
"Bang seefood dua porsi ya!"
"Siap!"
"Jangan lama-lama ya bang."
"Iya, sebenatar bang, habis punya si abang ini!" jawab penjual tersebut, memancingkan matanya kearah Evan yang sedang duduk menunggu pesanannya, sambil memainkan gawai-nya.
Laki-laki itu menganggukan kepalanya, ia menoleh kearah Evan yang tengah fokus dengan memainkan gawai-nya itu.
"Astaga! Itukan Evan!! Eh benarkan itu Evan? Apa aku salah lihat? Apa cuman mirip saja!" gumamnya.
Sementara Evan yang tengah asik memainkan gawai-nya itu, ia merasa tidak asing dengan suara yang yang ia dengar barusan, yang baru saja memesan kepada penjual seefood tersebut.
"Suara itu? Aku merasa tidak asing dengan suaranya! Bukankah itu suara---" ucap Evan dalam hatinya.
Lalu Evan mengalihkan pandangannya dari ponsel tersebut, kepada orang yang baru saja memesan makanan itu. Begitu juga dengan laki-laki tadi, mereka menoleh bersamaan.
"Kak Erik!!"
"Evan!!" ucap mereka bersamaan. Keduanya langsung mendekat, senyuman terulas di wajah mereka masing-masing. Erik langsung memeluk Evan, sudah lama mereka tidak jumpa, Erik tak menyangka akan bertemu dengan Evan. Selama ini Erik tinggal di pinggiran kota, setelah di usir dari keluarga Evan.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Erik, usai mereka melepaskan pelukan tersebut.
"Baik kak!" jawab Evan. Tidak ada raut wajah kemarahan atau kebencian dari Evan, ia sudah memaafkan Erik.
Evan berusaha menjadi orang yang tidak pendendam, memaafkan semua kesalahan Evan. Karna dulu juga Erik pernah meminta maaf dan bersujud di kakinya. Pertemuan terakhir mereka pada saat Erik meminta bantuan kepada Evan, meminta uang untuk biaya rumah sakit mamah Anita. Dan setalah itu mereka tidak pernah bertemu lagi, bahkan anak buah Edward tidak menemukan keberadaan mereka. Erik memang sengaja menghindar dari mereka, seperti janjinya waktu itu kepada Evan, bahwa ia tidak akan menganggu keluarga Evan lagi dan Erik menepati janjinya itu.
"Kakak kemana saja? Kalain hilang begitu saja selama ini," lanjut Evan bertanya.
"Aku masih di kota ini, tapi maaf aku tidak akan memberitahu kamu aku tinggal dimana, seperti janjiku, aku tidak akan menganggu kalian lagi."
__ADS_1
"Maafkan atas kesalahanku dulu Van, aku sudah menyesali semuanya," lanjut Erik, matanya terlihat berkaca-kaca.
Demi apapun Erik dan mamah Anita sudah menyesali semua perbuatan dulu. Dan mereka kini berusaha sebisa mereka menjadi orang yang lebih baik, ya walaupun kehidupannya sekarang berbeda seratus delapan puluh derajat, namun baik Erik ataupun mamah Anita dia tidak mengeluhkan semuanya, mereka menganggap bahwa semua yang tengah mereka hadapi saat ini adalah karmanya. Ini semua mungkin sudah jalan takdir mereka, hukuman dari tuhan untuk mereka.
"Sudahlah kak, tidak usah di bahas lagi. Aku sudah memaafkan kalian."
"Terima kasih Van, semoga kalian selalu dilimpahkan kebahagian."
"Amin, terima kasih kak. Oh iya bagaimana kabar mamah Anita?" tanya Evan kemudian.
Senyuman Erik sedikit meredup, ketika Evan menanyakan kabar mamah Anita, mengingat mamahnya itu kini tengah berbaring lemah di rumah sakit akibat sakit jantung yang beberapa bulan ini selalu menyerangnya. Namun dibalik itu Erik merasa beruntung pernah menjadi bagian dari keluarga Evan, sikap mamah Anita dulu yang sangat buruk terhadap Evan dan papa Edward, namun Evan kini masih memperdulikan wanita itu.
"Ada apa kak? Apa ada masalah?" tanya Evan lagi, Evan melihat raut wajah Erik yang terlihat gurat kesedihan.
Jujur saja melihat kondisi Erik yang sekarang Evan merasa sangat iba, tubuhnya terlihat kurus, pakaian yang terlihat sangat lusuh. Jelas berbeda dengan Erik yang dulu, Erik yang mempunya badan atletis berisi, dengan setelan jas yang selalu membalut tubuhnya. Sebenarnya apa yang terjadi? Apa kini Erik sesulit itu kondisinya? Entahlah.
"Tidak, semuanya baik-baik saja Van," jawab Erik, berbohong.
Tentu saja Erik berbohong bukan tanpa alasan, dia tau bagaimana sikap Evan, dia pasti tidak akan tinggal diam jika tau mamah Anita kini tengah terbaring lemah di rumah sakit, Erik tidak mau kalau dia masuk kembali kehidupan Evan.
"Tidak, aku baik-baik saja. Tidak usah khawatir," Erik mencoba meyakinkan Evan.
"Ini pesanannya sudah jadi," ucap penjual seefood tersebut, yang sudah menyelesaikan pesanan milik Evan, dan memberikan pesanan tersebut.
"Oh iya terima kasih." Evan mengambil pesanan tersebut. Lalu membanyarnya.
"Ini bang uangnya, sekalian sama pesanan yang itu ya!" Erik memberikan beberapa lembar uang berwarna merah kepada penjual seefood tersebut dan sekalian membayarkan pesanan Erik.
"Van padahal tidak usah repot-repot, aku bisa membayarnya sendiri!" ucap Erik, ia merasa tidak enak karna Evan membayarkan makanannya.
"Tenang aja kak, tidak apa-apa kok sekalian."
__ADS_1
"Aku duluan ya kak!" lanjut Evan berpamitan, sebenarnya masih banyak yang ingin Evan tanyakan kepada Erik, namun mengingat lagi Byanca yang sudah menunggu makan tersebut, Evan mengurungkan niatnya.
"Baiklah, hati-hati. Terima kasih!" ucap Erik. Evan menganggukan kepalanya.
"Ini untuk kak dan mamah, aku tau kalian sedang tidak baik-baik saja. Semoga bisa membantu!" ucap Evan sebelum ia pergi, ia memberikan uang yang jumlahnya lumayan banyak kepada Erik. Usai itu Evan segara berlalu dari sana.
Erik memandangi punggung Evan, tanganya masih memegangi uang yang baru saja Evan berikan. Sebenarnya Erik ingin menolaknya, namun Evan berlalu begitu saja dan langsung melajukan mobilnya.
"Ya tuhan, Evan aku semakin merasa bersalah denganmu, kamu masih saja memperdulikan aku dan mamah, bahkan kamu memberikan uang sebanyak ini kepada kami." Gumam Erik.
Sebenarnya Erik--pun sama ia ingin menanyakan banyak hal kepada Evan, tapi Erik mengurungkan niatnya, rasanya itu tidak perlu dia tanyakan. Di tambah Evan terlihat sangat terburu-buru. Namun Erik tak bisa membohongi dirinya, bahwa ia merasa senang bertemu dengan Evan, apalagi Evan memberikan ia uang yang cukup banyak.
"Alhamdulillah, uang ini bisa aku gunakan untuk tambahan pembayaran operasi mamah, sepertinya masih ada sisinya, aku bisa memberikan sisinya kepada istriku, untuk mengganti uang tabungannya!" ucap Erik pelan.
Tak lama kemudian, pesanan miliknya--pun selesai. Erik langsung kembali ke rumah sakit.
***
Sementara itu, Evan kini tengah melajukan mobilnya menuju apartemen-nya kembali.
"Aku harus mencari tau tentang kondisi kak Erik dan Mamah Anita, walau bagaimana--pun mereka pernah menjadi bagian dari keluargaku," ucap Evan.
Lalu Evan mengambil ponselnya, ia mengirimkan pesan kepada salah satu orang kepercayaannya untuk memata-matai Erik. Tidak ada rencana buruk, hanya saja Evan ingin memastikan keadaan mereka baik-baik saja.
Bersambung...
Jangan lupa like, komen dan Votenya.
Masih penasaran gak nih? Hehe
Tetap ikutin terus kelanjutanya sampai tamat ya!!
__ADS_1
Jangan bosen-bosen oke...Hihi
Terima kasih.