SESAL USAI TALAK

SESAL USAI TALAK
Part 31 TOLONG


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama Byanca masuk kerja, di kantor Papahnya. Sebenarnya kedua orang tau Byanca sudah melarang Byanca dan meminta Byanca akan mengurungkan niatnya untuk berkerja itu. Karna mereka khawatir dengan kondisi Byanca yang kini sedang mengandung cucu pertama mereka.


Namun Byanca keukeh dengan keputusannya itu, dan akhirnya mau tidak mau, mereka pun pasrah dengan ke putusan putrinya itu.


Byanca datang ke kantor bersama dengan Papah jonathan. Semua karyawan menunduk hormat saat melihat kedatang mereka. Byanca tersenyum simpul membalas sapaan mereka. Byanca dan Papah Jonathan memasuki lift, dan tak lama kemudian mereka sampai di depan ruangan papah Jonathan.


"Pah, jadi sekarang apa yang harus aku kerjakan?" Tanya Byanca, terlihat sangat antusias.


"Sebenatar papah panggil Yusa dulu, biar dia membing-bing kamu," jawab Papah Jonathan, lalu menelpon Yusa, sekertarisnya itu.


Tak lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar, Papah Jonathan sudah yakin bahwa itu adalah Yusa.


"Masuk!"


Dan benar saja yang yang mengetuk pintu itu adalah Yusa, Yusa terlihat memasuki ruangan atasannya itu. Yusa membungkuk hormat kepada Jonathan, lalu menoleh kearah Byanca tersenyum.


"Ada yang bisa saya bantu pak?" Tanya Yusa.


"Kamu sudah siapkan tempat untuk Byanca-kan?"


"Sudah pak," jawab Yuasa.


"Bagus!"


"By, kamu akan satu ruangan dengan Yusa, karna tugas kamu membantu Yusa," ucap Papah Jonathan.


"Siap Pah."


"Ya sudah kalian boleh kembali ke ruangan kalian." Ucap Jonathan. Diangguki oleh Yusa dan Byanca, mereka pun keluar dari ruangan tersebut.


Byanca dan Yusa pun sampai di raungan Yusa.


"Ini meja kamu by!" Ucap Yusa.


"Oke, jadi kita satu ruangan ya?"

__ADS_1


"Iya, maaf ya by. Kamu tidak nyaman ya satu ruangan sama saya?" Yusa merasa tidak enak, jujur saja.


"Enggak kok Yus, justru aku senang." Yusa menganggukan kepalanya, sambil tersenyum.


"Kamu ok-oke aja ya By, lah aku. Bisa gak fokus aku satu ruangan dengan kamu," ucap Yusa dalam hatinya.


"Jadi apa yang harus kerjakan sekarang?"


"Sebentar!" Yusa mengambil satu buat map dari atas mejanya, "ini kamu tolong saling semua data ini, dan kirimkan ke saya lewat Email." Yusa memberikan map tersebut kepada Byanca.


Byanca menerimanya, lalu membuka map tersebut.


"Baiklah akan aku kerjakan sekarang," tutur Byanca, lalu ia duduk di kursinya.


Yusa mengangguk, ia pun duduk di kursinya, posisi meja Yusa dan Byanca saling berhadapan.


Byanca terlihat sudah memulai menyalin data tersebut ke leptop yang ada di depannya.


Yusa pun mulai melakukan pekerjaannya, dengan kehadiran Byanca jujur saja Yusa merasa tidak nyaman. Yusa sedari tadi mencuri-curi pandang kepada wanita itu, sedangkan Byanca ia terlihat sangat fokus melakukan pekerjaannya itu.


Hari ini Evan sudah memulai aktivitas-nya seperti biasa. Semangat kembali menghiasi wajah laki-laki tampan itu.


"Pah, Evan berangkat dulu ya!" Pamit Evan, kepada papahnya, usai mereka menyelesaikan sarapan paginya.


"Iya," jawab papah Edward. Evan pun meraih tangan papahnya itu, menyalaminya. Lalu Evan berajak dari meja makan, berjalan keluar menuju mobilnya dan melajukan mobilnya meninggalkan rumahnya itu, menuju kantor.


Tak lama kemudian Evan pun sampai di sana, saat berjalan masuk seseorang terlihat sudah menunggu kedatangan Evan.


Evan menatap laki-laki itu dengan penuh kebencian dan amarah.


"Mau apa kau kemari?" Tanya Evan.


"Van, aku mau bicara sama kamu," jawab laki-laki itu, menatap dengan tatapan memohon kepada Evan.


"Aku rasa tidak ada yang perlu di bicarakan lagi. Pergi dari sini," usir Evan.

__ADS_1


"Evan aku mau minta tolong, tolongin aku. Mamah masuk rumah sakit, aku butuh uang untuk biaya rumah sakit mamah!" Ujar Erik.


Evan tersenyum sinis, "apa kamu tidak malu meminta bantuan padaku kak?"


Erik terlihat menundukan kepalanya, sebenarnya ia malu, tapi harus bagaimana lagi. Tidak ada pilihan lain. Satu-satunya orang yang bisa membantunya saat ini adalah Evan, Anita kini sedang sekarat di rumah sakit, karna kemarin ia tertabrak mobil, dan orang yang menabrak tak bertanggung jawab. Erik sempat meminta bantuan kepada Hendra, namun Hendra tak bisa membantunya, karna kondisinya sekarang sama seperti dirinya.


"Tolong aku Evan, aku akan melakukan apa saja asal kamu mau membantuku," ucap Erik, laki-laki itu bersujud di bawah kaki Evan, Erik tak menghiraukan orang-orang yang melihat kepadanya. Rasa malu Erik sudah tak ia rasakan, apa pun akan Erik lakukan asalkan mamahnya itu bisa di selamatkan.


"Bangun!" Tegas Evan.


"Aku akan membantu mamah Anita," lanjut Evan.


"Benarkah, terima kasih Evan."


"Sekarang kamu pergi, aku tidak mau melihatmu lagi!" Usir Evan. Erik mengaggukan kepalanya.


"Aku tidak akan pernah menemui lagi Evan, aku berjanji aku dan mamah tidak akan lagi mengusik hidup kalian, terima kasih sudah mau membantuku." Ujar Erik.


"Aku sudah menyuruh orang untuk mengurus semua biaya rumah sakit mamah Anita," ucap Evan, Erik mengangguk.


Lalu Evan berjalan masuk kedalam kantornya.


Erik hanya menatap nanar punggung Evan, Erik menyesal dengan semua kelakuannya selama ini.


"Maafkan aku Evan!" Batin Erik.


"Usai mamah sembuh, aku janji akan pergi dari kota ini. Aku tidak akan menganggu kalian lagi. Aku akan berusaha menjadi orang baik, aku akan memulai hidupku memperbaiki semuanya."


Erik pun meninggalkan kantor tersebut, saat ini ia harus segara ke rumah sakit, mamahnya harus segara di tangani.


Bersambung...


Jangan lupa like, komen dan Votenya.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2