
Hari ini Byanca dan Evan mendatangi tokoh agama setempat, mereka di dampingi oleh orang tua mereka masing-masing. Sebelumnya mereka sudah menanyakan kepada ustad tersebut, bagaimana hukum talak dan ustad tersebut menjelaskan, bahwa talak yang pernah Evan jatuhkan kepada Byanca itu sah, walaupun Byanca tengah mengandung anak dari suaminya.
Rasulallah bersabda: "Silahkan talak istrimu, dalam keadaan suci atau ketika sedang hamil," (HR. Ahmad dan muslim).
Jadi kesimpulannya pun sama, bahwa cerai saat hamil pun di perbolehkan. Selain itu dalam aturan hukum--pun memperbolehkan suami menggugat cerai istrinya dalam keadaan hamil.
Itu sih setau saya ya temen-teman. Dalam hukum Islam jika sang suami mentalak istrinya dalam keadaan hamil--pun, talak tersebut sah.
Evan mengucapkan ijab kobul untuk yang kedua kalinya, mereka menikah hanya secara agama saja, karna mereka belum mengajukan perceraian ke pengadilan agama, secara hukum mereka masih sepasang suami istri.
Setelah semau selasai, mereka-pun meninggalkan rumah ustad tersebut, papa Jonathan dan mamah Lyli langsung pulang ke rumah mereka, begitu juga dengan papa Edward. Sedangkan Byanca dan Evan, mereka kini akan memulai hidup mereka kembali, seperti keputusan awal mereka, mereka akan tinggal di apartemen sementara, karna mereka masih memilih rumah untuk di beli.
Evan dan Byanca kini sudah sampai di apartemen tersebut, senyum bahagia mengambang dari sudut bibir keduanya.
"Capek ya?" tanya Evan kepada Byanca, wanita itu hanya memberikan cengiran sambil memegangi pinggangnya yang terasa pegal, wajar saja kehamilannya kini sudah memasuki usia hampir tujuh bulan, perutnya semakin menonjol.
"Istirahat saja sayang, duduk dulu. Mas ambilin minum dulu ya!" Byanca menganggukan kepalanya, Evan mengiring Byanca menuju sofa, membantu wanita itu duduk. Setalah itu Evan menuju dapur.
"Ya tuhan, terima kasih. Semoga kebahagian ini akan selamanya ada. Nak sekarang kita sudah sama-sama lagi, bunda, ayah sudah bersama nak, kamu sehat-sehat ya. Kita sangat menantikan kamu dan menyayangi kamu!" Gumam Byanca, tanganya mengelus lembut perutnya.
Tak lama kemudian Evan datang dengan satu gelas air putih yang ada di tanganya. Evan langsung menghampiri Byanca, ia duduk di samping istrinya itu, lalu memberikan gelas tersebut kepada Byanca.
"Minum dulu sayang."
"Terima kasih mas!" Byanca mengambil gelas tersebut, lalu meneguk air putih yang ada di gelas tersebut.
"Terima kasih sayang, kamu sudah memberikan mas kesempatan. Mas janji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, mas akan bahagiakan kamu dan calon anak kita!" ujar Evan, netranya menatap lekat Byanca penuh cinta, lalu mengusap perut Byanca.
"Sama-sama mas."
"Oh iya sayang, kamu laper gak? Kita cari makan yuk!" ajak Evan. "Mas lupa belum cari asisten rumah tangga buat kita, jadi belum ada yang masakin kita sayang!" lanjut Evan.
"Laper mas, aku masak aja ya mas. Ada bahan-bahan buat di masak gak?"
__ADS_1
"Gak usah sayang, kita pesanan makan online aja ya. Lagian kamu itu gak boleh capek-cepek, kesayangan aku gak boleh kerja berat-berat pokonya, mas janji besok di sini sudah ada art buat bantu kita oke!"
Byanca mengerutkan bibirnya, "masak gak akan capek mas!!"
"Pokonya gak boleh, kita beli aja buat hari ini. Lagian di kulkas gak ada bahan makan apa-apa sayang!"
"Ya udah deh, tapi aku pengen makan yang pedes-pedes ya. Minumnya pengen yang dingin," pinta Byanca.
"Ih gak baik sayang, abis makan pedes terus minumnya yang dingin, nanti pencernaan kamu terganggu. Lagian harusnya ibu hamil itu makannya yang bergizi-gizi, bukan makan pedes. Pedes emangnya menanggung vitamin hmm?" tanya Evan.
"Mengandunglah, '' jawab Byanca, memalas.
"Apa hmm?"
"Gak tau, jangan tanya aku tanya ahli gizi sana! Mas katanya mau bahagian aku sama Dede bayi, tapi mana buktinya? Ini bukan mau aku ini maunya Dede bayi, iya kan de ya!!" Byanca terlihat merajuk, ia mengelus perutnya, seolah ia sedang berbicara dengan calon anak yang masih dalam perutnya itu.
"Iya deh iya, tapi jangan banyak-banyak ya makan pedesnya!" Evan--pun pasrah.
Cup
Evan terdiam, usai mendapat kecupan dari Byanca ke pipinya. Jujur Evan sangat merasa bahagia, sudah lama sekali ia tak merasakan kecupan dari bibir wanita yang sangat ia cintai itu.
"Mas kok diem sih? Cepet pesenin!'' rengek Byanca, sambil bergelayut manja di tangan Evan.
"Lagi..." Evan mendekat pipinya kearah Byanca.
"Lagi apa mas?"
"Ini," Evan menunjuk pipinya.
Cup Byanca mencium pipi Evan lagi.
"Satu lagi," kini Evan menunjuk pipi yang sebelahnya lagu.
__ADS_1
Cup.
"Ini," Evan menunjuk keningnya, dan lagi-lagi Byanca menurutinya.
Cup.
"Udah ah mas, laper nih." Rajuk Byanca, usai mencium kening suaminya.
"Ini belum," Evan menunjuk bibirnya. Sambil tersenyum menggoda Byanca.
"Itu mah, nanti malam aja mas." Bisik Byanca.
"Bener ya?"
"Iya suamiku."
Evan mengambangkan senyumannya, ia--pun meraih ponselnya, laku memesan makanan online dari ponselnya.
Huh sekarang rasanya Evan ingin cepat-cepat malah saja.
Bersambung...
Like
Komen
Vote
Jangan lupa ya!!
See u
Terima kasih.
__ADS_1