
Keesokan harinya, Dara sudah bangun dari subuh tadi. Ia kini tengah berkutat di dapur membuat sarapan untuk Erik, suaminya. Usai mengungkapkan perasaan mereka semalam, kini merasa semakin tak sungkan untuk bermesraan.
"Pagi istriku..." Ucap Erik, ia melingkarkan tanganya, memeluk Dara dari belakang.
"Pagi," jawab Dara. Tangannya masih sibuk mengorak-arik nasi goreng yang tengah di masaknya.
Erik membenamkan kepalanya di bahu Dara, untuk pertama kalinya Erik benar-benar mencintai wanita sedalam ini. Ia tak mau kehilangan Dara.
"Mandi dulu mas, bukankah hari ini hari pertama kamu berkerja di resto temen kamu itu?"
Erik menganggukan kepalanya.
"Ya sudah cepat sana mandi, aku akan siapkan sarapannya dulu."
"Ya sudah aku mandi dulu." Erik melepaskan tanganya yang sedari tadi melingkar di perut buncit istrinya itu. Ia--pun berlalu menuju kamar mandi.
Dara--pun melanjutkan aktifitasnya, ia menyiapkan nasi goreng yang sudah matang tersebut ke atas piring.
Tak lama kemudian, Erik selesai melakukan ritual mandinya, ia keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit pinggangnya menutupi tubuh bagian bawahnya saja. Erik berjalan menuju kamarnya dengan bertelanjang dada.
Dara menoleh kearah Erik yang, Erik tersenyum sekilas, lalu masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian.
Deg...
Jantung Dara serasa berhenti, saat ia melihat punggung Erik.
"Tanda itu?" Gumam Dara.
Ia teringat kembali, pada malam kelam waktu itu. Dimana seorang laki-laki yang tengah mabuk, merenggut kesuciannya.
"Kenapa Erik mempunyai tanda itu? Persis seperti laki-laki yang waktu itu merenggut kesucianku?'' gumam Dara lagi.
Entah itu kebetulan atau apa, yang pasti kini benak Dari di penuhi, beribu-ribu pertanyaan. Apa laki-laki itu Erik? Apa ini hanya kebetulan saja?
__ADS_1
Tak lama kemudian Erik keluar dari kamar, ia sudah memakai pakaian lengkap. Erik berjalan mendekati Dara.
Dara yang masih termenung, tak sadar kalau Erik sudah berada di sampingnya.
"Dara..." Panggil Erik. Namun Dara masih tak bergeming.
"Hey, kamu kenapa?" Tanya Erik, kini ia menepuk pundak Dara pelan.
Dara langsung tersentak, "eh, iya kenapa?"
"Kamu sedang memikirkan apa?"
"Emm, tidak." Dusta Dara.
"Dara," Erik menarik tangan Dara, menggenggamnya. "Cerita ada apa?" Lanjut Erik bertanya kembali.
Dara menghelai nafasnya, ia mencoba menarik ujung bibirnya untuk tersenyum. Ingin rasanya Dara bertanya, tapi Dara takut. Bagaimana kalau ternyata kecurigaannya itu salah? Nanti Erik akan tersinggung.
"Aku tidak apa-apa mas!" jawab Dara.
Erik menganggukan kepalanya, ia--pun melepaskan tangan Dara yang digenggamnya. Dan Erik--pun mulai memakan nasi goreng tersebut.
"Ada apa dengan Dara, sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu? Tapi apa?" Gumam Erik, sambil menyuapkan makanan tersebut ke mulutnya.
"Mas boleh aku tanya?" Ucap Dara.
"Tanya aja sayang!"
"Eem, kamu taukan! Aku pernah cerita kalau laki-laki yang sudah mengambil kesucianku itu mempunyai tahi lalat yang besar di punggungnya?''
"Ya," jawab Erik singkat, sambil kembali mengunyah makanannya.
Seketika Erik berhenti mengunyah makanannya, saat ia sadar pertanyaan yang di lontarkan oleh Dara.
__ADS_1
"Apa maksud Dara bertanya seperti itu? Apa dia curiga padaku?" Ucap Erik dalam hatinya.
Wajah Erik berubah menjadi gugup, rasa takut mulai menghinggapi dirinya. Erik langsung mengambil air minum dan meneguknya berharap rasa gugupnya mereda.
"Mas apa ada yang kamu sembunyikan?" Tanya Dara.
Uhukk... Uhukk...
Erik yang sedang minum langsung tersedat, terkejut. Erik sangat terkejut, apa jangan-jangan Dara sudah mengetahuinya?
"Pelan-pelan mas!"
"Maaf." Kata Erik, "aku berangkat kerja dulu." Lanjutnya berpamitan. Tanpa menjawab pertanyaan yang sebelumnya Dara lontarkan.
Dara mengangguk, lalu ia meraih tangan Erik menyalaminya dengan takzim. Usai itu Erik langsung keluar dari rumahnya, tanpa satu patah kata--pun.
Ada apa sebenarnya dengan Erik? Kenapa Erik seperti menghindari pertanyaan Dara? Apa yang dicurigakan Dara benar?
"Kenapa wajah mas Erik berubah menjadi gugup saat aku bertanya tadi? Ya tuhan, apa laki-laki itu mas Erik?" Lirih Dara.
Entahlah, jika memang laki-laki itu Erik. Harus bagaimana nantinya Dara?
Sementara itu, Erik terus berjalan menjauh dari rumah kontrakannya.
"Ya tuhan, kenapa Dara bertanya seperti itu? Apa dia sudah mengenali ciri-ciri laki-laki itu? Dan memang itu aku. Ya tuhan aku belum siap menghadapinya. Beri aku waktu dulu tuhan, sebelum bom waktu itu meledak!" Gumam Erik.
Bersambung...
Like
Komen
Vote
__ADS_1
Jangan lupa
Terima Kasih