
Byanca terlihat sudah rapi, wanita itu memakai dress selutut, berwarna peach. Byanca mengambil tas dan ponselnya. Lalu keluar dari kamarnya.
"Mau kemana by?" Tanya mamah Lyli, melihat kearah Byanca yang sudah terlihat rapi.
"Aku mau keluar sebentar mah," jawab Byanca. Wanita itu menghampiri mamah Lyli dan papa Jonathan yang tengah bersantai. Kebetulan hari ini hari weekend jadi papa Jonathan ada di rumah.
"Sini By, duduk. Ada yang ingin papa bicarakan!" titah papa Jonathan menepuk sofa di sampingnya yang masih kosong. Byanca mengangguk patuh, wanita itupun duduk di sebelah sang papa.
"Apa Pah?"
"Papa mau minta maaf, semalam papa gak bermaksud membentak kamu!" ucap Jonathan wajahnya dipenuhi dengan penyesalan.
Byanca mengulas senyumannya, "tidak apa-apa pah. Papa tidak perlu minta maaf."
Papa Jonathan ikut tersenyum, lalu ia menghelai napasnya. Benaknya berpikir, bagaimana cara memberitahu Byanca, tentang Evan.
Mamah Lyli, menyenggol tangan suaminya dengan sikutnya. Memberi isyarat, agar suaminya mengatakan yang sebenarnya.
"Emm, by..." panggil papa Jonathan, ia masih bingung serta ragu untuk membicarakan kebenaranya, tapi seperti yang sudah dibicarakannya dengan sang istri semalam. Walau bagaimana--pun Byanca harus mengetahuinya.
"Iya pah."
"Papa mau bicara tentang Evan!"
__ADS_1
"Mas Evan?" Byanca langsung menghelai nafasnya, Byanca sudah bisa menebak pasti papanya tidak akan menyetujui kembalinya ia bersama Evan.
Papa Jonathan menganggukan kepalanya pelan.
"Iya pah, Byanca akan menuruti kata-kata papa," ucap Byanca. "Byanca tidak akan kembali dengan mas Evan," Byanca mengulas senyuman keterpaksaannya.
Jujur hati dan pikiranya masih bergelut, hatinya seakan menentang semua ucapan yang baru saja Byanca lontarkan.
"Bukan itu By," sahut Mamah Lyli. Byanca langsung menatap kedua orang tuanya bingung.
"Semua keputusan ada padamu By, ada sesuatu yang ingin papa sampaikan sama kamu, tentang Evan." jelas papa Jonathan.
"Apa?"
Air mata Byanca mengelar deras, mamah Lyli mendekap Byanca, mencoba menenangkan putri kesayangannya itu.
"Kenapa mah, Pah. Mas Evan begitu tega melakukan ini sama aku?" ucap Byanca lirih, dengan isakkan tangis yang semakin dalam dan pilu.
"By, papakan sudah menjelaskan sayang. Kalau Evan itu di jebak. Evan tak sengaja melakukan itu, saat itu Evan sedang kacau, dan ada orang yang memanfaatkan situasi itu!" jelas Mamah Lyli, ia mencoba membuka hati Byanca, karna mamah Lyli takut Byanca sampai membenci Evan, walau bagaimana--pun, Byanca kini sedang mengandung anak Evan.
"Tapi kenapa harus dengan Dara, Dara itu sahabatku," lirih Byanca lagi, masih dengan isakkan tangisnya.
Papa Jonathan dan mamah Lyli hanya bisa menangkan Byanca, ia tau pasti Byanca sangat terluka, mereka merasa sangat tidak tega. Tapi harus bagaimana lagi...
__ADS_1
Mamah Lyli melepaskan pelukannya perlahan, wanita parubaya itu mengusap air mata Byanca yang membasahi pipi putrinya itu.
"Sudah jangan menangis kamu harus kuat By, ingat kamu sedang mengandung. Kalau ibunya sedih anaknya juga akan merasakannya."
"Iya by, benar kata mamah kamu!" timpal papa Jonathan.
"Sayang maafin bunda, jangan sedih ya nak, kita lewati ini bersama. Jika ayahmu dan bunda di takdirkan untuk bersama. Kita pasti akan bersama. Maafin bunda ya nak!'' batin Byanca.
Byanca mengelus perutnya, lalu ia mengulas senyumannya. Byanca harus kuat, ia tidak boleh lemah.
"Ya sudah mah, Pah. Byanca mau keluar dulu, hari ini aku ada janji dengan mas Evan!" pamit Byanca. Mamah Lyli dan papa jonathan menganggukan kepalanya.
"Mau papa antar by?"
"Gak usah Pah, biar supir aja yang nganter Byanca." tolaknya.
"Hati-hati ya sayang!" pesan mamah Lyli. Byanca mengangguk lalu ia meraih tangan orang tuanya secara bergantian.
Usai berpamitan dengan kedua orang tuanya, Byanca langsung berajak keluar.
Bersambung...
Jangan lupa like, komen dan Votenya.
__ADS_1
Terima kasih.