SESAL USAI TALAK

SESAL USAI TALAK
Part 25 ADAKAH KESEMPATAN?


__ADS_3

Sudah satu jam Evan berdiri di depan rumah mantan istrinya itu, air hujan masih setia mengguyur Evan, Evan tak menghiraukan badannya yang sudah mulai menggigil karna dingin-nya guyuran air hujan tersebut.


Byanca yang melihat Evan lewat jendela kaca jendela kamarnya itu, merasa iba. Seakan pertahanan Byanca hampir runtuh. Melihat kesungguhan penyesalan mantan suaminya itu. Ingin rasanya Byanca berlari menghangatkan tubuh Evan yang ke dinginan.


"Tidak."


Byanca menepis semua rasa itu, Byanca tidak akan goyah. Ingat bagaimana Evan sudah menyakitinya, menghinanya, menginjak-injak harga dirinya.


Byanca menutup semua gorder jendela kamarnya. Berusaha tidak memperdulikan Evan. Evan bukan siap-siapanya lagi. Lupakan dia, anggap dia tidak pernah ada.


Evan melihat Byanca yang menutup semua gorden kamarnya, merasa hatinya semakin teriris. Evan sempat melihat Byanca yang tengah memandanginya. Jujur saja dalam hati Evan tertanam sebuah harapan, Byanca akan keluar dan menghampirinya. Namun semua harapan itu pupus kembali.


Apa tidak ada kesempatan untuk Evan? Tidak adakah sedikit rasa iba, mantan istrinya itu kepadanya? Evan sadar kesalahannya begitu fatal, tapi apakah segitu bencinya--kah Byanca kepadanya? Apa secepat itu Byanca melupakan rasa cintanya untuk Evan?


Dengan pikiran yang kalut, perlahan Evan berajak dari depan rumah Byanca itu, Evan melangkahkan kakinya menelusuri jalanan. Entah harus bagaimana sekarang? Langkahnya tidak punya tujuan, seperti halnya hidupnya kini. Tujuan Evan ingin hidup bersama Byanca, bahagia bersamanya sepanjang hidupnya.


Adakah kesempatan?


Malam semakin gelap, Evan masih berjalan menelusuri jalanan, badan yang basah kuyup akibat guyuran air hujan, kini terlihat sudah mengering tersibak angin malam. Hawa dingin semakin menusuk sampai ke tulang. Evan menggigil, dengan wajah yang sudah terlihat pucat, memeluk-kan kedua tangannya, berharap sedikit mengurangi rasa dingin tersebut.


"By apa secepat itukah rasa cintamu berubah menjadi benci kepadaku? Aku sangat mencintai kamu By, bisakah kita seperti dulu lagi. Tertawa bersama, saling mencinta. Menikmati dinginnya malam dengan penuh kehangatan. Aku rindu masa-masa itu By."


Batin Evan dengan lirih, di iringi dengan bayang-bayang dimana mereka masih bersama, menikmati hari mereka dengan penuh cinta.


Air mata Evan meluncur bebas, mengingat semua itu.


Mengingat kebersamaanya dengan sang mantan istri.


Membuatnya semakin merasakan sesak yang begitu mendalam dalam dadanya.


"Aku memang bodoh, harusnya aku tidak percaya dengan perkataan mereka. Harusnya aku percaya pada Byanca. Tuhan sekejam inikah engkau menghukum--ku? Mengapa seolah takdir sekarang sedang mempermainkan hidupku. Kenapa Tuhan, Kenapa?" Jerit Evan dalam hatinya.


Tiba-tiba Evan merasakan kepalanya terasa berat, pandanganya mulai tidak jelas. Semuanya seperti berputar, dan detik kemudian semuanya terasa gelap. Evan jatuh tak sadarkan diri.


__________________________


Raut wajah penuh kekhawatiran terpancar jelas, dari wajah cantik wanita parubaya itu. Mamah Lyli, sudah beberapa kali ia mengetuk pintu kamar Byanca, namun tidak ada sahutan sama sekali dari putrinya itu.

__ADS_1


Tok tok tok


Mamah Lyli kembali mengetuk kamar Byanca.


"By, sayang buka pintunya nak!" Teriaknya.


"By, kamu baik-baik sajakan nak? By kamu dengar mamah-kan sayang?" Lanjutnya, sambil terus mengetuk pintu kamar tersebut.


Namun tetap saja tidak ada sahutan dari sang anak, membuat mamah Lyli khawatir bukan kepalang. Mata wanita itu sudah mulai berkaca-kaca.


Papah Jonathan yang sedang duduk di kursi meja makan, menantikan istri dan anaknya untuk makan malam bersama. Mulai merasakan khawatir, dalam hatinya bertanya-tanya, kenapa mereka lama sekali.


"Mamah kemana kok lama sekali, manggil Byanca." Ucapnya. Lalu papah Jonathan pun berajak dari tempat duduknya itu, untuk menyusul istrinya.


"Mah kenapa?" Tanya Papah Jonathan, ia melihat istrinya terlihat panik, dangan wajah yang sudah di banjiri air mata. Dengan sigap ia mendekat kearah istrinya itu.


"Pah, dari tadi mamah ketuk pintu Byanca, tapi gak di buka-buka, pintunya terkunci Pah. Mamah panggil-panggil dia juga tidak ada jawaban Pah." Jawab Mamah Lyli dengan isak tangisnya.


"Mamah minggir, biar papah dobrak pintunya." Mamah Lyli menganggukan kepalanya, ia menjauh dari pintu tersebut. Papah Jonathan mengambil ancang-ancang, dan...


Braaakkkk....


"Byanca..." Teriak mereka, lalu menghampiri Byanca.


"By, bangun By, sayang bangun nak." Mamah Lyli menepuk pelan wajah Byanca. Namun Byanca masih enggan membuka matanya.


Papah Jonathan langsung mengangkat Byanca, membawanya ke kasur Byanca, dan menidurkan Byanca di sana. Keduanya terlihat sangat khawatir.


"Pah cepat telpon dokter Andri." Pinta Mamah Lyli, diangguki oleh Papah Jonathan. Mamah Lyli terus berusaha menyadarkan Byanca, mengoleskan minyak angin kepada hidung dan perut Byanca, berharap Byanca membuka matanya, semangat itu papah Jonathan terlihat sedang menelpon dokter pribadi mereka.


"Bagaimana Pah?" Tanya Mamah Lyli, melihat suaminya yang usai memutuskan sambungan telpon bersama dokter tersebut.


"Sudah mah, dokter Andri dalam perjalan kesini." Jawab Papah Jonathan, sambil berjalan mendekat kearah istrinya.


"Tenang mah, semuanya pasti baik-baik saja." Papah Jonathan mengusap bahu istrinya dengan lembut, menenangkan sang istri yang terlihat begitu sangat khawatir itu.


30 menit berselang, akhirnya dokter Andri pun datang, ia langsung memeriksa keadaan Byanca, yang masih tak tak sadarkan diri itu.

__ADS_1


"Bagaimana dok?" Tanya mamah Lyli. Usai melihat Dokter Andri selesai memeriksa Byanca.


Dokter Andri terlihat mengulas senyumannya, lalu menoleh kearah kedua orang tua Byanca, dengan senyuman bahagia.


"Selamat ya Bu, pak. Kalian akan mempunyai cucu." Ujar Dokter Andri.


Deg....


Mamah Lyli dan papah Jonathan, saling melempar pandangan-nya. Mereka seakan tak percaya dengan ucapan dokter tersebut.


"Byanca hamil?" Tanya Mamah Lyli, menatap dokter Andri.


"Iya Bu, usia kandungannya masih sangat muda. Jadi di usahakan Byanca banyak beristirahat, dan jangan terlalu banyak pikiran." Jelas Dokter Andri.


"Saya akan menuliskan resep Vitamin untuk Byanca." Lanjutnya.


Mamah Lyli dan papah Jonathan, hanya menganggukan kepalanya. Lalu Dokter Andri memberikan satu lembar kertas, yang sudah tertulis resep Vitamin yang harus mereka beli untuk Byanca.


"Kalau begitu saya permisi dulu pak, Bu. Jangan lupa Vitamin-nya di minum teratur oleh Byanca. Agar kandungan-nya sehat." Pesan Dokter Andri.


Lagi-lagi mamah Lyli dan papah Jonathan hanya mengangguk. Lalu Dokter Andri pun keluar dari kamar Byanca, dan meninggalkan rumah tersebut, pulang.


Bersambung...


Wah bagaimana ini guys?


Kenapa Byanca pake hamil segala sih?


Ikutin terus kelanjutannya ya!!


Jangan lupa like, komen dan Votenya.


Terima kasih.


I love u all


See u...

__ADS_1


Bye-bye...


__ADS_2