
Byanca dan Evan sudah berada dikamar mereka.
Lagi-lagi rasa gugup terpancar dari keduanya. Mereka meresakan detak jantung mereka berdegup kencang, seketika udara terasa panas dikamar itu, padahal AC terlihat menyala. Evan membaringkan tubuhnya di atas kasur tersebut, sedangkan Byanca ia masih terduduk di tepi ranjang, dengan *******-***** jarinya.
"By...?'' Panggil Evan, dengan suara lembutnya.Byanca menoleh kearah suaminya itu, dengan wajah yang terlihat sudah memerah.
"Iya mas."
"Sini..." Pinta Evan, menepuk kasur yang ada ada disampingnya, menyuruh istrinya itu untuk berbaring disampingnya. Perlahan Byanca menaikan kakinya keatas kasur tersebut, lalu mendekat kearah Evan.
Evan terlihat mengambangkan senyumannya.
Perlahan Byanca membaringkan tubuhnya di samping suaminya itu, dengan detak jantung yang masih berdetak tak karuan. Evan menarik wanita itu kedalam pelukannya. Byanca terlihat pasrah, dan menikmati pelukan laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya itu.
Evan mengusap lembut kepala Byanca, mengucap kening istrinya itu dengan lembut dan penuh cinta.
Byanca menajamkan matanya, menikmati perlakuan suaminya itu. Evan meraih dagu Byanca, membuat pandangan mereka saling bertemu. Mata Evan menatap lekat manik mata indah milik istrinya itu. Menyibakkan Anak rambut yang menutupi wajah Byanca dengan lembut.
"By, apa boleh sekarang?"
Wajah Byanca terlihat semakin memerah, tak menjawab ucapan suaminya itu, Byanca menenggelamkan kepalanya di dada bidang suaminya.Evan yang mendapati Byanca tak menjawab permintaanya itu, terlihat wajah kekecewaan terpancar .
"Ya sudah kalau kamu belum siap, mas gak maksa kamu, mas akan menunggu kamu sampai siap!" ujar Evan, mengelus bahu Byanca dengan lembut. Byanca mengangkat wajahnya, dari dada bidang Evan, lalu menatap kearah suaminya itu.
"By sudah siap kok mas." Jawabnya tersipu malu.
Evan terlihat mengambangkan senyumnya, menatap wanita itu penuh dengan cinta.
Mendengar ucapan istrinya yang menyetujui permintaanya itu. Evan langsung menghujani Byanca dengan kecupan-kecupan di wajah cantik istrinya itu.
Byanca hanya tersenyum. Kemudian Evan menarik dagu Byanca perlahan, dengan lembut Evan menempelkan benda kenyal itu kepada benda kenyal milik istrinya itu. Evan melakukannya dengan lembut, Byanca terlihat pasrah, ia memejamkan matanya, menikmati perlakuan suaminya itu, beberapa saat kemudian Byanca terlihat membalas permainan suaminya itu. Gairah mulai menghampiri keduanya, sejenak Evan melepaskan tautan itu, untuk mengambil napas.
"Terima kasih By." Bisik Evan, dengan napas yang sudah memburu. Byanca hanya tersenyum, malu-malu.
Evan meneruskan kembali aksinya, kini dengan tangan yang terlihat liar, Evan menyentuh bagian-bagian sensitif istrinya itu. Byanca hanya memejamkan matanya, menikmati sentuhan-sentuhan suaminya itu, terdengar suara-suara ajaib dari bibir wanita itu.
"Emmm..."
Suara ajaib Byanca, semakin membuat Evan membara, suara Byanca membuat tubuh Evan semakin panas dan bergerak liar, hingga tak sadar kini Meraka sudah tidak menggunakan sehelai benang pun. Evan semakin dibuat membara, melihat pemandangan yang begitu indah dihadapannya itu.
"By.. kamu siap?" Tanya Evan, dengan napas yang memburu, Evan meminta izin kepada Byanca untuk memasukan senjatanya kedalam milik Byanca. Byanca mengangukan kepalanya, sepertinya Byanca merasakan hal yang sama dengan Evan, keduanya sudah dikuasi hasratnya. Evan tersenyum, perlahan ia memasukan benda pusaka-nya.
__ADS_1
"Awww..., sakit mas." Byanca terlihat menitihkan air matanya. Evan tak menghiraukan istrinya, itu ia tetap melanjutkan aksinya itu, perlahan tapi pasti akhirnya benda pusaka milik Evan masuk kedalam sangkarnya.
Dengan lembut Evan memainkan benda pusaka-nya, tangis Byanca kini sudah berganti menjadi suara kenikmatan yang membuah Evan semakin bergairah.
Keringat terlihat bercucuran, menjadi satu dalam kenikmatan tersebut.
"Mas..ah.." Byanca meresakan tubuhnya terasa panas.
Evan yang menyadari bahwa istrinya itu akan mencapai puncak kenikmatan, Evan mempercepat gerakannya. Dan akhirnya mereka menuntaskan puncak kenikmatan tersebut secara bersamaan.
Dengan napas yang masih memburu, keringat yang bercucuran ditubuh mereka. Sekilas Evan mendaratkan kecupan lembut di kening Byanca.
"Terima kasih sayang." Ucapnya. Lalu ia menjatuhkan tubuhnya di samping Byanca yang menajamkan matanya, Evan menarik istrinya itu kedalam pelukannya.
Malam itu menjadi malam panjang untuk sepasang pengantin baru tersebut, entah beberapa kali Evan melakukan aksinya itu, yang pasti Evan baru melapaskan istrinya itu tepat jam 03.00 subuh.
Kamar tersebut menjadi saksi atas semua kenikmatan yang mereka lakukan.
***
Sinar matahari terlihat masuk melalui cela jendela kamar meraka, menyorot tepat kearah kasur yang pemiliknya masih terlelap. Sepasang pengantin baru tersebut enggang membuka matanya, Meraka masih berpelukan dan terlelap dalam tidurnya.
"Mah, Byanca dan Evan belum bangun?" Tanya papah Jonathan yang tengah memakan sarapannya.
"Papah gak sabar pengen punya cucu mah."
"Iya pah sama, mamah juga udah gak sabar." Mereka terlihat tertawa bahagia, sambil menikmati sarapan nya.
"Papah berangkat dulu ya mah." Pamit Jonathan, usai menyelesaikan sarapannya.
"Iya pah, hati-hati." Ucap mamah Lyli, meraih tangan suaminya lalu menciumnya. Papah Jonathan pun berajak dari tempat duduknya, berjalan keluar dari rumahnya itu, melajukan mobil menuju kantornya.
***
Waktu sudah menunjukan jam 11.00 siang.
Cahaya matahari terus menyoroti kamar sepasang pengantin baru tersebut. Sorot matahari tersebut tepat mengenai mata Byanca yang masih terpejam.
Byanca membuka matanya perlahan, silau matahari sekita masuk kedalam kornea matanya. Membuat Byanca mengucek-ngucek matanya itu.
Sekilas Byanca melihat kearah jarum jam yang ada dikamarnya. Byanca membulatkan matanya, ketika melihat jarum jam tersebut menunjukan kearah angka sebelas.
__ADS_1
Sontak Byanca pun langsung terbangun fari tidurnya.
Perlahan ia menurunkan kakinya memijak lantai.
Byanca melihat suaminya masih tertidur, dengan hati-hati Byanca beranjak dari kasur tersebut. Namun pada saat akan melangkah kan kakinya, Byanca meresakan nyeri serta perih di bagian sensitifnya.
"Aww....'' Teriakan Byanca. Terlihat menahan sakitnya.
Suara teriakan Byanca sontak membangunkan suaminya, Evan terlihat terkejut lalu menatap kearah Byanca yang terlihat kesakitan.
"Sayang kamu kenapa?" Tanya Evan, mendekat kearah Byanca, dengan setengah masih merasakan kantuknya.
"Ini mas sakit."
Evan yang mengerti dengan apa yang dimaksud istrinya itu, dengan sigap Evan bangun dari tidurnya, membopeng Byanca ala bridal style menuju kamar mandi. Byanca terlihat terkejut dengan perlakuan suaminya itu
"Mas Byanca bisa jalan sendiri." Protesnya.
"Sudah diam."
Byanca terlihat pasrah. Evan meletakan istrinya itu didalam bath-up, menyalakan air hangat hingga bath-up tersebut penuh.
Memberikan sabun yang aromanya Rileks kedalam bath-up itu. Byanca merendamkan seluruh tubuhnya.
"Terima kasih mas!" Ucap Byanca, tersenyum manis menatap suaminya itu. Evan membalas senyuman istrinya itu, lalu ia masuk ke dalam bath-up tersebut berendam bersama Byanca.
"Mas mau ngapain?" Tanya Byanca. Menatap heran kearah suaminya itu.
"Mas mau makan kamu." Bidiknya, tersenyum menggoda Byanca.
"Mas jangan sekarang, Byanca masih sakit." Ucap Byanca, terlihat mengerutkan bibirnya.
Evan tersenyum kekeh. "Kamu tenang saja, mas gak akan lakuin lagi sekarang kok, sini biar mas bantu gosong punggung kamu."
Byanca pun memberikan punggung-nya kepada suaminya itu, dengan telaten Evan menggosok punggung Byanca. Melihat punggung Byanca yang putih serta mulus itu, sekita benda pusaka-nya beraksi. Byanca yang merasakan hal tersebut, menoleh kearah suaminya lalu menatap Evan dengan tatapan tajam.
"Gak sekarang yah mas." Byanca memberi peringatan kepada suaminya itu.
"Iya-iya sayang." Ucap Evan, sambil terus menggosok punggung istrinya itu.
Karna melihat reaksi Byanca tersebut, membuat Evan harus menahan hasratnya itu.
__ADS_1
Mau tidak mau, usai memanjakan istrinya itu, nanti Evan harus melakukan solo karir, untuk menuntaskan semuanya.
Bersambung...