
Mamah Lyli masuk ke dalam kamarnya, ia melihat papa Jonathan tengah duduk termenung di tepi ranjang, dengan tangan yang memijat pelipisnya. Mamah Lyli--pun berjalan mendekat dan duduk di samping suaminya itu.
"Pah..." Panggil mamah Lyli, ia meraih tangan suaminya. Papa Jonathan menoleh kearah istrinya.
"Kalau ada masalah cerita? Apa papa tau sesuatu tentang Evan?"
Papa Jonathan menghelai nafasnya, lalu ia menarikan kakinya ke atas ranjang, ia merebahkan tubuhnya, menidurkan kepalanya di atas paha sang istri. Mamah Lyli tersenyum, ia mengusap lembut kepala semuanya itu dengan penuh cinta.
"Evan sudah tidur dengan wanita lain mah, papa takut wanita itu hamil, dan Byanca mengetahuinya, Byanca pasti akan terluka mah," jelas Papa Jonathan.
Wajah Lyli terkejut, saat mendengar ucapan suaminya itu. Ada rasa tak percaya. Tapi suaminya tidak mungkin berbohong.
"Apa?"
"Iya mah, Evan sudah meniduri Dara."
"Maksud papa Dara? Dara sahabatnya Viola?" Papa Jonathan langsung mengagukan kepalanya.
Mamah Lyli diam terpaku, Dara? Apa maksud Dara dan Evan melakukan semuanya? Dara sahabat dekat Byanca, kenapa bisa wanita itu melakukannya? Dan Evan apa benarkan Evan sehina itu? Benak mamah Lyli bertanya-tanya. Tapi memang sudah lama Dara tidak pernah berkunjung ke rumahnya, apa karna ini?
"Sebenarnya papa juga tidak tau pasti kebenarannya mah, menurut informasi yang papa tau, mereka memang tidak sengaja melakukan semua itu, mereka di jebak, dan dalang dari semua ini adalah Hendra. Mamah taukan Hendra orang kepercayaannya Edward."
"Hendra, iya mamah tau! Atas dasar apa dia melakukan itu Pah?"
"Hendra selama ini melakukan hubungan gelap dengan Anita, dia tidak terima Anita di usir oleh Edward. Entahlah mah, urusannya semakin panjang sekarang!" keluh papa Jonathan.
"Urusan itu terserah mereka Pah, kita tidak perlu tau ataupun ikut campur. Jadi ini alasan papa tidak menyetujui Byanca dan Evan kembali?" Papa Jonathan mengangguk.
"Iya mah, papa takut suatu hari nanti jika Evan dan Byanca kembali bersama, Dara datang menghancurkan rumah tangga mereka kembali. Papa yakin Byanca akan terluka lagi mah. Jika Dara hamil semua itu pasti akan terjadi."
"Sekarang dimana Pah Dara?" Papa Jonathan menggelengkan kepalanya.
"Sekarang papa sedang menyuruh orang untuk mencari keberadaannya mah, karna kini Dara, Hendra, Erik dan Anita hilang begitu saja. Bak ditelan bumi. Bahkan anak buah Edward yang sangat handal saja tidak bisa menemukan mereka sampai sekarang!"
Mamah Lyli mengangguk-anggukan kepalanya.
"Apa mungkin Dara akan hamil Pah?"
__ADS_1
"Entahlah mah, semoga saja tidak."
"Terus bagaimana rencana papa? Apa papa akan keukeh tidak merestui mereka?" Tanya Mamah Lyli, papa Jonathan tak menjawab, laki-laki itu terdiam, pikiranya bercabang. Antara iya dan tidak.
"Pah sebaiknya kita beritahu Byanca soal ini, biarkan Byanca yang memutuskannya, jangan menutupi apapun lagi. Kasian Byanca Pah, lagian semua ini tidak sepenuhnya Evan yang salah, Evan hanya di jebak. Kita harus jelaskan kepada Byanca terlebih dahulu dan nantinya biarkan Byanca yang menanyakan kebenarannya kepada Evan. Walau bagaimana pun Byanca kini sedang mengandung anak Evan Pah, Byanca sangat membutuhkan sosok suami yang selalu ada di sampingnya." Mamah Lyli mencoba memberikan pengertian kepada suaminya itu.
"Iya mungkin mamah benar, tapi apa semua ini tidak akan menyakiti Byanca mah? Jika kita memberitahu dia?"
"Pasti Pah, tapi ini yang terbaik untuk Byanca. Lebih baik Byanca tau dari sekarang, dari pada nanti. Iyakan?" papah Jonathan mengangguk setuju, yang di katakan istrinya memang benar.
"Baiklah besok kita bicarakan ini lagi mah dengan Byanca!" ucap papa Jonathan dan mamah Lyli menganggukan kepalanya.
"Mungkin ini memang sudah takdir Byanca Pah, sekuat apa--pun kita melindunginya, jika garis takdir mentakdirkan dia harus terluka, kita tidak bisa menampiknya. Begitu pula dengan jodohnya, sekuat apa--pun kita membentenginya, jika Evan dan Byanca ditakdirkan bersama kita bisa apa? Kita hanya manusia Pah, tuhan lebih berkuasa, yang penting kita sudah berusaha menuntun Byanca." ucap mamah Lyli bijak.
"Iya mah, terima kasih mamah sudah mengingatkan papa. Ya sudah ayo kita tidur, bikin adik buat Byanca yuk!" ucap papah Jonathan, sambil tersenyum genit kepada istrinya itu.
"Ah mamah sudah tua Pah, masa nanti adik Byanca seumuran sama cucu kita. Lagian mamah sudah tua Pah, mana mungkin hamil lagi." Mamah Lyli terkekeh.
"Tadi mamah lupa bilang apa? Hemm, kalau sudah ditakdirkan, tidak ada yang tidak mungkinkan?"
............
Byanca masih menangis, dengan tubuh yang meringkuk di atas kasur. Perasaanya tak menentu, pikiranya kalut, entah bagaimana ia harus menghadapi semuanya.
Kenapa rasanya Byanca ingin sekali kembali kepada Evan, bahkan jika mengingat kembali perlakuan Evan dulu, kini Byanca merasa baik-baik saja, hatinya begitu saja bisa memaafkan semua kesalah Evan.
Byanca tak mengerti dengan semua ini, jujur saja ia masih mencintai Evan. Mengingat Evan ada rasa rindu yang menggebu-gebu di hati Byanca. Byanca sangat merindukan Evan, rindu pelukan Evan, rindu sentuhan Evan.
"Mas aku rindu..." ucap Byanca dengan lirih.
Tiba-tiba terdengar suara ponsel Byanca berbunyi, Byanca mengusap air matanya, lalu ia meraih ponsel yang ada di atas nakasnya. Panggilan masuk terlihat di sana.
"Mas Evan." ucap Byanca dengan senyuman sumringah. Dia sangat merindukan laki-laki itu dan kini kebetulan Evan menelponnya, sungguh Byanca merasa bahagia.
"***Hallo by..."
"Iya mas.''
__ADS_1
"Sedang apa? Apa aku mengganggumu?"
"Emm, tidak. Ada apa?"
"Tidak apa-apa, aku hanya rindu kamu by. Kenapa belum tidur, ini sudah malam. Istirahatlah By, jangan sampai kelelahan aku tidak mau kamu dan calon anak kita kenapa-napa."
"Iya mas."
"Oh iya by, apa besok kita bisa bertemu. Dan apa kami sudah punya jawaban?"
"Besok kita bertemu mas."
"Besok aku jemput ya!"
"Tidak usah mas."
"Emm baiklah, besok aku akan kabari kamu. Ada sesuatu juga yang akan aku bicarakan sama kamu By."
"Baiklah."
"Ya sudah mas tutup ya telponnya. Kamu langsung tidur ya By. bye.."
"Iya mas Bye***..."
Sambungan telpon-pun terputus. Ada rasa rindu yang sedikit terobati, mendengar suara Evan. Tapi apa yang ingin di sampaikan Evan, sesuatu? Sesuatu apa? Apa penting? Pikir Byanca.
Sebenarnya Byanca masih agak ragu akan bertemu dengan Evan, Byanca juga ragu nantinya akan memberikan jawaban kepada Evan. Melihat situasi, sepetinya semuanya akan sulit.
"Nak, jika semoga ini yang terbaik untuk kita. Apapun yang terjadi bunda akan berusaha memberikan yang terbaik untukmu, sehat-sehat di perut bunda ya sayang. Kita lewati semua ini bersama. Semoga suatu hari nanti kebahagian akan menyertai kita." ucap Byanca sambil mengelus lembut perutnya yang sudah membesar tersebut.
Lalu Byanca memejamkan mata, tak lama kemudian ia pun terlelap dan masuk ke dunia mimpinya.
Bersambung...
Jangan lupa like, komen dan Votenya ya.
Terima kasih.
__ADS_1