SESAL USAI TALAK

SESAL USAI TALAK
Part 46 KESEMPATAN


__ADS_3

"Beri dia kesempatan By," ucap Yusa, tanganya mengelus lembut bahu Byanca.


"Aku yakin kamu masih mencintainya By, hanya saja dirimu masih terkekang oleh egomu sendiri." lanjut Yusa dalam hati.


"Sudah jangan menangis," Yusa melepaskan pelukannya perlahan lalu ia mengusap air mata Byanca dengan lembut.


Byanca tersenyum, "terima kasih Yus, selama ini kamu selalu ada di saat aku susah dan senang! Aku tidak akan melupakanmu," Byanca menatap lekat Yusa.


Yusa hanya membalasnya dengan anggukan kepala dan senyuman tipis. Entahlah dia harus bersikap seperti apa? Bahagia atau kecewa? Yang pasti apapun keputusan Byanca Yusa akan selalu mendukungnya.


"Ya sudah kalau begitu aku duluan ya Yus, aku ada janji juga sama mas Evan, mungkin dia akan membicarakan masalah ini, terima kasih untuk waktunya." Byanca berajak dari tempat duduknya.


"Iya By, hati-hati." Pesan Yusa, Byanca mengangguk dan ia pun berlalu meninggalkan resto tersebut.


Yusa memandangi Byanca dengan senyum getir dan tatapan nanarnya, andai saja, ya dia hanya bisa berandai-andai bisa memiliki Byanca, karna pada kenyataanya sampai kapan--pun dia tidak akan bisa memiliki Byanca.


***


Evan melajukan mobilnya ke salah satu taman, dimana ia dan Byanca akan bertemu hari ini. Evan sudah membuat keputusan bahwa ia akan menerima syarat untuk kembalinya Byanca ke dalam pelukannya.


Seperti saran yang sudah di berikan sang Ayah.


Tak lama kemudian Evan sampai, disana terlihat sudah ada Byanca, yang sedang duduk di bangku yang berada di sana. Evan mengulas senyumannya, dengan cepat ia menghampiri Byanca, Evan duduk di samping Byanca.


"Apa sudah dari tadi menunggu?" Tanya Evan. Byanca menoleh, ia memberikan senyuman tipis. Sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Tidak, aku juga baru sampai kok mas!" jawabnya.


"By," panggil Evan, ia meraih tangan Byanca.


"Iya mas," Byanca tersenyum, tidak ada penolakan kali ini dari Byanca, saat Evan memegang tanganya.


"Aku akan terima syarat yang kamu berikan kemarin itu. Apapun akan aku lakukan agar kita bisa bersama, walaupun itu hanya sementara."


Byanca tersenyum, tapi ada rasa yang mengganjal dihatinya saat Evan bilang 'hanya semetara', bukankah itu kemauannya Byanca?


"Aku yakin, sekuat apapun kamu nantinya ingin berpisah lagi denganku, jika tuhan menakdirkan kita bersama, kita tidak akan pernah berpisah By, aku akan ikuti mau mu untuk saat ini, tapi aku ingin kita sama-sama menjalaninya dengan segenap hati, biarkan semuanya mengalir seperti air."


"Iya mas, aku setuju!"


"Terima kasih by." ucap Evan, sambil mengelus punggung Byanca.


"Tapi kita tinggal di apartemenku saja ya By, kita mulai lagi semuanya dari awal." lanjut Evan.


"Iya mas."


"Ya sudah, ayo mas antar kamu kerumah, kamu kemasi barang-barang yang menurut kamu penting saja ya," ajak Evan, diangguki oleh Byanca.


Mereka--pun meninggalkan taman tersebut, Evan melajukan mobilnya menuju kediaman Byanca. Dalam perjalan Evan tak sama sekali melepaskan genggaman tanganya pada Byanca, sambil sesekali ia mengecup tangan Byanca dengan lembut.


Selang tiga puluh menit mereka sampai, sebelumya Byanca sudah memberi tahu kedua orang tuanya, tentang semua ini. Walaupun sebenarnya kedua orang tua Byanca merasa berat berjauhan dengan Byanca namun mereka tidak bisa apa-apa. Mereka tidak mau ikut campur, mereka percaya Byanca bisa membuat keputusan yang menurutnya baik, Byanca sudah dewasa. Dengan berat hati mereka--pun menyetujuinya, walaupun sebenarnya mereka belum mempercayai Evan sepenuhnya, mereka takut Evan kembali melukai hati Byanca.

__ADS_1


"Kalau begitu kita pamit dulu ya mah, Pah!" pamit Evan dan Byanca, kepada mamah Lyli dan papa Jonathan.


Mereka meraih tangan kedua orang tua itu, secara bergantian.


"Hati-hati ya By. Jangan lupa sering berkunjung ke sini." Pesan mamah Lyli, diangguki oleh Byanca.


"Evan saya titip Byanca, jangan sampai kamu melakukan hal yang bodoh lagi, jika itu sampai terjadi lagi saya akan pastikan kamu tidak akan pernah bertemu dengan Byanca lagi!" Pesan serta ancaman di berikan kepada Evan oleh papa Jonathan.


"Iya pah, Evan janji." Jawab Evan dengan sungguh-sungguh.


Usai berpamitan, mereka--pun langsung meninggalkan kediaman orang tua Byanca. Evan melajukan mobilnya menuju apartemen miliknya.


Bersambung..


Like


Komen


Vote


Jangan Lupa ya!!


See u


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2