
Papah Jonathan dan mamah Lyli terdiam mematung, usai kepergian Dokter Andri tersebut. Ada rasa bahagia, bercampur kekhawatiran di hati kedua orang tua Byanca itu. Byanca hamil, usai di talak tiga oleh suaminya. Bagaimana ini? Apa Byanca bisa menerima kenyataan ini.
Perlahan Byanca, membuka matanya. Wanita itu bangun dari pingsannya. Mamah dan papah Byanca langsung menghampiri Byanca. Mereka tersenyum melihat Byanca yang sudah sadar itu.
"Mah, Pah.." Ucap Byanca lirih, tanganya mengusap kepalanya yang masih terasa pusing dan berat.
"Iya sayang." Mamah Lyli mengusap lembut kepala Byanca.
"Masih sakit?" Lanjutnya bertanya.
"Sedikit mah, tapi gak apa-apa kok." Jawab Byanca, bibirnya memaksakan senyum.
"Syukurlah, sebaiknya kamu istrihat saja By."
"Iya By." Sambung Papah Jonathan.
"Byanca tidak apa-apa mah, Pah."
"Oh iya, aku kenapa?" Lanjut Byanca bertanya kepada kedua orang tuanya itu.
Mamah Lyli dan papah Jonathan terdiam, mereka saling melemparkan pandangan. Bagaimana ini?
"Mah, Pah. Kok diam?"
Papah Jonathan memberi tatapan isyarat kepada istrinya itu, untuk memberitahu semuanya kepada Byanca. Mamah Lyli mengangguk, mengerti.
Mamah Lyli menghelai nafas panjangnya, perlahan wanita itu meraih tangan Byanca, menggenggam-nya, mengusapnya dengan lembut, lalu mamah Lyli tersenyum.
"Tadi dokter Andri sudah periksa kamu By." Byanca mengangguk.
"Kata dokter Andri kamu harus banyak istirahat dan jangan terlalu banyak pikiran." Mamah Lyli terdiam sejanak, ia menoleh kearah suaminya sekilas. Papah Jonathan mengangguk.
Wajah mamah Lyli terlihat ragu, akan mengatakan yang sebenarnya. Tapi ia tidak mungkin menutupi kebenaranya. Cepat atau lambat Byanca sendiri pasti akan menyadarinya.
"Kamu hamil By---" Ucap Mamah Lyli.
Deg...
__ADS_1
Byanca terdiam, "Hamil?" Ucap Byanca pelan, air matanya lolos begitu saja, mendengar ucapan dari sang mamah.
"Aku hamil mah?" Byanca kembali bertanya, sorot matanya melihat lekat wajah mamahnya, mencari cela apakah ada kebohongan dari wajah mamahnya itu, namun tidak, Byanca tidak menemukannya, mamah Lyli berbicara bersungguh-sungguh.
Mamah Lyli menganggukan kepalanya, pelan.
"Iya sayang, kamu hamil. Sebentar lagi kamu akan jadi seorang ibu." Ucap mamah Lyli menghambur memeluk putrinya itu. Sungguh hati mamah Lyli sesak saat mengucapkan kalimat itu. Ia mengerti pasti dengan perasaan Byanca.
Byanca hanya terdiam, tatapannya kosong, dengan mata yang terus mengeluarkan cair beningnya.
"Aku hamil? Suamiku sudah mentalakku. Apa artinya ini aku harus kembali padanya? Tidak, aku tidak mau. Semuanya sangat menyakitkan."-- Batin Byanca.
Byanca mengeleng-gelengkan kepalanya. Tangisnya pecah. Mamah Lyli mengusap punggung anaknya itu.
"Semua ini sudah jalan yang maha kuasa By." Lirih mamah Lyli. Lalu melepaskan pelukannya perlahan.
"Mah apa ini tandanya aku harus kembali sama mas Evan?" Bibir Byanca bergetar, saat mengucapkan kalimat tersebut.
"Aku tidak mau mah."
"Byanca tidak mau mah, Pah. Tolong jangan kasih tau semua ini pada siapa pun." Lanjut Byanca.
"Tidak mah, Byanca tidak mau! Byanca tidak mau kembali dengan mas Evan, sakit mah."
"Byanca akan menjaga kandungan Byanca sendiri mah, Pah. Byanca akan membesarkan anak ini sendiri. Byanca pasti bisa mah." Byanca mengelus perutnya yang masih rata itu.
Byanca sudah yakin dengan pendiriannya, ia akan membesarkan anaknya sendiri. Tanpa Evan, tanpa sosok seorang suami. Karna untuk kembali bersama Evan, itu keputusan yang sangat sulit untuk Byanca.
Luka yang Evan torehkan cukup dalam, membuat Byanca merasakan sakit yang begitu, sangat-sangat menyakitkan. Byanca tau dirinya egois, tapi mungkin ini yang terbaik untuknya.
"Apa kamu yakin By?" Tanya Papah Jonathan.
"Aku yakin Pah! Sangat yakin." Ucap Byanca bersungguh-sungguh.
Papah Jonathan, menghelai nafas berat, jujur saja papah Jonathan sangat setuju dengan keputusan Byanca untuk tidak kembali kepada mantan suaminya Evan, tapi bagaimana dengan nasib bayi yang ada di kandungan Byanca. Tapi papah Jonathan tidak mau memaksa Byanca, walau bagaimana pun Byanca nantinya yang akan menjalankan semuanya. Akhirnya papah Jonathan pun menganggukan kepalanya, menyetujui keputusan putrinya itu.
"Terima kasih Pah, mah." Ucap Byanca. Sambil memeluk kedua orang tuanya itu.
__ADS_1
Byanca merasa lega, kedua orang tuanya menyetujui keputusan-nya itu. Byanca tau ke depannya pasti ia akan melewati masa-masa yang sulit. Membesarkan bayi dalam kandungannya sendiri, dan merawat bayi itu sendiri. Namun itu semua tidak mengurungkan sedikit pun atas keputusan yang sudah ia buat.
Apa pun, bagaimana pun nantinya. Byanca sudah siapa menghadapinya.
"Kita akan selalu ada untuk By, kita akan membantu kamu merawat dan membesarkan anakmu kelak." Ujar Mamah Lyli.
"Iya dong mah, inikan cucu pertama kita." Sahut papah Jonathan. Mereka pun tertawa bersama.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
Evan merasakan tubuhnya tidak lagi dingin, kehangatan Evan rasakan menyelimuti seluruh tubuhnya. Sebuah tangan melingkar di atas perut Evan.
"Byanca." Ucap Evan, Evan merasa sangat senang. Ini semua seperti mimpi. Perlahan Evan pun membuka matanya, Evan tersenyum seorang wanita tengah membenamkan kepalanya di dada bidang-nya.
Evan mengelus rambut wanita yang ia pikir Byanca itu,
kemudian wanita itu terlihat menggerakkan kepalanya.
lalu melihat kearah Evan.
Evan terkejut saat melihat wajah wanita itu, dengan segara Evan berajak menjauh dari wanita itu.
"Apa yang kau lakukan?" Teriak Evan, dengan wajah terlihat panik.
Wanita itu tersenyum, lalu mendekat kearah Evan, namun semakin wanita itu mendekat semakin Evan menjauh.
"Kenapa kau ada di sini hah? Kenapa kau tidur denganku."
Wajah wanita itu terlihat sendu, "apa maksud kamu mas, kamu yang sudah memaksaku untuk tidur dengan kamu." Mata wanita itu berkaca-kaca.
"Kenapa kamu berbicara seperti ini mas, kamu sudah merenggut kesucian ku." Air mata terlihat lolos dari mata wanita ini.
Evan membulatkan matanya, Evan sunguh terkejut dengan penuturan wanita yang tengah satu ranjang dengannya itu Evan tak percaya, bahwa ia sudah melakukan semua itu. Lalu Evan melihat ke seluruh tubuhnya. Evan sangat terkejut keadaannya kini polos tanpa sehelai benang pun, begitu juga dengan wanita itu.
"Kamu harus tanggung jawab mas!!!" Teriak wanita itu, di iringi dengan isakkan tangisnya.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa, like, komen dan Votenya.
Terima kasih.