SESAL USAI TALAK

SESAL USAI TALAK
Part 34 TAKDIR-PUN MASIH MENGINGINKAN KITA BERSAMA


__ADS_3

Byanca dan mamah Lyli sudah sampai di rumah sakit, ia berjalan menuju ruangan dokter kandungan, dan ternyata di sana sudah banyak orang yang mengantri, akan memeriksa kandungan mereka, seperti Byanca.


"Bi mamah tinggal ambil nomer antriannya dulu ya! Kami tunggu di sini," pinta Mamah Lyli.


"Iya mah, tapi aku mau ke toilet dulu sebentar," ucap Byanca.


"Ya sudah, jangan lama-lama ya By."


Byanca mengangguk, lalu ia berjalan menuju toilet rumah sakit, sedangkan mamah Lyli berjalan untuk mengambil nomer antrian untuk Byanca.


Byanca langsung masuk ke dalam toilet.


Tak lama kemudian Byanca keluar, ia berjalan agak cepat, mengingat pesan sang mamah bahwa ia jangan lama-lama.


......


Sopir Evan melajukan mobilnya menuju rumah sakit, Evan memutuskan untuk memeriksa tubuhnya, padahal bisa saja dokter datang ke rumahnya, namun entah mengapa Evan ingin di periksa di rumah sakit.


Sebenarnya Evan ada rencana lain, usai ia dari rumah sakit Evan berniat ingin menemui Byanca, Evan ingin mengucapkan salam perpisahan kepada wanita yang sangat ia cintai itu. Walau--pun Evan tau pasti akan sulit menemui Byanca, tapi kali ini Evan akan berusaha sebisa mungkin untuk bertemu Byanca untuk yang terakhir kalinya, setalah itu Evan sudah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan mengganggu atau--pun menemui Byanca lagi.


Mungkin ini sudah waktunya Evan merelakan Byanca, ia ingat pesan papa Edward. Ia harus membuka bisa melupakan Byanca, membuka hari untuk wanita lain. Karna hidup akan tetap berjalan, Evan tidak mungkin seperti ini terus di bayangi oleh bayang-bayang wanita itu.


Setelah beberapa bulan berlalu Evan rasa Byanca benar-benar sudah menutup hatinya untuk dirinya, terlihat dari sikap Byanca selama ini, ia bahkan tidak mau menemui Evan.


"Tuhan jika memang ini jalan yang terbaik aku akan lakukan, beri aku kekuatan Tuhan!" gumam Evan.


Evan terlihat sangat rapuh saat ini, akan ia sanggup melapaskan Byanca? Sedangkan dalam hatinya masih di penuhi cinta untuk wanita itu.


Tak lama kemudian Evan--pun sampai di rumah sakit.


Evan keluar dari mobilnya, usai sang sopir membukakan pintu mobil itu.


"Tunggu di sini saja pak, saya tidak akan lama," ucap Evan kepada sopirnya.


"Baik tuan muda!"


Evan--pun berjalan masuk ke dalam rumah sakit tersebut, pandangan Evan langsung tertuju kepada seorang wanita yang tengah berjalan di kolidor rumah sakit itu.


"Byanca..." Ucap Evan pelan.

__ADS_1


"Apa benar itu Byanca?" Evan mematung sambil menatap wanita yang sangat mirip dengan Byanca.


"Tapi untuk apa dia di rumah sakit, apa Byanca sakit?" Wajah Evan kini terlihat penuh kekhawatiran, Evan--pun berjalan dengan cepat, menyusul wanita itu.


"Byanca!!" Panggil Evan, ia menepuk bahu wanita itu.


Wanita itu langsung menoleh, ia memberikan tatapan heran kepada Evan.


"Maaf kamu siapa ya?" Tanya wanita itu.


Evan terlihat salah tingkah, "emm maaf mbak, saya kira mbak Byanca." Ucap Evan.


Wanita mengelengkan kepalanya, lalu berjalan kembali.


Evan membuang nafas berat, mungkin Evan merasa terlalu merindukan wanita itu, hingga ia berhalusinasi melihat Byanca di rumah sakit ini.


Evan--pun mengayunkan kakinya berjalan menuju ruangan dokter, yang sudah membuat janji dengannya.


Byanca membuang nafas lega, ia keluar dari persembunyiannya, "ya tuhan untung saja dia tidak melihatku? Sedang apa mas Evan disini?" lirih Byanca pelan.


Sebenarnya Byanca melihat Evan, namun saat Evan berjalan menyusulnya, Byanca bersembunyi. Dan untung saja ada seorang wanita yang penampilannya sangat mirip dengan Byanca. Jadi Evan mengira wanita itu Byanca.


Byanca--pun berjalan kembali menuju ruangan dokter kandungan dengan terburu-buru, Byanca yakin pasti mamah Lyli cemas, menunggunya di sana.


Bruuggg...


Byanca menabrak seseorang yang berjalan di hadapannya, "awww..." teriak Byanca, tangan kekar terlihat menahan tubuh Byanca.


Byanca dan laki-laki yang menahannya itu terlihat sama-sama diam, tatapan mereka bertemu dengan sangat dekat.


Laki-laki itu megulas senyumannya, saat mata mereka bertemu, sorot matanya menyorotkan bahwa ia sangat merindukan wanita itu.


"Mbak kalau hati-hati dong!" Ucap wanita yang Byanca tabrak tadi.


Byanca langsung melepaskan tangan laki-laki yang berada di pinggangnya itu, lalu Byanca menoleh kearah wanita yang ia tabrak, "maaf Bu, saya tadi terburu-buru," ucap Byanca.


Wanita itu memutar bola matanya malas, dan berajak dari hadapan Byanca.


Byanca langsung berjalan, namun tangannya di tahan oleh laki-laki tadi yang menolongnya.

__ADS_1


"Tunggu..." Ucap laki-laki tersebut.


Byanca memejamkan matanya sejenak, Byanca merasakan sesak kembali di dalam dadanya.


"Ya tuhan kenapa aku harus bertemu dengan mas Evan? Aku belum siap tuhan!" gumam Byanca.


Perlahan Byanca--pun membalikan tubuhnya, berhadapan dengan Evan.


Evan melebarkan senyuaman-nya, tak di pungkiri Evan sangat bahagia bertemu dengan Byanca, Evan langsung menarik wanita itu ke dalam pelukannya.


"Aku merindukanmu By..." Ujar Evan, tanganya mengelus lembut rambut Byanca yang terurai.


Byanca hanya terdiam, membiarkan laki-laki itu memeluknya, dalam hati Byanca ingin sekali melepaskan pelukan Evan, namun entah kenapa tubuhnya tidak bisa menolak pelukan laki-laki itu, pelukan Evan masih sama seperti dulu, di mana mereka masih bersama, tidak bisa di bohongi Byanca--pun sangat merindukan Evan, pelukan hangat Evan yang selalu membuat dirinya nyaman.


Cukup lama Evan memeluk wanita itu, ia menumpahkan kerinduannya pada Byanca. Merasa cukup puas Evan--pun melepaskan pelukannya.


Evan langsung meraih tangan wanita itu, lagi-lagi Byanca hanya terdiam, dengan kepala yang menunduk. Byanca tak berani menetap Evan yang ada di hadapannya itu.


Evan menatap lekat Byanca dari atas sampai kebawah, tapi tunggu! Mata Evan tertuju pada perut Byanca.


"Kenapa perut Byanca seperti orang hamil? Apa jangan-jangan Byanca memang sedang hamil?" Batin Evan.


"By, apa kamu sedang hamil By?" Tanya Evan.


Namun Byanca tak bergeming, hanya isakkan tangis yang terdengar dari bibir wanita itu.


"By jawab aku By? Apa itu anakku By?" Tanya Evan lagi, namun lagi-lagi Byanca tak menjawab, isakkan semakin terdengar lirih.


"By aku mohon jawab By?"


Byanca menganggukan kepalanya pelan, Evan langsung tersenyum bahagia, ia kembali memeluk Byanca.


"Takdir--pun masih menginginkan kita bersama By.." Ucap Evan, sekilas ia mengecup kening Byanca.


Bersambung...


Maaf ya jarang up, lagi sibuk banget.


Tapi mulai hari ini aku usahain lagi up tiap hari.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan Votenya!


Terima kasih.


__ADS_2