SESAL USAI TALAK

SESAL USAI TALAK
Part 13 KEMARAHAN EVAN


__ADS_3

Taksi yang Byanca tumpangi sudah sampai didepan rumah orang tua Evan.


Byanca turun dari taksi tersebut, usai membayar ongkos taksi tersebut.


Byanca menatap heran dan penuh tanya, di kediaman orang tua Evan seperti ramai orang. Dan mobil orang tau Byanca juga berada disana.


"Ada apa ini, kenapa mobil papah juga ada disini?" --Batin Byanca.


Byanca langsung berjalan kedalam rumah tersebut.


Pintu rumah terlihat terbuka, Byanca melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah itu.


Dan Byanca terkejut, ketika melihat semua anggota keluarga Evan, dan orang tuanya Byanca berada disana, mereka berkumpul diruang tamu.


Mereka yang melihat kedatangan Byanca, terlihat menatap Byanca dengan tatapan yang sulit diartikan, apa lagi Evan, suami Byanca itu terlihat menatap begitu tajam kearah Byanca.


Byanca menundukan kepalanya. Perasaannya mulai tidak enak.


"By, sini." Panggil Mamah Lyli.


Byanca berjalan menuju arah mamahnya, itu dan duduk disamping mamahnya.


"Ma-aaf, ada ap-a ini?'' Tanya Byanca terbata-bata, ia memberanikan diri untuk berbicara, dan mengangkat kepalanya menatap kearah semua orang yang ada disana.


Namun semua orang terlihat diam, tidak ada yang menyahut pertanyaan Byanca tersebut.


Lalu Byanca menatap kearah mamahnya.


"Mah, ada apa ini?" Tanyanya.


Mamah Lily, melihat kearah suaminya sekilas.


Papah Jonathan terlihat mengangukan kepalanya.


"By, Evan sudah menceritakan semuanya sama kita semua." Tutur mamah Lyli. Wanita itu terdiam sejenak sambil menatap Byanca dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Apa benar yang dikatakan Evan?"


"Mamah, apa mamah tidak percaya dengan Byanca. Mah mamah kenal siapa Byanca mah, Byanca tidak mungkin melakukan hal sehina itu." Sangrah Byanca, dengan air mata yang sudah mengalir deras membasahi pipinya.


Mamah Lyli, langsung mendekap anaknya itu. Yang dikatakan Byanca memang benar, ia tahu anaknya itu bagaimana, ia juga tidak percaya dengan apa yang dikatakan menantunya itu, bahwa Byanca sudah menghianatinya. Mamah Lily merasa ada yang sengaja menjebak anaknya itu.


"Sudahlah Byanca, sudah cukup air mata buaya kamu! Kami tidak menyangka, ternyata dibalik sikap kamu yang lugu itu, diam-diam kamu sangat licik ya, bisa-bisanya kamu merayu kakaknya Evan! Dasar wanita murahan." Sahut Anita, dengan kejamnya.


"Diam kamu." Pekik Edward, menatap tajam kepada istrinya itu.


"Memang benarkan, kenyataanya seperti itu, sudah menikah dengan Evan, eh masih merayu Erik kakak iparnya sendiri." Sambung Anitam


"Saya bilang diam." Pekik Edward kembali, dengan pita suara yang tinggi.

__ADS_1


Anita memutar bola matanya, dan ia pun terdiam. Karna suaminya semakin menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam.


Sedangkan Erik, dia hanya menundukkan kepalanya, namun dalam hatinya ia tersenyum penuh kemenangan.


Papah Jonathan yang mendengar ucapan Anita yang merendahkan dan menghina putrinya itu merasa tak terima, raut wajah papah Jonathan terlihat penuh amarah. Namun mamah Lily mencoba menahan agar suaminya itu tidak meluapkan amarahnya.


Mamah Lily mengusap halus pundak suaminya itu, sambil menggelengkan kepalanya. Papah Jonathan terlihat menarik napas dalam-dalam, dan membuangnya perlahan, mencoba meredakan amarahnya. Sedangkan Byanca ia masih terisak diperlukan mamahnya.


"Byanca, Evan sudah menjelaskan semuanya kepada kami? Papah minta kamu jawab dengar jujur, apa benar semua itu nak?" Kini Edward yang bertanya, mertua Byanca.


"Tidak Pah, sumpah Byanca tidak melakukan apa-apa dengan kak Erik, sepertinya ada yang menjebak kita Pah." Sangkal Byanca, disela isak tangisnya.


Erik terlihat tersenyum sinis, "By, kamu jujur saja, jangan menutupinya." Sahut Erik.


"Maksud kamu apa kak?" Teriak Byanca.


"Sudah cukup." Teriak Evan.


Lalu Evan menatap kearah Byanca.


"BYANCA ALMAHAERA, MULAI DETIK INI SAYA EVAN SATRI MENTALAK TIGA KAMU, KAMU SEKARANG SUDAH TIDAK MENJADI ISTRI SAYA LAGI" Ucap Evan dengan lantang, Evan mentalak tiga Byanca.


Semua orang terlihat membulatkan matanya, mereka terkejut mendengar ucapan Evan itu.


Sedangkan Anita dan Erik, mereka terlihat tersenyum penuh kemenangan.


"Hahaha, akhirnya rencana-ku berhasil."---Batin Anita.


Degg...


Byanca terlihat menggelengkan kepalanya. Tangisnya semakin pecah.


"Mas, apa maksud kamu?" Tanya Byanca, menatap kearah Evan.


Evan tersenyum sinis. "Apa ucapanku kurang jelas Byanca, apa aku harus mengulangnya lagi hah?" Bentak Evan, dengan penuh amarah.


"Evan, apa yang kamu lakukan?" Sahut papah Edward.


"Sudah Pah, Evan tidak mau mempunyai istri yang sudah murahan seperti dia."Evan menunjuk kearah Byanca.


Papah Edward terlihat mengelengkan kepalanya, ia masih terkejut dan tak percaya bahwa Evan dengan mudahnya mentalak tiga Byanca.


"Evan, sebaiknya kamu dengarkan dulu penjelasan Byanca! Papah tidak percaya bahwa Byanca melakukan semua itu, ini semua pasti ada yang sengaja menjebak Byanca." Edward mencoba, mengingatkan putranya itu.


"Papah yakin, ini semua pasti sudah ada yang merencanakan, papah akan cari tau siapa yang melakukan ini, dan jika sudah ketahuan orang nya papah pastikan dia tidak akan hidup tenang, dan akan menyesal telah bermain-main dengan keluarga kita." Lanjut Edward, sekilas ia melihat kearah Anita dan Erik.


"*A*nita, Erik awas saja jika dalang semua ini adalah kalian, aku tidak akan pernah memberi kalian ampun." --batin Edwar.

__ADS_1


Edward, mencurigai bahwa yang melakukan semua ini adalah istri dan anak tirinya, Anita dan Erik yang mendengar ucapan Edward tersebut. Tiba-tiba perasaan mereka gelisah. Rasa was-was mulai terasa dihati mereka. Namun dengan seribu cara mereka mencoba menyembunyikan kegelisahan tersebut, agar Edward dan yang lainya tidak mencurigainya.


"Sudah Pah, papah tidak usah membela perempuan murahan itu!" Tegas Evan.


Papah Jonathan yang sedari tadi terdiam, sambil menahan amarahnya, kini ia terlihat sudah tidak bisa menahannya lagi, gejolak amarah didalam tubuh ya semakin jadi. Papah Jonathan yang mendengarkan ucapan Evan, yang terus merendahkan dan menghina secara terang-terangan anaknya itu, membuatnya merasa muak.


"Sudah cukup Evan, sudah puas kamu menghina anak saya?" Bentak papah Jonathan dengan napas memburu, papah jonathan berdiri dari duduknya, lalu mantap tajam kearah Evan.


"Mungkin memang benar seharusnya kalian berpisah saja, saya juga tidak sudi memiliki menantu seperti kamu! Saya harap kamu tidak akan pernah menyesali perbuatan kamu ini." Bentak papah Jonathan lagi, sambil menunjuk-nunjuk wajah Evan. Kemarahan sudah menguasai papah Jonathan.


Mamah lily, mencoba menenangkan suaminya itu.


"Sudah Pah, sudah."


Sedangkan Byanca, ia tidak berucap apa-apa, wanita itu terlihat menangis, menahan sakit dihatinya.


Hatinya terasa hancur berkeping-keping, bagaimana tidak, baru saja beberapa hari menikah dan merasakan hati-hati bahagianya sebagai pengantin baru. Kini kenyataan pahit harus Byanca terima, Evan suaminya dengan tega mentalak tiga Byanca.


"Ayo kita pulang Byanca, sudah kamu jangan menangis laki-laki yang tidak punya hati ini." Ucap papah Jonathan, sambil membantu Byanca berdiri dari duduknya. Lalu mamah Lily dan papah jonathan memapah membantu Byanca berjalan.


Byanca tak bergeming sama sekali, ia hanya menuruti kedua orang tuanya itu. Seluruh badan Byanca terasa lemas. Byanca merasakan separuh hidupnya tidak ada.


Meraka pun keluar dari kediaman Edward tersebut, orang tau Byanca membawa Byanca pulang kerumah mereka.


Anita dan Erik, langsung beranjak dari sana. Mereka terlihat menghindar, karna takut Edward akan mencurigai mereka.


Kini hanya ada Evan dan papah Edward yang masih duduk di sofa ruang tamu tersebut.


Evan terlihat menundukan kepalanya, dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Papah Edward menatap anaknya itu, yang terlihat frustasi.


"Papah tidak habis pikir sama kamu Evan, papah benar-benar tidak mengerti. Papah harap kamu tidak akan pernah menyesali semua tindakan kamu ini." Pekik Papah Edward, lalu beranjak dari sofa tersebut. Meninggalkan Evan.


Evan mengangkat kepalanya, lalu menatap kepergian papahnya itu.


Rasa sesak, serta sakit dihatinya gak bisa Evan pungkiri. Kini rasa sesal pun menghinggapi di hati Evan, karna sudah mentalak tiga langsung istrinya itu.


Pernikahan yang baru saja beberapa hari itu, kandas begitu saja. Evan tak bisa membohongi hatinya, kalau ia sangat-sangat mencintai Byanca.


"*K*enapa kamu lakukan ini Byanca. Kenapa? Padahal aku sangat mencintaimu kenapa kamu menghianatiku."--batin Evan.


Bersambung...


Jangan lupa like, come dan Votenya.๐Ÿ˜Œโค๏ธ


Maaf ya baru sempat up, ๐Ÿ˜Šsebenarnya pengen benget banget up tiap hari, tapi apalah daya waktu yang ku punya masih tidak cukup๐Ÿ˜Œ๐Ÿ˜Œ๐Ÿ˜†๐Ÿคญ

__ADS_1


Terima kasih.๐Ÿ™โค๏ธ


Salam Halu๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ


__ADS_2