
Evan mendapatkan informasi bahwa Byanca, berkerja di kantor orang tuanya, hal itu cukup membuat Evan bahagia, Evan memutuskan akan menemui Byanca nanti jam makan siang.
Dengan semangat Evan mengerjakan semua pekerjaannya hari ini, dalam pikirannya sudah terbayang Byanca, Evan sangat merindukan wanita itu, ingin memeluknya melepas rasa rindu.
Evan tau Byanca masih mencintainya, tidak mungkin Byanca melupakan dirinya dengan segitu mudahnya, cinta Byanca sama seperti dirinya. Lambat laun Evan yakin Byanca akan jatuh kembali ke dalam pelukannya, dan jika itu terjadi Evan tidak akan menyia-nyiakan wanita itu lagi. Byanca segalanya untuk Evan.
__________________________________
Kantor Jonathan.
Byanca senyum lega, akhirnya ia bisa menyelesaikan semua pekerjaannya. Byanca membuang nafas panjangnya, lalu bersandar di kuris, dan merentangkan tangannya.
"Yusa, aku sudah menyalin semua datanya dan sudah mengirimkannya padamu!" Ucap Byanca.
Yusa mengalihkan pandanganya, dari layar leptop. Lalu melihat kearah Byanca. Yusa tersenyum.
"Iya sudah aku terima, terima kasih ya!" Ucap Yusa.
"Kenapa kamu berterima kasih?" Inikan pekerjaanku!"
Yusa terkekeh, "iya-iya sorry..."
"Lah kenapa minta maaf?" Tanya Byanca, entah kenapa dia suka membuat Yusa kesal.
"By...."
"Hehe, aku bercanda Yusa," lalu Byanca melihat kearah jam yang terlilit di pergelangan tangannya, "sudah jam makan siang, makan bareng yuk?" Ajak Byanca.
"Boleh." Jawab Yusa.
Mereka pun berajak dari kursinya, berjalan bersama keluar dari ruangan tersebut. Mereka berjalan sambil mengobrol, mereka terlihat sangat dekat.
Byanca kembali terlihat sangat ceria seperti biasanya, benar dengan aktivitas-nya saat ini, Byanca bisa melupakan sejanak masalahnya.
Byanca dan Yusa pun makan siang di resto yang tak jauh dari kantornya, mereka berjalan kaki menuju resto tersebut, karna memang resto itu berada di sebrang kantor mereka.
"Yusa, sepertinya aku tidak mau makan disini!!" Ucap Byanca, mereka kini sudah berada di dalam resto, dan sedang memilih menu makanan.
"Loh kenapa?" Tanya Yusa heran, bukannya tadi Byanca yang mengajaknya makan disini, kenapa sekarang dia tidak mau?
"Makanan di sini terlihat tidak enak Yus, kita cari tempat lain saja yuk!" Ajak Byanca. Yusa pun mengangguk pasrah.
Byanca mengulas senyumannya kepada Yusa.
"By bisakan kamu tidak tersenyum seperti itu kepadaku, jantungku mau lompat keluar rasanya ini!" Batin Yusa, sambil mengelus dadanya.
Mereka pun berjalan keluar dari resto tersebut, Yusa berjalan mengikuti Byanca yang berada di depannya.
"Yus, aku mau makan itu!!" Ucap Byanca, ia menunjuk kearah pedagang kaki lima yang berjualan rujak.
Tanpa menunggu persetujuan dari Yusa, Byanca menarik tangan Yusa mendekat kearah pedagang rujak tersebut.
"Bang aku mau satu ya! Yang pedes banget." Ucap Byanca, kepada pedagang rujak tersebut.
"Baik neng!" Jawab si Abang.
"By kamu yakin mau makan ini? Gak baik buat usus kamu By, kamukan belum makan nasi!" Ujar Yusa.
"Gak apa-apa Yus, kamu mau gak?" Tanya Byanca.
"Aku gak suka By," jawab Yusa.
"Terus kamu mau makan apa dong?" Tanya Byanca lagi.
__ADS_1
"Aku nanti saja!" Byanca menganggukan kepalanya.
"Kamu ini kaya orang ngidam aja By, makan gituan." Sambung Yusa.
Byanca terdiam, ''Eh apa iya-ya aku lagi ngidam?" Ucapnya dalam hati.
"By hey kok bengong sih?"
"Hehe, maaf..."
"Ini neng..." Si Abang memberikan rujak pesanan Byanca. Dengan semangat Byanca mengambil rujak tersebut dan langsung melahapnya.
Yusa hanya bengong melihat Byanca yang tengah memakan rujak tersebut, rujak Byanca terlihat banyak sekali cabenya, namun Byanca terlihat tidak kepedasan sama sekali.
"Wah ini enak sakali, kamu yakin gak mau?" Tanya Byanca, ia menyodorkan piring yang berisi rujak tersebut kepada Yusa. Yusa langsung mengelengkan kepalanya.
"Auto muncrut aku makan kaya gituan." Ucap Yusa dalam hatinya.
Tak lama kemudian Byanca sudah menghabiskan rujak tersebut, Byanca memberikan piring bekas rujak itu dan membayarnya.
"Sudah, ayo kita makan!" Ajak Byanca.
"Makan?" Yusa mengulang ucapan Byanca.
"Iya, kamukan belom makan, ayo aku temenin. Makan di resto tadi saja!" Ajak Byanca sambil melangkah, dan menarik tangan Yusa.
Yusa hanya bisa pasrah, mereka pun berjalan masuk kembali kedalam resto tadi.
"Kamu mau makan apa Yus?" Tanya Byanca, yang tengah melihat buku menunya.
"Aku pesankan ya!!'' Lanjutnya. Lagi-lagi Yusa hanya mengangguk pasrah.
Byanca memanggil pelayan resto dan memesan makanan.
"Mbak saya mau, ini, ini, ini, sama ini." Byanca menunjuk beberapa gambar menu tersebut, "masing-masing dua ya!" Sambungnya.
"By kenapa pesan makanannya banyak sekali?" Tanya Yusa.
"Kok masing-masing dua, aku gak bisa makan sebanyak itu By!" Lanjut Yusa, protes.
"Lah siapa yang nyuruh kamu buat makan semuanya?" Byanca berbalik bertanya.
Yusa menggelengkan kepalanya, "terus?" Ucap Yusa.
"Hehe," Byanca tersenyum kekeh, "setelah aku pikir-pikir aku masih laper, jadi aku pesan untukku juga!"
"Oh, baiklah." Ujar Yusa, sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Oh iya By, boleh aku tanya sesuatu?" Ucap Yusa.
"Apa? Tanyakan saja!" Jawab Byanca.
"Emm, sebelumnya aku minta maaf. Kalau aku lancang."
Byanca mengerutkan kedua alisnya, ia menatap heran Yusa yang ada di hadapannya.
"Apa, emm apa kabar perceraian kamu dengan Ev----"
"Iya benar!" Byanca memotong ucapan Yusa, Byanca sudah tau apa yang akan ditanyakan oleh Yusa kepadanya.
Yusa membulatkan matanya, "be--nar?" Yusa mengulang ucapan Byanca, terbata-bata.
Byanca menganggukan kepalanya, raut wajah Byanca terlihat langsung berubah, senyumnya perlahan memudar, Yusa yang melihatnya pun merasa sangat bersalah.
__ADS_1
"Astaga apa yang aku lakukan? Harusnya aku tidak bertanya seperti itu. Itukan urusan mereka, ya tuhan aku merasa sangat bersalah." Gunam Yusa.
"By, maaf..."
"Tidak apa-apa Yus, aku baik-baik saja!" Byanca mencoba memaksakan senyumannya. Jujur saja mengingat perceraian itu, membuatnya terluka kembali.
Byanca menghelai nafas panjang, "aku memang sudah bercerai dengan Evan, dia sudah mentalak tiga aku Yus, kau tau semuanya terasa begitu menyakitkan!" Jelas Byanca, wanita itu sekuat tenaga menahan air matanya yang sudah membendung di pelupuk mata indahnya. Yusa menatap iba Byanca, Yusa meraih tangan Byanca dan mengelusnya.
"Aku tau kamu wanita kuat By." Ucap Yusa, ia mencoba memberi semangat kepada Byanca.
Byanca tersenyum, "aku memang harus kuat Yus, ini semua sudah takdir. Aku dan mas Evan tidak berjodoh."
"Lalu apa penyebab kalian bercerai?" Tanya Yusa, ia merasa penasaran.
Byanca terdiam.
"Eh maaf, aku tidak bermaksud untuk mencampuri urusan pribadi kamu By," ucap Yusa, lagi-lagi kenapa ia tidak bisa mengontrol dirinya.
"Tidak Yus, aku dan mas Evan bercerai karna kesalah pahaman." Ujar Byanca. Lalu Byanca menceritakan semua kronologis waktu itu. Yusa mendengarkan semuanya dengan sangat serius. Byanca tau semua ini salah harusnya ia tidak menceritakan semua aib rumah tangganya, namun entah kenapa rasanya saat ini Byanca membutuhkan teman untuk bicara, dan Yusa, Byanca kenal sekali dengan Yusa, ia tidak mungkin memberi tahu semuanya kepada orang lain. Dan Yusa juga orang kepercayaan papahnya, Byanca yakin Yusa bisa menyimpan semuanya.
"Bodoh sekali dia By, lalu apa dia menyesali semuanya usai tau bahwa semua itu tidak benar?" Tanya Yusa, usai Byanca menceritakan semuanya.
"Dia menyesali semuanya Yus, bahkan dia memohon padaku." Jawab Byanca dengan air mata yang sudah menetes membasahi wajah cantiknya.
"Lalu? Apa kamu akan kembali pada dia?"
Byanca mengelengkan kepalanya, "tidak Yus, walau pun sampai saat ini aku masih mencintainya, tidak ada sedikit pun terlintas di benakku, untuk kembali pada mas Evan, semuanya terlalu sakit Yus!" Ujar Byanca.
Yusa menatap iba pada Byanca. Mendengar semua cerita Byanca membuat Yusa dapat merasakan sakit yang tengah Byanca rasakan saat ini.
"Tapi By, aku sarankan kamu jangan menyiksa diri kamu sendiri, jika kalian masih cinta kenapa tidak kembali bersama?'' Ucap Yusa.
"Hatiku sangat sulit menerimanya kembali Yus, semuanya terlalu sakit. Walau-pun kini aku sedang mengandung anaknya." Lirih Byanca dengan Isak tangisnya.
"Apa? Jadi sekarang kamu sedang ham---" Byanca langsung menutup mulut Yusa dengan tanganya.
"Jangan teriak Yusa, masalah aku hamil hanya kamu dan orang tuaku yang tau. Ingat jangan sampai orang lain tau masalah ini." Ucap Byanca, lalu melepaskan tangannya.
Yusa mengangguk, namun wajahnya masih terlihat sangat terkejut.
"Jadi kamu sekarang lagi hamil? Dan Evan tidak tau?" Tanya Yusa, kini dengan suara yang kecil.
Byanca langsung menganggukan kepalanya.
"Tapi By, jika sekarang kamu sedang hamil, talak Evan padaku tidak berlaku by!"
"Aku tau Yusa ,jadi aku mohon jangan bilang siapa-siapa tentang ini Yusa, apa lagi kalau Evan tau. Dia pasti memakai kesempatan ini untuk memaksaku kembali bersama dia."
"Tenang saja By, aku akan menjaga semua ini." Ucap Yusa. Byanca pun mengulas senyuamnya.
"Terima kasih." Ucap Byanca tulus.
"Sama-sama."
Tak lama kemudian pesanan makanan mereka pun datang.
"Ayo makan yang banyak, bumil harus sehat." Ujar Yusa, sambil terkekeh. Byanca memutar bila matanya malas, ia tau Yusa sedang meledeknya saat ini.
"*Jadi kamu sedang hamil by, pantas saja tadi kamu makan rujak kaya orang ngidam tadi, eh ternyata kamu emang ngidam. Tapi sayang sekali By si Evan itu sangat bodoh, ia melukai kamu dengan begitu kejamnya." Batin Yusa.
"Andai saja tuhan memberikan kesempatan untukku, bisa memiliki kamu by, aku akan senang sekali. Aku akan berusaha membahagiakan kamu dan anak kamu jika itu terjadi." Batin Yusa lagi*.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan Votenya.
Terima kasih.