
Ting
Lift kembali terbuka, dengan cepat Byanca berjalan menuju ruangan Evan.
Braaakk
Byanca membuka pintu ruangan Evan dengan keras, membuat Evan seketika tersentak.
"Byanca!!"
"Mas aku ingin bicara denganmu." Ucap Byanca langsung masuk kedalam ruangan Evan tersebut.
"Bicara denganku?" Evan mengulang ucapan Byanca, dengan senyuman miring. "Aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Aku tidak akan pernah memaafkan mu." Sambung Evan.
Byanca terlihat geram, mendengar ucapan mantan suaminya itu, Byanca tak menyangka bahwa laki-laki itu akan berubah sekejap mata. Tidak seperti Evan yang dulu Byanca kenal.
"Aku ke sini tidak untuk meminta maaf sama kamu mas, karna memang aku tidak merasa bersalah." Ucap Byanca, sambil menahan amarahnya, "aku ke sini hanya untuk bertanya sama kamu, kenapa kamu tega memberitahu semua orang tentang perceraian kita? Apa kamu belum puas menyakiti aku mas?"
"Menyakiti kamu?" Evan bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekat kearah Byanca, dengan tatapan tajam menatap mantan istrinya itu. "harusnya aku yang berbicara seperti itu. Kamu yang sudah menghianatiku dan menyakitiku. Kenapa di sini kamu yang merasa tersakiti? Dasar wanita murahan."
Plakk....
Tangan Byanca mendarat tepat di pipi kanan Evan. Byanca tak bisa lagi menahan amarahnya, apa lagi Evan melontarkan perkataan yang sangat menusuk hatinya.
"Jaga bicaramu, aku tidak pernah melakukan semua itu. Aku tidak pernah menghianati---mu.''
Evan tersenyum, sambil mengusap pipinya yang terasa perih, akibat tamparan Byanca. Senyuman Evan sulit di artikan.
"Apa kamu punya bukti bahwa yang aku tuduhkan itu tidak benar?" Tanya Evan. Membuat wanita itu mematung, dengan air mata yang meluncur bebas di wajah cantiknya.
"Tidak punyakan? Jadi jangan lagi menyangkalnya Byanca. Yang aku katakan itu sesuai dengan kenyataan bukan, bahwa kamu itu wanita mur----"
"Cukup!" Teriak Byanca, "aku memang tidak punya bukti mas, tapi liat saja suatu hari nanti aku akan membuktikan semua yang kamu tuduhkan itu tidak benar. Dan kamu pasti akan menyesali semuanya!" Pekik Byanca. Lalu ia pun berjalan keluar dari ruangan Evan tersebut.
Byanca mengusap kasar air mata yang membasahi wajahnya, Evan benar-benar membuat hatinya terluka. Dengan terang-terangan Evan menghina-nya.
__ADS_1
"Bodoh kenapa air mataku keluar. Aku sudah berjanji tidak akan menangisi laki-laki itu lagi."---Batin Byanca.
"Aku tidak akan pernah memaafkan mu mas, aku akan membuatmu menyesal seumur hidupmu, karna telah melakukan semua ini padaku."
Byanca pun menekan tombol lift, tak lama lift tersebut terbuka.
"Mau kemana kau nona?" Ucap kedua petugas yang sedari tadi mengejar Byanca.
Byanca pun membuka kacamata dan maskernya. Seketika kedua petugas itu terdiam, dan menelan ludahnya.
"Eh ibu Byanca, mohon maaf Bu, saya kira tadi siapa." Ucap salah satu petugas keamanan tersebut, mereka terlihat ketakutan.
"Minggir." Bentak Byanca. Kedua petugas keamanan itu pun, mengangguk dan keluar dari dalam Lift tersebut. Byanca langsung masuk dan menekan menekan tombol lift menuju loby.
"Mati kita, ternyata dia istrinya pak bos."
"Ini semua gara-gara kamu, awas aja kalau kita di pecat."
"Lah kok aku?"
Terjadi sedikit percekcokan antara ke dua petugas keamanan tersebut.
________________________________
"Aargggggg....." Evan berteriak, usai Byanca keluar dari ruangannya. Evan menyugar rambutnya dengan kasar. Laki-laki itu terlihat sangat frustasi.
"Kenapa kau masih mengelak Byanca??!!"
Braakkkk....
Evan membanting semua barang yang ada di mejanya.
"Aku mencintaimu Byanca, kenapa kau melakukan ini padaku." Ucap Evan lirih, tertunduk lemas di ruangannya.
Kring Kring Kring
__ADS_1
Ponsel Evan berbunyi, Evan langsung mengambil ponsel dalam sakunya.
"Hallo...."
"Hallo bos, semuanya sudah beres! Wartawan-wartawan yang berada di depan kantor, di rumah dan di rumah tuan Jonathan pun sudah tidak ada."
"Bagus."
"Dan berita mengenai perceraian bos, yang tersebar di tv dan di internet pun sepertinya sudah menghilang bos."
"Menghilang?"
"Iya bos, sepertinya bos besar sudah mengaturnya."
"Oke, tetap berjaga dan awasi, jika terjadi apa-apa cepat kabari saya."
"Baik bos."
Tut...
Panggilan tersebut pun dimatikan oleh Evan.
"Syukurlah, terima kasih Pah."
"Sepertinya aku harus pulang, dan berterima kasih kepada papah." --Batinnya.
Lalu Evan pun berajak keluar dari ruangannya. Untuk segera pulang menemui papahnya, benar kata anak buah Evan, di depan kantornya itu sekarang sudah tidak ada wartawan. Evan pun melajukan mobilnya meninggalkan kantornya itu.
Bersambung...
Jangan lupa like, komen dan Votenya temen-temen.
Lanjut up lagi gak nih sekarang??
Yuk tinggalkan jejak kalian di kolom komentar.
__ADS_1
See u....