SESAL USAI TALAK

SESAL USAI TALAK
Part 51 TIDAK AKAN MEMBERI TAU DULU


__ADS_3

Setelah menempuh perjalan beberapa menit, Evan--pun akhirnya sampai di apartemen. Saat Evan masuk ke dalam apartemennya itu, istrinya terlihat sudah menunggu di ruangan depan, dengan wajah yang tertekuk.


"Lama banget sih mas!" ucapnya kesal. Melipatkan tangannya di depan dada.


"Maaf sayang, tadi nungguin masaknya lumayan lama, belum lagi tadi mas muter-muter dulu cari penjual seefood--nya," jawab Evan, ia menghampiri Byanca.


"Sudah jangan merajuk, ini cepat makan!" titah Evan, ia menyiapkan makanan tersebut.


Mata Byanca berbinar, melihat makanan tersebut. Kekesalannya hilang begitu saja.


"Waw, kayanya enak ya mas," ujar Byanca, tak lagi banyak bicara Byanca langsung memakannya.


"Iya, habisin ya! Mas ambil minumnya dulu." Byanca menganggukan kepalanya, sementara Evan ia berajak menuju dapur untuk mengambil minum.


Byanca terlihat begitu lahapnya menekan aneka jenis seefood yang sudah di masak itu.


"Pelan-pelan makannya sayang!" ucap Evan, yang baru saja kembali dari dapur, ia melihat istrinya begitu lahap memakan , makanan tersebut.


"Mas, yang satunya lagi buat siapa?" tanya Byanca.


"Emmm, kamu masih mau? Kalau mau makan aja!" titah Evan.


"Beneran?"


"Iya sayang."


Evan hanya mengelengkan kepalanya, sambil menelan air ludahnya, bagaimana tidak melihat Byanca terlihat begitu lahap dan menikmati makanan tersebut. Kelihatannya seperti enak!


"Untung aku beli dua porsi, kalau satu pasti auto balik lagi beli. Tapi aku menyesal cuman beli dua, harusnya tiga. Jadi aku gak gigit jari kaya gini!" gumam Evan.


Dengan setia Evan menemani istrinya yang tengah makan tersebut. Tiba-tiba Evan teringat kembali pertemuannya dengan Erik tadi.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan kehidupan mereka? Aku yakin mereka tidak tinggal jauh dari daerah itu! Tapi kenapa anak buah papa begitu sulit menemukan mereka? Apa Erik menyembunyikan identitasnya? Emm, sepertinya aku harus cari tau! Tapi aku kasih tau Byanca gak ya? Kalau aku tadi bertemu dengan Erik. Ah sebaiknya aku tidak memberi tau dulu." Batin Evan.


Tak lama kemudian Byanca terlihat sudah menghabiskan dua porsi seefood tersebut.


"Euuuuuu...." Byanca bersendawa, usai ia minum. Wanita hamil itu, menyenderkan tubuhnya di sofa tersebut. Kenyang, itulah yang saat ini dia rasakan.


"Aduh mas, aku kenyang banget!" ujarnya, sambil mengelus-elus perut buncitnya itu.


Evan lagi-lagi menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum kekeh melihat tingkah sang istri, yang kekenyangan tersebut.


"Tidur lagi yuk sayang, mas udah ngantuk banget ini," ajak Evan.


"Ayo mas, aku juga." Mereka--pun berajak dari ruangan tersebut menuju kamar.


***


Erik berjalan menelusuri kolidor rumah sakit, beberapa meter ia berjalan, akhirnya ia--pun sampai di ruang rawat mamah Anita.


"Ayo kita makan dulu," ajak Erik kepada istrinya.


"Iya, tadi lumayan rame. Jadi ngantri."


"Emang kamu beli apa?"


"Seefood, gak apa-apakan? Kamu sukakan?" tanya Erik.


"Suka kok mas, tapi kenapa beli seefood? Seporsinya harganya lumayan mas. Mana kamu beli dua porsi lagi," ucap istrinya, sambil membuka bungkusan makanan tersebut, menyiapkannya.


"Gak apa-apa kok, kali-kali. Kamu juga butuh protein, biar bayi yang ada di kandungan kamu itu sehat." ujar Erik, sambil mengelus perut istrinya.


Wanita itu tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


"Terima kasih ya! Kamu sudah perduli dengan aku dan bayiku," ucapnya tulus.


"Hay, ini sudah menjadi kewajibanku. Kalian sekarang tanggung jawabku!" ucap Erik, "sudah ayo cepat makan."


Erik terlihat mulai memakan, makanan tersebut, sedangkan istrinya dia terlihat mematung dengan air mata yang membendung di pelupuk matanya. Erik menghentikan suapan makannya, ia menatap lekat istrinya itu.


"Dengar jangan banyak pikiran. Apapun yang terjadi aku akan menjaga kamu, bayi yang ada di kandungan kamu dan juga mamah."


"Terima kasih Erik, kamu sudah mau menerimaku, terutama bayi ini. Padahal bayi ini bukan anak kamu! Maafkan aku jika aku selalu merepotkanmu!" ujarnya, wanita itu tak bisa lagi menahan air matanya.


"Dengar Dara, kamu sekarang istriku! Kamu tanggung jawabku, walaupun bayi yang dikandunganku itu bukan anakku, tapi aku berjanji akan menjaganya." Erik mengusap air mata Dara.


"Sudah jangan menangis, capat makan! Apa mau aku suapin hemm?" Lanjut Erik, sambil tersenyum menggoda Dara, agar istrinya itu tersenyum.


Dan akhirnya Erik--pun berhasil membuat Dara tersenyum kembali.


"Gak, aku bisa makan sendiri," tolak Dara cepat, ia langsung memakan makanannya dengan wajah yang memerah.


"Oh iya, ada yang mau aku bicarakan!" ujar Erik disela makanannya.


"Apa?"


"Nanti saja, sekarang makan dulu, habiskan makannya!" titah Erik, diangguki oleh Dara.


Bersambung...


Yess, yang nebak itu Dara sama Erik, kalian luar biasa.🤭🤭


Jangan lupa like, komen dan Votenya ya!!


Kasih bunga atau kopi bolehlah. Biar author lebih semangat, hehe.

__ADS_1


See u


Terima kasih.


__ADS_2