
Mobil Byanca mulai melaju meninggalkan rumahnya, mobil melaju membelah jalan raya yang terlihat sangat padat, apalagi di hari weekend seperti sekarang ini.
Byanca merasa kesal, sudah hampir satu jam ia terjebak macet.
"Pak apa masih lama?" tanya Byanca kepada sopirnya.
"Tidak tau non," jawab sopir tersebut.
Byanca tak membuka suaranya lagi, wanita itu hanya diam, kesal. Namun Byanca tidak mau ambil pusing, Byanca memainkan ponselnya, untuk mengisi waktu kejenuhannya itu.
Tak lama kemudian, mobil melaju kembali. Mobil Byanca sudah lolos dari kemacetan parah tersebut.
"Pak percepat jalan mobilnya, saya sudah sangat telat," pinta Byanca. Langsung diangguki oleh supirnya itu.
Byanca--pun sampai di tempat dimana ia membuat janji dengan Evan, sebuah resto. Byanca langsung keluar dari mobilnya dan segara masuk ke dalam resto tersebut.
Evan terlihat sudah menunggunya, dengan senyuman yang merekah, Evan melambaikan tangannya kearah Byanca. Byanca--pun berjalan kearah Evan.
Byanca menarik kursi yang ada di hadapan Evan dan mendaratkan pantatnya di kursi tersebut. Evan dan Byanca kini duduk saling berhadapan.
Evan masih mengelus senyumannya, rasa rindu kepada Byanca sedikit terobati, melihat wanita yang sangat ia rindukan itu ada dihadapannya. Jujur ingin sekali Evan menghambur memeluk Byanca, namun Evan masih sadar posisinya saat ini.
Sedangkan Byanca, wanita itu hanya terdiam, wajahnya tidak mengekspresikan apa-apa. Byanca bersikap dingin, namun matanya terlihat sudah berkaca-kaca.
"By..." panggil Evan, Byanca langsung melihat kearah laki-laki itu, "apa kamu baik-baik saja?" lanjut Evan bertanya.
__ADS_1
Byanca mengangguk pelan. Sebagai jawaban yang di lontarkan Evan.
"Mas, apa ada yang kamu tutupi dari aku?" tanya Byanca, netranya menatap lekat kepada Evan.
"Ada by..."
"Bicaralah mas," pinta Byanca.
"Aku berharap semua itu tidak benar mas!" lanjutnya dalam hati.
"By..." Evan meraih tangan Byanca, "sebelumya mas minta maaf sama kamu, maaf by." tatapan Evan memohon kepada Byanca.
"Apa? Kenapa mas minta maaf?"
"Dara?" Tanya Byanca kembali. Setetes air mata meluncur membasahi wajah cantiknya.
Deg...
Jantung Evan terasa ingin copot, apa Byanca sudah tau semuanya? Evan masih terdiam, ia merasa sangat syok. Mendengar ucapan Byanca barusan.
"Aku sudah tau semuanya mas!"
"By, tapi kamu harus dengar penjelasan aku dulu, semua itu hanya kecelakaan by, aku tidak bermaksud melakukan itu, menghianati kamu." jelas Evan.
Air mata semakin meluncur bebas membasahi wajahnya. Sesak di hati Byanca mulai ia rasakan.
__ADS_1
"By aku dijebak, dalang semua itu adalah Hendra, mamah Anita dan Erik, mereka sengaja memanfaatkan kondisi aku yang tengah hancur pada saat itu. Aku mohon percayalah by, aku tidak mungkin melakukan itu, kalau aku sadar." jelas Evan lagi. Ia terus mencoba menyakinkan Byanca, kali ia dan Dara itu hanya kecelakaan.
"Maafkan aku!!" Lirih Evan dengan wajah penyesalannya.
"Aku sudah Maafkanmu mas." ujar Byanca.
Evan langsung menatap Byanca dengan lekat, wajah Evan berubah penuh kebahagian.
"Ya tuhan terima kasih, engkau sudah membuat Byanca mempercayaiku. Tolong beri kesempatan padaku tuhan, aku ingin kembali bersama dengan Byanca!" gumam Evan.
"Terima kasih by..."
Byanca hanya tersenyum tipis sambil menganggukan kepalanya. Lalu Evan mengusap air mata Byanca yang membasahi pipi wanita itu. Mata Evan terlibat masih banyak cinta untuk Byanca.
"Kembalilah padaku By, kita mulai lagi dari awal dan besarkan buah hati kita bersama kelak!" ujar Evan, bersungguh-sungguh.
Bersambung...
Gantung dulu ya...
Kasih kopi buat lembur ya!! hehe
Dan jangan lupa like, komen dan Votenya.
Terima kasih.
__ADS_1