu. Terlalu sulit untuk memaafkan Evan, mungkin sampai kapan pun Byanca tidak bisa memaafkan Evan. Terlalu dalam luka yang Evan torehkan di hati Byanca dan sampai kapan pun Byanca tidak akan pernah bisa melupakannya. Byanca memejamkan matanya, mencoba menghentikan air mata yang terus mengalir dari matanya.


Lalu Byanca melapaskan tangan Evan yang melingkar di perutnya, dengan sekuat tenaga, karna memang Evan memeluknya sangat erat.


"Lepaskan mas." Evan pun perlahan melepaskan pelukannya itu.


"Pergi mas, jangan pernah temui aku lagi. Tidak ada kesempatan lagi mas. Apa kamu lupa, kamu sudah menalak aku talak tiga mas, kita tidak akan pernah bisa bersama. Aku akan melupakanmu, aku akan memulai hidup baruku, jangan pernah ganggu aku. Dan muncul lagi di kehidupan aku." Bibir Byanca bergetar saat mengucapkan kalimat itu. Di iringi dengan sesak di dadanya. Lalu Byanca berlari memasuki rumahnya.


"By... Byanca, aku mohon maafkan aku." Teriak Evan, namun Byanca tak memperdulikannya.


"Aku mencintaimu by..." Ucap Evan, suaranya melemah, air mata pun terlihat membasahi wajahnya.


Dunia Evan serasa runtuh, harapan Evan seketika lenyap.


Durrrr....Durrrr...


Suara petir terdengar, langit mulai gelap, bertanda hujan akan tiba, Evan masih mematung di depan rumah Byanca, rintikan air hujan sudah mulai menetes membahasi tubuhnya. Namun Evan tak menghiraukannya.


"Aku tidak akan pernah bisa melupakan kamu by, aku sangat mencintai kamu, aku tidak bisa hidup tanpa kamu by. Ya tuhan kenapa semua jadi seperti ini. Aku mencintainya tuhan, beri aku kesempatan untuk kembali padanya, aku janji tidak akan pernah menyakitinya lagi, aku berjanji akan selalu membahagiakannya." Tangisnya Evan pecah, air matanya turun bersama dengan tetesan air hujan yang membasahi wajahnya.


Langit ikut bersedih, menyaksikan kedua insan yang masih saling sayang, namun tidak akan pernah bisa di persatuan. Air hujan menjadi saksi begitu menyesalnya Evan.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa like, komen dan Votenya.


__ADS_2