
Mamah Lyli dan papah Jonathan baru saja sampai di depan apartemen miliknya, yang saat ini tengah di tinggali oleh sang putri Byanca, untuk sementara.
Mereka cukup merasa lega, karna mendengar kabar cukup baik, bahwa berita perceraian sang anak sudah hilang dari tv dan internet.
Mereka datang ke apartemen tersebut untuk menjemput Byanca, karna mereka merasa khawatir jika Byanca jauh dari mereka. Mereka takut jika putri semata wayang-nya itu melakukan hal yang buruk.
Walau pun mereka percaya Byanca tidak akan melakukan hal bodoh itu, namun sebagai orang tua mereka tetap merasakan kekhawatiran yang sangat dalam. Apa lagi kondisi Byanca masih belum baik, menurut mereka.
Mereka kini sudah berada di depan pintu apartemen yang di tempati Byanca. Sudah beberapa kali mereka menakan tombol bel namun pintu masih enggan di buka oleh putrinya itu. Mamah Lyli sudah mulai gusar, pikiran buruk mulai membayangi benaknya.
"Pah Byanca kok gak buka pintunya ya?" Ujar Mamah Lyli tanganya masih terus menekan tombol bel berharap putri-nya segara membuka pintu tersebut.
"Sabar mah mungkin Byanca ke tiduran." Papah Jhonatan mencoba menenangkan istrinya itu, dengan mengelus bahu sang istri. Walau sebenarnya ia pun merasakan sama hal-nya seperti istrinya, khawatir dengan putrinya.
"Mamah takut Pah! Bagaimana kalau Byanca nekad." Mata mamah Lyli berkaca-kaca.
"Tenang mah, jangan berpikir yang aneh-aneh. Byanca tidak mungkin melakukan hal bodoh seperti itu. Byanca wanita yang kuat mah."
Sudah hampir setangah jam orang tua Byanca berdiri di depan pintu apartemen itu, dengan perasaan yang gusar menghawatirkan sang anak. Mamah Lyli kini terlihat menangis, ia tak bisa lagi membendung air matanya. Papah Jhonatan mencoba terus menenangkan sang istri.
"Mamah, Papah." Terdengar suara yang menyebut mereka, Viola yang melihat ke dua orang tuanya itu sudah berada di depan pintu apartemen-nya itu pun, segara menghampiri mereka.
Mamah Lyli dan papah Jonathan menoleh kearah sumber suara tersebut.
"Sayang..." Mamah Lyli langsung memeluk Byanca, dengan terisak tangisnya. Byanca membalas pelukan mamahnya itu dengan hangat.
"Kamu dari mana saja by?" Tanya mamah Lyli, kemudian melepaskan pelukan tersebut.
"Byanca habis dari luar sebentar mah."
"Mamah dan papah sudah lama di sini?" Sambungnya bertanya.
"Iya by, kita sudah setangah jam nungguin kamu di sini." Jawab Papah Jhonatan.
Lalu Byanca menempelkan kartu Askes untuk masuk ke dalam apartemen tersebut. Pintu pun terbuka.
"Ayo masuk dulu. Mah, Pah." Ucap Byanca, diangguki oleh kedua orang tuanya itu. Mereka pun masuk kedalam, dan duduk di sofa.
__ADS_1
"Mah, Pah. Maafin Byanca." Ucapnya lirih, merasa bersalah karna sudah membuat kedua orang tuanya Khawatir, serta menunggu lama.
"Tidak apa-apa nak!" Jawab Papah Jhonatan.
"Memangnya kamu dari mana by? Kenapa tidak memberi tau kita, kalau kamu mau pergi. Mamah dan papah sangat khawatir by." Sambung Mamah Lyli.
"Maaf, tadi Byanca habis keluar sebentar karna lapar." Bohong Byanca, karna ia tidak mungkin berbicara jujur, bahwa tadi ia sudah menemui mantan suaminya.
"Kenapa gak pesan saja by, kan bisa."
"Sudah mah, lagian sekarang Byanca sudah ada di sini. Dan baik-baik saja." Pungkas Papah Jhonatan.
Mamah Lyli pun mengangguk pasrah, senyuman terulas dari wanita parubaya itu. Ia merasa lega Byanca sudah ada di dekatnya.
"Mamah sama papah mau nginep di sini?" Tanya Byanca, mengalihkan pembicaraan-nya.
"Enggak sayang! Kita ke sini mau jemput kamu." Jawab mamah Lyli.
"Jemput?"
"Iya By, kita pulang ke rumah ya. Kita gak tenang ninggalin kamu di sini sendiri." Sahut papah Jhonatan.
"By semuanya akan baik-baik saja. Tidak akan ada hal yang buruk menimpa kamu sayang!" Ujar mamah Lyli, wanita itu sudah tau apa yang tengah di pikirkan oleh Byanca.
"Tapi mah Byanca belum siap." Byanca menundukan kepalanya, Byanca tak bisa membayangkan jika semua.
"By yang mamah katakan itu benar. Semuanya akan baik-baik saja. Semua berita tentang kamu dan Evan sudah menghilang dari media. Sepertinya Edward yang menutupi semua ini." Jelas Papah Jonathan.
"Pah Edward, yang membersikan berita ini?" Papah Jhonatan mengangguk kepalanya, sebagai jawaban.
"Berati jika Pah Edward yang menutupi semua media, yang menyebarkan berita ini bukan mas Evan?"
"Papah tidak tau by, bisa iya, bisa juga tidak." Jawab papah Jhonatan.
"Sudah jangan memikirkan hal itu By, tidak penting." Tegas Mamah Lyli.
"Yang terpenting itu sekarang, berita itu sudah lenyap.
__ADS_1
Dan kamu akan baik-baik saja sayang." Sambungnya.
Byanca tersenyum, lalu menganggukan kepalanya. Benar yang dikatakan oleh orang tuanya. Byanca tidak perduli dengan hal itu. Byanca bertekad dan berjanji mulai saat ini, ia tidak mau lagi berurusan dengan keluarga Evan.
"Ya sudah ayo kita pulang By." Ajak mamah Lyli.
"Iya mah."
"Kamu bareng kita aja By." Ucap papah Jonathan.
"Kalau Byanca, bareng sama papah dan mamah, mobil Byanca gimana?"
"Tenang saja By, biar nanti supir kita yang mengambilnya."
"Baiklah Pah." Mereka pun keluar dari apartemen tersebut.
Dalam perjalan menuju pulang, orang tua dan anak itu saling melempar-kan candaan, yang membuat mereka tertawa. Byanca sudah terlihat seperti Byanca yang dulu, ceria. Tidak ada nampak kesedihan lagi di wajah wanita cantik itu. Byanca berusaha tetap kuat, semua Byanca lakukan untuk kedua orang tuanya.
Walau pun dalam hati kecilnya masih banyak serpihan luka yang mendalam, akibat perlakuan Evan. Namun Byanca yakin perlahan hatinya itu akan kembali utuh. Cepat atau lambat Byanca yakin bahwa ia pasti bisa melewati masa-masa yang sangat menyakitkan ini.
"*Aku wanita kuat, aku yakin bisa melewati semua ini. Aku akan melupakan mas Evan, menguburnya dalam-dalam, dan memulai kehidupan yang baru. Aku percaya semuanya akan baik-baik saja." ---Batin Viola.
"Akhirnya By, mamah bisa melihat kamu tertawa lepas. Mamah doakan semoga suatu saat nanti, kamu diberikan laki-laki yang mencintaimu dengan tulus, laki-laki yang akan membuatmu bahagia." ---Batin mamah Lyli*.
"Mah, Pah. Terima kasih untuk semuanya!" Ujar Byanca tulus.
"Sama-sama sayang, mamah senang bisa liat kamu tersenyum lagi seperti dulu By. Dengan By, apa pun yang terjadi mamah dan papah akan selalu ada buat kamu." Ujar Mamah Lyli. "Iyakan Pah?" Sambung mamah Lyli, sambil menoleh kearah suaminya.
"Iya sayang."
"Byanca memang beruntung punya orang tua seperti mamah dan papah." Pujo Byanca. Sambil melabarkan senyumannya.
Bersambung...
**Jangan lupa like, komen dan Votenya.
Terima kasih..
__ADS_1
See u again**...