
Evan sudah sampai di rumahnya, ia melangkahkan kakinya dengan gontai, Evan terlihat sangat lesu tidak ada semangat sama sekali.
Edward yang melihat putranya itu--pun, terlihat sangat bingung. Kenapa Evan seperti sedang putus asa, perasan tadi pagi dia terlihat begitu bersemangat. Edward yakin pasti ada sesuatu yang terjadi dengan putranya itu.
"Van..." panggil Edward.
Evan mengehentikan langkahnya, ia menoleh kearah papanya itu.
"Ya..." jawab Evan singkat tidak semangat.
"Ada masalah?" tanyanya.
Evan menghelai nafas beratnya, lalu ia berjalan mendekat kearah papahnya itu, Evan duduk di sofa di samping papa Edward.
"Byanca Pah..." jawab Evan dengan lirih.
"Kanapa lagi?"
"Byanca mau kembali lagi sama Evan---"
__ADS_1
"Bagus dong, terus kenapa kamu terlihat begitu tidak bersemangat begini?"
"Byanca memberikan pilihan yang sulit Pah. Byanca mau kembali sama Evan, tapi hanya sampai bayi yang di kandungannya lahir, setalah itu Evan harus berpisah lagi dengan dia. Apa segitu bencinya-kah dia sama Evan Pah?" jelas Evan dengan wajahnya memelas.
Papa Edward menepuk bahu Evan. Ia mencoba menguatkan Evan.
"Evan gak tau harus gimana Pah? Jika Evan tidak menyetujuinya Byanca meminta Evan untuk melupakannya dan gak nemuin dia lagi! Evan gak mau Pah Evan sangat mencintai Byanca. Tapi jika Evan kembali lagi dengan Byanca, setelah itu harus berpisah kembali, itu hanya membuat hati Evan semakin terluka," ucapnya lagi.
"Menurut papa, sebaiknya kamu gunakan sempatan ini Van, kembali sama Byanca, turutkan saja mau dia sekarang. Jodoh sudah ada yang mengatur Evan, bagaimanapun nantinya serahkan sama yang maha kuasa, jika kalian berjodoh pasti tidak akan ada yang memisahkan, baik itu Byanca sendiri. Papa juga yakin Byanca masih mencintai kamu, semua hanya butuh waktu saja. Dan kamu gunakan waktu bersama Byanca untuk memperbaiki semuanya, buat Byanca percaya lagi sama kamu, buat dia seperti dulu lagi. Apalagi nantinya akan ada malaikat kecil diantara kalian, dia akan menjadi penguat hubungan kalian," tutur Edward.
Evan terdiam, ia mencoba mencerna dan memikirkan ucapan papahnya itu. Setalah di pikir-pikir mamang apa yang dikatakan papahnya itu ada benarnya. Ada waktu tiga bulan untuk membuat Byanca percaya lagi padanya.
"Bagaimana?" tanya Edward.
Semangatnya seperti kembali terbuka, takatnya semakin tinggi. Evan akan membuat Byanca kembali jatuh cinta kepadanya dan akan membuat Byanca perlahan bisa melupakan kesalahannya. Ya walaupun pastinya sangat sulit, tapi Evan tidak boleh pesimis. Semuanya belum dilakukan, tuhan maha membolak-balikan hati manusia bukan?
"Semangat Van, kamu pasti bisa. Papa yakin!" Edward memberi semangat untuk Evan.
"Oh iya Van, apa Byanca sudah tau tentang kamu daj Dara?" lanjutnya bertanya.
__ADS_1
Evan menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
"Sudah Pah, bahkan sebelum Evan ngasih tau Byanca sudah tau terlebih dahulu, mungkin papa Jonathan yang memberitahu!" jelas Evan.
"Syukurlah, semoga tidak ada lagi pengganggu hubungan kamu dan Byanca nantinya."
"Amin, semoga lah. Tapi Pah apa papa sudah dapat kabar di mana Dara sekarang?"
"Belum Van, orang-orang papa belum mendapatkan informasi lagi tentang Dara. Entahlah dia seperti hilang bagai di telan bumi, begitu juga dengan Anita Erik dan Hendra. Mereka juga ikut menghilang begitu saja."
"Pah apa mereka sedang merencanakan sesuatu?"
"Tidak tau Van, papa harap tidak. Apa mereka belum jera berhadapan dengan kita? Tapi kita tetap harus berhati-hati saja Evan."
"Iya pah, kalau begitu Evan ke kamar dulu!" pamit Evan, ia berajak dari sofa, lalu berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Aku akan memperjuangkan kamu By, apapun yang terjadi kita harus tetap bersama!" gumam Evan.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan Votenya ya.
Makasih.