
"Sya.....???" Dirga menuruni tangga dengan tergesa mencari keberadaan istrinya
Ia berjalan menuju ruang luas dapur. Seketika itu senyumnya mengembang dan seketika itu pula ia bergegas mendekati asya dengan raut khawatir (sungguh perubahan ekspresi yang drastis)
"Sya apa yg kamu lakukan, jangan mendekati benda-benda itu berbahaya" tukasnya khawatir
"Apaan coba? Ini tuh cuma kompor sama teflon" asya menjawab dengan nada kesal yang kentara
"Kalau kamu kena minyak panas trus kenapa-napa gimana coba?" Dirga sudah berada dibelakang asya dan sedang berusaha menghentikan apa yang dilakukan istrinya itu
"Nggk akan. Kamu tuh sana gih, jangan berlebihan gitu" ia menepis tangan dirga dengan cepat
"aku udah biasa masak, kamu duduk aja disana dan jangan gangguin" lanjut asya lagi yg kesal karena merasa terganggu oleh tingkah dirga
"Emangnya kenapa sya? Koki dirumah ini nggak bikinin makanan buat kamu?" Dirga sedikit menjauh karena asya memarahinya
"Bukan gitu, aku cuma gak suka aja" sahut asya yang masih sibuk dengan masakannya
"Kalau emang gak sesuai selera kamu, kita ganti aja kokinya jadi kamu nggak perlu repot-repot masak kayak gini"
Seketika itu koki yang masih berdiri tak jauh dari mereka menjadi gugup tak karuan, dirinya akan segera dipecat begitulah kira-kira difikirannya. Namun ia segera bernafas lega ketika asya membantah ucapan dirga
"Jangan! Kamu nih apaan sih" asya berbalik menatap tajam dirga yang berdiri dibelakangnya
"Emangnya salah kalau aku masak?, nggak boleh gitu? aku megang peralatan didapur?, takut keracunan? Yaudah kamu gak usah makan masakan aku! Biar aku makan sendiri" asya berucap dengan emosi yang meluap-luap
"Bukan gitu sya" dirga langsung bergerak memeluk asya, ia tak mau asya marah dan tidak nyaman apalagi jika asya kembali melakukan usaha kabur darinya
sebenarnya bukannya ia tak mampu menemukan kembali istrinya itu bila kabur, tapi ia tak ingin membuat asya terus saja menganggapnya penjahat yang harus dihindari
"Kamu boleh masak kok, aku cuma khawatir kamu kenapa-napa" ucap dirga dengan mengusap lembut pucuk kepala istrinya itu
Dirga sedikit melonggarkan pelukannya dan menatap asya
"Emang kamu masak apa sih?" Tanyanya lalu beralih menatap teflon dibelakang mereka
"Hanya Nasi goreng" ucap asya singkat
"Baiklah. Ayo kita cicipi masakanmu" bujuk dirga dengan senyumannya.
"Aku akan menunggu dimeja sana selama kau menyiapkannya" ia menunjuk arah meja makan yang tak jauh dari mereka
"Hm" asya hanya bergumam, sebenarnya ia masih kesal pada dirga tetapi ia tak berani melawan padanya
Tak lama kemudian pelayan membantu membawakan dua piring nasi goreng dan juga jus kemeja makan dengan diikuti asya didepannya. Ia masih tampak cemberut karena kesal.
Dengan perlahan dirga menyuapkan sesendok nasi goreng kemulutnya dan seketika terdiam menatap piring nasi goreng dihadapannya
"Kalo nggak enak gak usah dimakan" ucap asya dengan tenang
__ADS_1
"Kamu belajar darimana sya?" Ucap dirga dengan penasaran
"Belajar sendiri"
"Beneran sya?" Ucapnya lagi tak percaya
"Iya, aku belajar masak waktu kuliah di jerman" asya mengernyit bingung menatap dirga
"Ini enak, lebih enak dari masakan yuda"
Tamatlah riwayatku, tuan lebih menyukai masakan nyonya!
Yuda selaku koki dikediaman maheswara itu tiba-tiba merasa menciut dan merasa tak punya harapan
"Gak usah berlebihan gitu deh" asya memutar bola matanya jengah
"Aku serius sya. Nggk bohong" ucap dirga lagi meyakinkan
"Terimakasih" asya tersenyum manis karena barusaja dipuji
"Nanti buatin lagi trus bawain kekantor" ucap dirga dengan nada memerintah sedangkan Asya hanya mengangguk, seketika itu senyumnya hilang bergantikan kesal. Ia sangat tak ingin bertemu terus apalagi berdekatan dengan dirga tapi menolak perintahnya berarti harus siap nyawanya terancam
Siang itu asya datang dengan membawa tas kertas besar berisikan makan siang untuk dirga, pria itu bahkan mengganggu asya yang tengah berada dikantor dengan panggilan berisikan peringatan bahwa asya tak boleh terlambat ataupun lupa mengantarkan makan siangnya
"Permisi nona, ruangan ceo dimana ya?" Tanya asya pada petugas dilobi
"Apakah nona sudah memiliki janji?" Tanya petugas wanita itu pada asya
"Tidak"
"Kalau begitu maaf, anda tidak bisa menemui beliau tanpa janji. Beliau tidak menerima sembarang tamu" ucapnya menjelaskan
"Dia yang menyuruku kemari, tunjukkan saja tempatnya dan aku akan segera pergi" ia benar-banar semakin kesal
"Maaf nona, kami tidak bisa menerima tamu apalagi bila tidak memiliki keperluan bisnis"
Asya seketika memicingkan mata tak senang, apalagi petugas itu menatapnya dari atas sampai bawah. Mungkin ia berfikir bahwa asya adalah wanita yang sedang berusaha merayu bos mereka.
Asya segera membuka tas dan mengambil ponselnya, ia menghubungi dirga karena para karyawan pria itu tak mengizinkannya masuk
"Hallo sya" terdengar jawaban dari seberang
"Aku sudah tiba dikantormu, tapi karyawanmu tak mengizinkanku masuk" ucapnya dengan ketus
"Apa???" Terdengar suara terkejut dari seberang.
"Tunggu aku akan kebawah dengan segera, dan jangan kemana-mana" dirga langsung memutuskan sambungannya
__ADS_1
"Memangnya aku bisa kemana! Bukankah aku bisa mati jika beranjak dari sini" ucapnya dengan sinis
Tak lama kemudian pintu lift terbuka dan dirga segera keluar dengan berlari kecil menghampiri istrinya yang berdiri dengan menghentak-hentakkan kakinya, jelas sekali jika ia tengah kesal
"Sya, apa kau sudah menunggu lama?" Tanyanya ketika telah berhadapan dengan asya
"Sebenarnya kau itu punya kekasih sebanyak apa! Sampai karyawanmu mengira aku penggoda yang mencoba mencarimu hah" ucapnya dengan nada ketus menggebu-gebu
"Sayang. Aku tak punya kekasih selain dirimu" dirga meraih tangan asya dan menggenggamnya. Sedangkan yang diajak bicara hanya memutar bola matanya dengan bosan
"Percayalah padaku, maafkan aku yang telah membuatmu menunggu. Jangan marah ya" dirga berkata dengan lembut dan mencium tangan asya yang berada digenggamannya
Tuh kan dia sandiwara lagi, membuatku semakin kesal saja! ungkap asya dalam hati
"Kalian! Dia ini nyonya maheswara. Berani sekali kalian membuat istriku menunggu hah" dirga berteriak kesal pada petugas yang berjaga dilobby
Kedua petugas itu menunduk ketakutan, tubuhnya gemetaran dan mengeluarkan keringat dingin
"Kalian tak usah bekerja lagi, dasar tak punya sopan-santun berani-beraninya kalian menatap istriku dengan tatapan mencemooh seperti itu" dirga telah murka
"Jangan begitu, mereka hanya tak tau" asya mengusap-usap lengan dirga berusaha menenangkannya. Ia tak mau orang lain mengalami musibah karena dirinya, cukup dia saja yang mendapat musibah karena amarah dirga
"Lupakan okay. Kita....kita sebaiknya pergi keruanganmu dan makan siang" lanjutnya lagi
"Tapi mereka....."
"Ayo kita pergi, nanti keburu makanannya dingin. Aku sudah membuatnya, aku tak ingin ini menjadi mubadzir" asya memotong ucapan dirga dan langsung menarik lengannya menuju lift
Kedua karyawan tadi langsung terduduk lemas, mereka benar-benar terancam di phk karena merendahkan istri bosnya dengan terang-terangan. Tapi ini sepenuhnya bukanlah kesalahan mereka, karena setau mereka dirgantara tidak memiliki kekasih apalagi sudah menikah.
Diruangan dirga asya telah menata makanan yang dibawanya dengan rapi diatas meja
"Bukankah aku meminta nasi goreng?" Tanya dirga ketika melihat makanan yang dibawa asya untuknya
"Tidak baik jika memakan nasi goreng disiang hari, apalagi kamu masih harus bekerja" jelasnya dengan tenang
"Terserah saja, pokoknya suapi aku" dirga mengedikkan bahunya tak mau tau
"Kamu kan bisa makan sendiri, aku masih harus kembali kekantor" sanggah asya
"Jangan harap kau bisa keluar dari sini jika berani menentang perintahku" dirga menatap asya tajam, sedangkan asya sudah mendelik tak suka
"Suapi aku dan kau bisa pergi atau aku akan menahanmu disini" tegas dirga dengan menatap asya lekat
Asya segera mengambil makanan dihadapannya dan menyuapi dirga, ia melakukannya dengan tak ikhlas. Jujur saja ia hanya ingin ini segera berakhir dan dia bisa pergi, dia punya pekerjaan yang menumpuk dimeja kantornya.
Ceklekkk.... terdengar suara pintu dibuka dan menampilkan sesosok wanita cantik yang terdiam mematung karena terkejut melihat adegan dihadapannya. Asya dan dirga pun tak kalah terkejutnya dengan kehadiran wanita itu
__ADS_1