SESAL USAI TALAK

SESAL USAI TALAK
Part 9. RENCANA 1


__ADS_3

Anita dan Erik, memandangi Edward yang berlalu dari hadapan mereka.


"Erik sepertinya kita harus hati-hati menjalankan rencana kita, jangan sampai Edward mencurigai kita." Anita Menatapkan matanya dengan tajam.


"Iya mah, apa yang mamah katakan, sepertinya kita harus menjalankan rencana kita serapi mungkin."


***


Malam harinya.


Mereka terlihat sudah berkumpul di meja makan, akan melakukan makan malam bersama. Begitu banyak makanan yang tersaji di atas meja makan itu.


"Ayo dimakan."


Mereka semua terlihat mengaggukan kepalanya.


Byanca mengambilkan nasi dan beberapa lauk pauk keatas piring milik suaminya Evan.


"Terima kasih," tersenyum kepada istrinya itu.


Edward terlihat mengambangkan senyumannya, melihat hal itu, ia ikut merasa bahagia.


Anita dan Erik pun terlihat tersenyum, namun senyuman mereka hanya senyuman palsu. Dalam hatinya mereka menggerutu kesal.


"Liat saja apa besok kalain masih bisa sebahagia itu." Batin Silvia.


Terlihat wanita itu tersenyum licik, sambil menyuapkan makan kepada mulutnya.


Tidak ada pembicaraan saat acara makan tersebut dimulai. Mereka terlihat menikmati makanan mereka masing-masing. Hanya bunyi ketukan sendok dan garpu yang mendominasi ruangan makan tersebut.


Tak lama kemudian Evan terlihat sudah menghabiskan makannya terlebih dahulu.


"Mau tambah lagi mas?" Tanya Byanca.


Evan terlihat menggelengkan kepalanya. "Tidak, sudah kenyang." Jawabnya, tersenyum sambil mengelus perutnya.


Byanca memberikan segelas air kepada suaminya itu.


"Minum dulu mas." Evan meraih gelas tersebut dari tangan istrinya itu, lalu meminumnya.


Namun terlihat disana orang yang menatap Meraka berdua tidak suka. Erik terlihat menyudahi makannya, tidak menghabiskan makanan yang ada di piringnya itu. Tanpa sepatah kata pun, lalu Erik beranjak dari kursi meja makan tersebut.


"Erik kamu mau kamana? Habiskan makanan mu." Teriak Anita. Namun Erik tidak menghiraukan teriakan mamahnya itu, ia terlihat terus berjalan.

__ADS_1


"Kak Erik kenapa?" Tanya Byanca.


"Sudah kalian tidak usah menghiraukan anak itu." Sahut Edward. Sekilas menoleh kearah anak dan menatunya itu. Lalu pandangan edward beralih menatap Anuta istrinya.


"Lihat kelakuan anak kamu, memang tidak mempunyai sopan santun." Ucap Edward, menatap tajam mata wanita itu. Anita hanya terdiam.


"Sudah Pah, jangan menyalahkan mamah." Ucap Evan.


Anita terlihat, menyudahi makannya, lalu beranjak dari make makan tersebut, tanpa sepatah kata pun.


"Anak dan ibu sama saja!!" Pekik Edward.


"Mas mamah sama kak Erik kenapa? Apa karna kehadiran Byanca mereka jadi seperti itu?" Ucap Byanca, wajahnya terlihat sedih.


"Tidak Byanca, sikap mereka memang seperti itu, kamu tidak usah menghiraukan mereka ya." Sahut Edward.


"Iya By, benar yang di katakan papah." Sambung Evan, mengelus bahu istrinya itu dengan lembut. Byanca terlihat mengangukan kepalanya, lalu sedikit menarik ujung bibirnya tersenyum.


Para pelayan rumah tersebut, terlihat membersikan sisa-sisa makanan bekas majikannya itu. Edward, Evan dan Byanca mereka masih duduk disana.


Byanca beranjak dari duduknya.


"Biar Byanca bantu Bi." Ucap Byanca, ia membantu membereskan piring kotor yang ada disana.


"Iya Byanca biar bibi saja yang membereskannya." Ucap Edward


"Tidak apa-apa Pah." Lalu Byanca membawa piring tersebut menuju dapur.


Edward dan Evan terlihat tersenyum.


"Kamu memang tepat memilih Byanca sebagai istri kamu Evan." Puji Edward.


"Iya dong Pah, Evan gitu." Jawab Evan, tersenyum bangga.


"Iya..iya.., anak papah memang hebat." Tersenyum kekeh kepada anaknya itu.


"Oh iya pah, besok Evan kembali kekantor."


"Apa tidak terlalu cepat, kamu bisa mengambil cuti lebih lama Evan, atau mungkin kalian bisa berbulan madu dulu, urusan kantor biar papah saja yang urus."


"Tidak Pah, Evan gak bisa ninggalin kantor lama-lama, banyak kerjaan yang harus Evan selesaikan."


"Apa kamu sudah bilang sama istri kamu?"

__ADS_1


"Sudah Pah, Byanca gak keberatan kalau kita menunda bulan madu kita." Ucap Evan tersenyum.


"Baiklah, terserah kamu saja!" Edward menepuk bahu anaknya itu pelan. Lalu ia bangkit dari duduknya.


"Kalau begitu, papah duluan ya. Papah mau istrihat." pamitnya. Lalu Edward beranjak dari hadapan anaknya itu berjalan menuju kamarnya.


Tak lama kemudian terlihat Byanca berjalan, kembali dari dapur.


"Kok lama sih di dapur, ngapain?" Tanya Evan, ia menarik tangan istrinya, duduk diatas pangkuannya.


"Habis cuci piring dulu." Evan melingkarkan kedua tangannya diperut istrinya itu.


"Mas jangan seperti ini, nanti ada orang yang liat bagaimana?"


Byanca mencoba melepaskan tangan suaminya itu.


Namun Evan semakin mengeratkan tangannya itu melingkar di perut Byanca.


"Mas..."


Evan pun akhirnya melapaskan istrinya itu.


"Sayang ke kamar yu!!" Ajak Evan, sambil tersenyum genit, mengedipkan sebelah matanya.


"Mata kamu kenapa mas?" Tanya Byanca, menatap suaminya heran.


"Udah ah, jangan banyak tanya. Ayo kita ke kamar." Evan manarik tangan istrinya itu. Byanca tersenyum kekeh, melihat tingkah suaminya itu, lalu ia berjalan mengikuti langkah suaminya itu.


***


Erik yang sedari tadi memperhatikan Byanca dan Evan dari lantai dua, terlihat melihat mereka dengan tatapan penuh kebencian.


"Mengapa keberuntungan selalu memihak pada mu Evan, kenapa aku harus selalu kalah dengan mu, pertama kamu merebut orang yang aku cintai, Byanca.


kedua kamu mengusai semua harta papah. Papah menyerahkan semua aset kepada kamu." Erik terlihat kesal. Wajah laki-laki itu terlihat memerah, rahangnya terlihat mengeras, Erik terlihat sedang menahan amarahnya.


"Lihat saja kali ini aku tidak akan membiarkan kamu menang Evan, aku akan menghancurkan mu, aku akan merebut semuanya." Erik mengepalkan tangannya. Lalu ia berajak dari tempatnya, karna melihat Evan dan Byanca tengah menaiki anak tangga menuju lantai dua.


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan jejak, like, comen dan Votenya.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2