
Byanca dan Evan terlihat bingung, sebenarnya ada apa dengan Dara? Kenapa tiba-tiba datang ke tempat mereka dengan keadaan menangis seperti itu?
Dan satu lagi, dari mana Dara tau tempat Evan dan Byanca tinggal?
Cukup lama Dara menangis sendu, Evan dan Byanca hanya memandangi wanita itu saja? Hingga terlihat perlahan tangisannya mulai mereda.
Evan dan Byanca saling melemparkan pandangan mereka, mengisyaratkan salah satu dari mereka bertanya. Evan menggeleng, ia tidak mau mempertanyakan semuanya kepada Dara. Akhirnya mau tidak mau, Byanca--pun membuka suara.
"Dara, ada apa?" Tanya Byanca, lemah lembut.
"By, maafkan aku..."
"Maaf, untuk apa?" Byanca menatap keheranan. Begitu juga dengan Evan.
"Sebenarnya aku berbohong, tentang anak ini," jelas Dara.
Deg...
Byanca dan Evan langsung terdiam, mereka terkejut. Sandiwara apa ini sebenarnya?
"Aku berbohong, anak ini anak kak Evan," lanjut Dara.
"A--apa? Mak--maksud ka--mu?" Tanya Byanca, terbata-bata. Ia tak mengerti apa yang di katakan Dara, bukan tak mengerti, tepatnya, entahlah harus bagaimana Byanca menjelaskan perasaannya sekarang.
"Dara, kamu jangan bercanda? Maksud kamu apa hah? Kamu tadi bilang itu bukan anakku? Lalu kenapa sekarang kamu ke sini dan bilang kalau yang sedang kamu kandung itu anakku? Sandiwara apa ini lagi Dara?" Timpal Evan, penuh amarah.
Bagaimana tidak marah, Evan merasa Dara benar-benar mempermainkan semuanya.
"Aku tidak sedang bersandiwara kak, inilah kenyataannya!" Tegas Dara.
Byanca langsung mengeleng-gelengkan kepalanya. Entahlah, saat ini Byanca harus mempercayai siapa? Dan harus berkata apa? Hatinya hancur, itu saja yang kini tengah ia rasakan.
"Tidak, tidak!! Ini tidak mungkin..." Teriak Byanca.
"Sayang, sayang. Bangun, kamu kenapa sayang, bangun..." Evan menepuk-nepuk pipi Byanca pelan, saat ia mendengar Byanca berteriak namun dengan mata terpejam.
"Tidak...." Teriak Byanca lagi, namun kini ia langsung membuka matanya.
"Sayang kamu kenapa?" Evan terlihat panik, ia mengusap kepala Byanca, keringan dingin terlihat bercucuran dari pelipis kening wanita itu.
"Ya tuhan, syukurlah semua ini hanya mimpi." gumam Byanca.
"Sayang kamu kenapa hmm? Mimpi apa?"
Byanca tak menjawab, ia langsung menghambur memeluk suaminya itu. Evan membalas pelukan Byanca. Evan yakin Byanca barusan bermimpi buruk, Evan mengelus kepala Byanca, mencoba menenangkan istrinya itu.
Byanca cukup lama memeluk Evan, setelah terasa cukup tenang, Byanca melepaskannya perlahan, lalu Evan mengecup kening istrinya.
"Ada apa sayang?"
"Aku mimpi buruk mas, aku mimpi Dara datang ke sini, lalu dia bilang kalau dia berbohong tentang anak yang ia kandung. Dia bilang kalau anak itu, anak mas."
__ADS_1
"Mimpi hanya bunga tidur sayang. Tadikan kita sudah dengar penjelasan Dara, kalau anak yang dikandungnya itu bukan anak mas, apa kamu gak percaya sama Dara, mas lihat dia bicara sejujurnya, bahkan dia terlihat malu mengatakannya. Bukan begitu hmm? Apa kamu tadi lihat ada cela kalau dia berbohong?"
Byanca langsung menggelangkan kepalanya.
Byanca juga merasakan hal yang sama seperti suaminya, saat Dara mejelaskan semuanya, Byanca mencoba mencari cela, apakah ada kebohongan di wajah Dara. Namun sepertinya tidak, Dara mengatakan yang sebenarnya.
"Lagian kalau tidur itu jangan sembarangan, terus baca doa dulu biar gak mimpi buruk!" Ucap Evan lagi.
Byanca menghelai nafasnya. Sebenarnya tadi dia belum mau tidur, tapi ketiduran. Ya namanya juga ketiduran, bobo inget baca doa. Iya kan?
"Aku tadi ketiduran mas, gak niat mau tidur." Byanca terlihat menekuk wajahnya, dengan bibir yang mengerucut.
"Masa?"
"Iya, habisnya mas mandi lama banget sih. Aku nungguin sampai ketiduran."
"Hehe," Evan menyengir kuda, "maaf sayang, tadi habis olah raga dulu." Lanjutnya.
"Olah raga?" Byanca menatap heran kepada suaminya, olahraga? Olah raga apaan malam-malam begini? Dikamar mandi pula.
"Olah raga apaan mas? Malam-malam begini olahraga, di kamar mandi pula? Aneh banget!"
"Ini gara-gara kamu tau gak!" Evan menatap gemas isterinya.
"Loh kok aku yang disalahin?"
"Iyalah, siapa lagi? Cuman kamu yang bisa bikin mas olah raga di kamar mandi."
"Tau ah, aku gak ngerti."
Byanca semakin menatap keheranan serta bingung, apa itu cabang olah raga lima jari?
Entahlah hanya Evan dan author yang tau. Eh kok author sih? Author gak paham ya, apa itu cabang olah raga lima jari.
"Olah raga macam apa itu mas? Apa manfaatnya?" Byanca bertanya dengan begitu polosnya.
Evan terlihat menggaruk kepala yang tidak gatal. Bingung, bagaimana jelasinnya? Malu rasanya Evan menjelaskannya. Padahal dia udah bilang dengan kata-kata yang gak bikin dirinya merasa malu gitu, tapi tenyata istrinya masih tidak mengerti juga.
"Mas kok diem sih?''
''Emmm, anu..."
"Anu apa mas?"
"Hehe, itu loh yang," jawab Evan sambil tersenyum kikuk.
"Ngomong yang jelas sih mas, aku gak ngerti sumpah!"
"Ah sial, gimana aku jelasinnya. Malulah masa iya aku bilang kalau cabang olah raga lima jari itu, C-0-L-1." Batin Evan.
"Itulah yang, main solo karir," ucap Evan, dengan ragu-ragu.
__ADS_1
"Gini," lanjut Evan. Sambil mengepalkan jari-jari tangannya, namun memberi ruang di tengah-tengahnya menyerupai donat, lalu menggerakkannya turun naik.
Tuk...
Byanca menyentil kening Evan, bisa-bisanya kaya gitu suaminya bilang, cabang olah raga lima jari. Eh emang gak salah sih, jarinya semuanya emang gerak. Tapi Byanca kesal, jelasin yang kaya gituan aja sampai berbelit-belit, panjang lembar, kali tinggi. Dasar...
"Aww, sakit yang..." Rengek Evan, sambil mengusap keningnya yang kena sentilan Byanca.
"Rasain tuh, gak boleh kaya gitu-gitu lagi. Ngapain coba kurang kerjaan."
"Iya deh iya," ucap Evan pasrah.
Ting.. tong...
Bell apartemen mereka terdengar berbunyi, Evan melihat kearah Byanca, namun wanita itu terlihat tersenyum.
"Siapa ya sayang? Malam-malam begini?"
"Hehe," Byanca memberikan cengiran kuda, "itu pasti bang kurir yang nganter makanan. Ambil gih mas," titahnya, kemudian.
"Kamu pesan makanan sayang? Kapan?"
"Tadi sebelum ketiduran, sana cepat ambil ih. Aku sama Dede bayi udah laper banget."
"Iya sayang." Evan tersenyum, lalu ia mengelus perut Byanca.
"Bentar yang sayang, papah ambil dulu makanannya," ucapnya lagi, berbicara kepada calon anaknya yang masih di dalam perut tersebut.
"Oke papa," ucap Byanca, menirukan suara seperti anak kecil.
Lalu mereka tersenyum kekeh bersama. Sungguh kebahagiaan yang sangat-sangat luar biasa.
Evan--pun langsung mengayunkan kakinya menuju kedepan. Evan membuka pintu tersebut, memang iya terlihat ada seorang kurir yang berdiri di depan pintu apartemennya tersebut, dengan tangan di penuhi beberapa kantung plastik, yang berisi makanan.
"Atas nama Bu Byanca," ucap kurir tersebut. Langsung menyodorkan semua kantong plastik yang berisi makanan tersebut.
"Oh iya, terima kasih pak!" Evan mengambil semua kantong plastik yang berisi makan tersebut.
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi pak!" Pamitnya, kurir tersebut langsung berlalu dari hadapan Evan.
"Ya tuhan banyak sekali ini," ucap Evan. Sambil membawa makanan tersebut menuju dapur. Setelah sampai di dapur, Evan langsung memindahkan makanan tersebut keatas piring. Menyiapkan semuanya, setelah semua siapa Evan--pun membawa makanan dan minum yang sudah tersaji tersebut ke kamarnya.
Bersambung...
Jangan lupa like, komen dan votenya terima kasih.
Btw bacanya dari atas, biar paham gak salah paham. wkwkw
Oke bye-bey
Terima kasih.
__ADS_1
Maaf kalau beberapa hari ini, author jarang up.
lagi ada terkena musibah, mamah saya lagi di RS. minta doanya ya buat semuanya, semoga operasi mamah saya lancar. Dan bisa cepat pulih.