
"Ku mohon by, maafkan aku. Aku janji akan menjaga kamu dan calon anak kita, aku akan membahagiakan kalian. Izinkan aku menebus semua kesalahanku By," lanjut Evan.
Namun Byanca hanya terdiam, air mata mulai keluar dari pelupuk mata indah Byanca. Evan melepaskan genggaman tanganya dari tangan Byanca, lalu ia menangkubkan tanganya ke pipi Byanca, mengusap lembut air mata Byanca.
"Jangan menangis By, maafkan aku," ucap Evan dengan tatapan memohon.
"Kembalilah padaku..."
Byanca melapaskan tanganya dari genggaman tangan Evan, Byanca tidak tau harus menjawab apa.
Apa mungkin ia harus menyetujui permintaan Evan tersebut.
"Entahlah mas," jawab Byanca.
"Ku mohon By, kamu jangan egois ini semua demi calon anak kita," tegas Evan, ia kembali memohon kepada Byanca.
"Jika kamu tidak bisa menjawab sekarang, aku akan kasih kamu waktu By. Pikirkan ini baik-baik, aku masih sangat mencintai kamu By," sambung Evan.
"Baiklah, akan aku pikirkan mas!"
Evan mengulas senyumannya, "baiklah aku akan tunggu kabar baik darimu by," Byanca menganggukan kepalanya.
"Kalau begitu aku pulang!" Pamitnya, sambil beranjak dari bangku tersebut.
"Aku antar ya by," tawar Evan.
"Tidak usah mas, terima kasih." Tolak Byanca. Ia pun berjalan meninggalkan Evan.
Evan menatap nanar ke pergian wanita itu.
__ADS_1
"Semoga kau mau By, jika memang cintamu sudah mati untukku, maka izinkan aku menumbuhkannya kembali. Aku yakin jika kita bersama lagi semua itu akan terjadi. Aku berjanji By akan membuatmu dan calon anak kita bahagia," gumamnya.
Evan--pun meninggalkan taman rumah sakit tersebut, ia menuju parkiran. Sopir Evan terlihat setia menunggu tuan mudanya itu.
"Ayo pak kita pulang sekarang!" pinta Evan, sambil masuk kedalam mobilnya.
Mobil--pun melaju, rasanya Evan sudah tidak sabar ingin segara sampai di rumah, ia ingin segara memberi tahu papa Edward bahwa ia akan memiliki cucu dari Evan.
............
Byanca dan mamah Lyli tengah di perjalanan menuju rumah, sedari tadi masuk ke dalam mobil Byanca tak berbicara, wanita itu diam seribu bahasa. Mamah Lyli--pun terheran, apa yang sebenarnya sedang di pikirkan putrinya itu, tatapannya kosong, apa yang Evan katakan kepada Byanca kenapa tiba-tiba Byanca seperti ini?
"By, kamu baik-baik sajakan?" Tanya mamah Lyli, ia merasa khawatir dengan kondisi Byanca.
"By..." panggil mamah Lyli, kini ia menepuk pelan bahu Byanca dan Byanca--pun tersadar dari lamunannya.
"Eh mah, iya kenapa?"
Byanca membuang nafas beratnya, "aku bingung mah, mas Evan meminta kita bersama kembali," ucap Byanca lirih.
"Lalu apa kamu mau?"
"Aku belum ngasih jawaban mah, entahlah aku bingung!" keluh Byanca.
"Bingung?" Mamah Lyli mengerutkan dahinya.
"Akhirnya yang aku takutkan terjadi mah, mas Evan meminta aku untuk bersamanya kembali, dengan alasan semua demi kebaikan calon anak yang ada di kandunganku," jelas Byanca. Mata wanita itu terlihat berkaca-kaca.
"Mamah terserah kamu By, kamu sudah dewasa. Pasti kamu tau mana yang baik dan mana yang tidak, mamah tidak akan memaksa kamu, yang menjalankan semuanya itu kamu. Pikirkan saja dengan kepala dingin ikuti kata hatimu," pesan mamah Lyli.
__ADS_1
"Walau secara lisan aku sudah memaafkan mas Evan, namun tetap saja hatiku masih berat untuk kembali bersama mas Evan. Walau--pun di sini mas Evan tidak sepenuhnya bersalah, mengingat kembali kejadian waktu itu membuat hatiku sakit kembali mah," tutur Byanca, cairan bening terlihat mengalir membasahi wajah cantiknya.
Mamah Lyli hanya mengelus bahu Byanca, untuk menenangkan Byanca, mamah Lyli mengerti apa yang putrinya itu rasakan.
"Semuanya terlalu menyakitkan mah!" Lirih Byanca.
"Entahlah By, mamah tidak bisa berkata apa-apa, semoga ada petunjuk dari Tuhan, agar kamu tidak salah melangkah. Mamah hanya bisa mendoakan kamu agar kamu selalu di berikan kebahagian." Gumam mamah Lyli.
......
Kantor Jonathan.
Jonathan baru saja mendapatkan kabar dari anak buahnya yang mengikuti Byanca serta sang istri yang ke rumah sakit hari ini.
Anak buahnya mengatakan bahwa mereka bertemu dengan Evan, dan Evan sudah mengetahui prihal kehamilan Byanca, kabar tersebut membuat Jonathan hampir murka. Jonathan yakin pertemuan Byanca dan Evan akan membuat mereka bersama kembali, Evan pasti memperalat calon cucunya untuk memaksa kembali Byanca kembali pada laki-laki itu.
"Aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi, aku tak ingin melihat anakku jatuh ke lubang yang sama!" Geram Jonathan, rahangnya mengeras dengan tangan yang mengepal, menandakan bahwa papah Byanca itu tengah menahan amarahnya.
Jonathan tak rela jika Byanca kembali bersama Evan, mengingat perlakuan Evan dulu kepada Byanca, semua itu masih membekas di ingatan Jonathan, serta di hatinya. Menyaksikan Byanca di hina oleh Evan.
"Aku tidak perduli mereka menganggapku egois, semua ini aku lakukan untuk melindungi putriku, aku tak mau melihat putriku terluka kembali, cepat atau lambat kebusukan Evan pasti akan terbongkar," ucapnya.
"Sepertinya aku harus pulang, aku harus bergerak cepat, untuk meyakinkan Byanca bahwa ia tidak harus kembali bersama dengan laki-laki itu."
Jonathan--pun meninggalkan kantornya, ia melajukan mobilnya untuk segara pulang ke rumah.
Bersambung...
Sedekahin like, komen dan Votenya ya.
__ADS_1
wkwkwk
Terima kasih.