
Malam harinya.
Byanca dan Evan sudah berada di atas ranjang, Byanca bersandar di kepala ranjang, sedangkan Evan ia merebahkan tubuhnya, dengan paha Byanca yang di pakaian natalan oleh kepalanya. Sesuatu yang sangat membahagiakan.
Byanca mengusap kepala Evan, menyugar-nyugar rambut suaminya itu. Sedangkan Evan ia terlihat begitu menikmati sentuhan tangan Byanca yang berada di kepalanya.
"Oh iya sayang, gak apa-apakan kalau kita cukup lama tinggal di apartemen ini? Soalnya mas masih cari rumah yang cocok untuk kita!" ujar Evan.
"Emang mas mau beli rumah lagi? Bukanya sebelum kita menikah waktu itu mas sudah membelinya?"
"Iya, tapi mas rasa itu gak cocok, mas mau rumah yang halamannya luas, biar kita nanti bisa buat tanam bermain untuk anak-anak kita!" Evan terkekeh, ia membayangkan sepertinya bagus, kalau rumah yang halamannya luas, bisa di bikin area bermain anak-anaknya kelak.
"Baiklah mas, terserah mas saja."
"Tapi gak apa-apa kita tinggal di apartemen ini dulu?"
"Gak apa-apa mas, gak masalah," jawab Byanca. Evan melebarkan senyumannya. Jujur saja Evan sekarang berasa sedang bermimpi bisa kembali dengan Byanca, wanita yang amat di cintainya.
"Tidur yuk mas, aku ngantuk!" ajak Byanca.
"Sekarang?" Byanca menganggukan kepalanya.
"Jangan sekarang, minta waktu satu jam aja deh!" seru Evan.
"Satu jam, untuk?"
__ADS_1
"Sayang, udah lama nih," ujar Evan, matanya menatap kearah bawah sana.
Byanca tersipu malu, terlihat wajah wanita itu merah merona.
"Mas janji kok, mainnya lembut. sekalian pengen tengok baby kita," Evan tersenyum menggoda Byanca. Byanca--pun menganggukan kepalanya pelan, wajahnya semakin memerah.
Antara gugup dan tak sabaran Evan mulai menyerang istrinya itu, sampai keduanya larut dalam kehangatan tersebut.
***
Sementara itu di tempat lain.
Seorang laki-laki tengah getar-getir, raut wajahnya terlihat penuh kekhawatiran bercampur bingung. Sudah beberapa kali ia bolak-balok menuju administrasi rumah sakit. Meminta keringan biaya, namun sepertinya tidak ada keringanan untuknya.
Lalu ia kembali sebuah ruangan rawat inap, dengan wajah putus asa-nya.
Ia melangkah gontai memasuki ruangan rawat inap tersebut, bukan ruangan VIP, hanya ruangan biasa yang tertutup tirai dengan pasien lainya.
"Bagaimana mas?" Tanya seorang wanita, yang sedang menunggu salah satu anggota keluarganya itu.
Dia menggelengkan kepalanya, dengan raut wajah sendunya. Wanita itu mengelus bahu sang suami dengan lembut mencoba memberi ketegaran untuk suaminya.
"Akukan sudah bilang mas, pakai tabungan aku saja!" ujarnya.
"Tidak, itu simpan saja itu uang untuk biaya lahiran kamu, kamu taukan, aku belum dapat perkerjaan yang tetap untuk menghidupi kita semua, aku takut nanti tidak bisa menggantinya." Tolaknya.
__ADS_1
"Waktunya masih lama mas, masih ada beberapa bulan lagi, usia kandunganku baru enam bulan juga. Sebaiknya pakai saja mas, aku akan mengambilnya sekarang!" keukeh wanita itu, sambil berajak.
"Jangan," cegahnya, ia menarik tangan sang istri.
"Mas, aku mohon. Kasian mamah," ia memelas agar suaminya, mengizinkannya.
"Tidak, aku bilang tidak ya tidak! Lagian tabungan itu tidak akan cukup juga untuk biaya operasi itu," tegasnya.
"Setidaknya kita bisa bayar dulu uang mukanya mas, kita cari pinjaman buat nanti pelunasannya, mamah harus segara di operasi mas!"
Laki-laki itu terlihat terdiam sejak, mencerna semua perkataan istrinya.
"Bagaimana?"
"Ya sudah, aku janji akan menganti uang itu secepatnya. Terima kasih sudah mau berkorban untuk mamah!"
"Tidak usah di pikirkan mas, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Selain kalian," ujar wanita itu, sambil tersenyum tulus.
"Ya sudah, ayo mas antar kamu mengambil uangnya." Wanita itu mengangguk, lalu mereka--pun berlalu dari ruangan rawat tersebut.
Bersambung...
Jangan lupa like, komen dan Votenya ya!!
Terima kasih.
__ADS_1
Aku sudah bilang dari awal kalau novel ini, konfliknya emang agak berat. Semoga kalian bisa menikmatinya.🤭🤭🤭