
"Ra, pakaiannya sudah diantar luna kan?" Tanya dirga dari seberang sana
"Sudah kok mas" jawab asya
"nyonya ini daging rebusnya mau diapakan?" Tanya seorang pelayan
"Tolong bantu untuk memotongnya menjadi lebih kecil ya" pinta asya pada pelayan yang berada tak jauh darinya itu
"Baik nyonya"
"Eh, jangan masukkan dagingnya dalam sup. Pisahkan pada mangkuk yang lain" asya berseru ketika melihat seorang pelayan hendak memasukkan daging cincang kedalam panci sup
"Maafkan saya nyonya"
"Zara" panggil dirga dari seberang panggilan mereka
"Iya mas?" Sahut asya
"Kamu lagi didapur ya?" Tanya dirga
"Iya mas, ini aku lagi nyiapin makan malam. Jadi nanti kalau mas sudah pulang kita bisa langsung makan bersama" ucapnya dengan riang
"tadi aku sudah bilang pada anne supaya peralatan kerja mas dibawain kesini, soalnya aku tidak tau apa saja yang mas butuhkan dan aku yakin anne serta zack lebih faham" sambung asya
"Iya ra, terimakasih atas pengertiannya" sahut dirga dari seberang sana
"Aku tutup dulu ya mas, mau lanjut menyiapkan makan malamnya" ucapnya dengan terburu-buru
"Iya ra, hati-hati ya sayang. Assalamu'alaikum"
"Walaikumsalam" sahutnya setelah itu segera ia akhiri sambungan panggilan mereka
"Memangnya aku sedang apa sampai harus hati-hati" asya menggelengkan kepalanya disertai senyum geli
"Mungkin tuan takut nyonya terluka" sahut pelayan disampingnya yang kebetulan mendengar gumaman asya
"Yang benar saja, memangnya apa yang akan melukaiku. Oh mungkin saja kompornya bisa meledak"
"Nyonya bisa saja" hampir semua pelayan disana ikut tertawa dengan lelucon receh yang dibuat asya
"Ingat ini, mike mungkin jarang makan dirumah sehingga kalian tidak mengetahuinya" asya menjeda kalimatnya untuk mengalihkan perhatian pelayan yang ada disana padanya
"Mike memang menyukai pasta, tetapi kalian tidak boleh terlalu sering memberikannya itu. Dia juga suka sup seperti yang kubuat saat ini, tetapi jangan pernah mencampurkan dagingnya untuk dimasak bersama sayuran lain. Rebus dagingnya dan pisahkan mengerti!" Jelasnya ketika para pelayan telah memperhatikan
Pelayan disana segera mengangguk sopan tanda bahwa mereka telah mengerti
Mereka segera mempersiapkan hidangan makan malam dimeja makan mengikuti instruksi asya, mereka tidak menyangka bahwa seorang nyonya maheswara mau turun tangan sendiri kedapur untuk menyiapkan makan malam bagi mereka semua
Bahkan asya juga membuatkan makanan untuk para pelayan yang ada disana, hal itu mampu membuat mereka tersanjung mengingat bagaimana tingginya status wanita itu dikediaman ini. Bahkan mereka masih mengingat dengan jelas bagaimana perintah dari tuan mereka michael untuk selalu menghormati dan memperlakukannya secara istimewa
Ternyata wanita yang terlihat biasa saja dalam penampilannya itu memang pantas di istimewakan. Setelah sekian lama mereka tak pernah melihat michael begitu patuh, akhirnya mereka melihat pria itu diam saja ketika asya memarahinya yang tidak mau minum obat
__ADS_1
Ternyata ketulusannya lah yang membuatnya istimewa, ia merawat michael seperti adiknya sendiri dan selalu memperhatikannya. Tak heran jika michael yang melihat sosok asya yang seperti mendiang ibunya begitu menyayanginya.
Para pelayan itu masih menatap asya dengan kekagumannya, bahkan tanpa mereka sadari bahwa semua hidangan telah siap dan rapi. Mereka juga tidak menyadari adanya kehadiran orang lain disana
Grepp,
dirga memeluk asya dari belakang tanpa istrinya itu sadari
"Sibuk sekali sih istriku yang cantik" ucapnya yang sedari tadi sudah melihat betapa sibuknya asya menyiapkan segalanya
"Eh mas, sejak kapan sampai?" tanyanya terkejut dengan kehadiran dirga
"Sekitar lima menit yang lalu" jawabnya
"Kenapa tidak ada yang memberitahuku kalau mas sudah sampai" tanyanya penasaran
"Aku yang menyuruh mereka untuk diam, aku ingin melihat sendiri apa yang sedang kau lakukan"
"Isshh, mengejutkan saja" keluh asya, ia membalikkan dirinya untuk melihat dirga
Dirga tak menjawab sama sekali ia hanya tersenyum tak bersalah melihat asya yang cemberut kesal.
Asya mencoba melepas pelukan dirga dipinggangnya namun nihil, karena dirga malah semakin mengeratkannya. Seakan menolak segala pemberontakan yang dilakukan asya pada perlakuannya
"Lepaskan ini mas" bujuk asya perlahan, namun dirga malah menggelengkan kepalanya dengan angkuh
Para pelayan yang ada disana hanya menunduk dan mengalihkan pandangan mereka dengan malu ketika melihat dirga yang sedang bermanja-manja pada istrinya tanpa menyadari situasi
Dirga malah merunduk dan semakin mengeratkan pelukannya ketika asya memintanya agar segera mengurai pelukan mereka
"Nggak mau" tolaknya dengan keras
"Malu mas" asya masih saja berusaha melepaskan pelukan dirga
"Kenapa sih ra?" Tanya dirga dengan kecewa
"Kenapa apanya?" Tanya asya yang tak faham
"Kenapa sih kamu selalu menghindar jika kupeluk, seenggak suka itu kamu padaku?"
"Eh Kok ngomong gitu sih?" Asya seketika itu terkejut mendengar ucapan dirga yang langsung melepas pelukannya dengan keras
"Kenapa sih ra? kenapa!" ucapnya frustasi dengan suara keras yang tertahan
"Bukan begitu mas" asya berusaha menjelaskan pada dirga yang langsung membuang muka tak mau menatapnya
Dirga tak mau menyahuti ucapan asya, ia malah segera beranjak dari sana
Asya yang merasa harus memberikan penjelasan bergegas mengejar langkah lebar dirga yang tak mampu ia imbangi sama sekali.
Dirga sudah sampai didalam kamar ketika asya berhasil mengejarnya, pria itu menarik dasinya dengan kasar lalu melemparnya kesegala arah. Siapapun yang melihatnya akan langsung tau bahwa ia sedang marah
__ADS_1
"Mas dengarkan aku dulu" diraihnya tangan suaminya itu hingga menghadapnya sedangkan Dirga masih saja tak mau menatapnya
"Bukan begitu maksudku, bukannya aku membencimu atau apapun itu" ia berusaha mengalihkan fokus dirga padanya
"Aku hanya tak suka jika mas melakukan hal seperti tadi didepan orang lain, itu membuatku tidak nyaman" ia masih saja berusaha menjelaskan
Dirga hanya diam saja tak menyahuti ucapan asya, ia memilih duduk ditepi ranjang dan melepaskan jas lalu membuangnya kesembarang arah. Melepas arloji yang melingkari pergelangan tangannya kemudian melemparnya kedinding hingga benda itu hancur berkeping-keping
"Tolonglah hargai juga perasaanku" pinta asya padanya
"Menghargai apa? jelas sekali bahwa kau membenciku, makanya kau selalu menghindariku" ucapnya dengan dingin
"Berapa kali harus kukatakan bahwa aku tidak membencimu" sangkal asya
"Lalu apa? Tidak suka padaku? Itu sama saja" dirga berucap dengan ketus
"Aku hanya tidak suka jika kamu memeluk dan menciumku dihadapan orang lain, itu membuatku tidak nyaman" ungkap asya
"Seperti kamu pernah menerimakanku saja" dirga tersenyum masam
Asya semakin mendekat pada suaminya itu dengan marah, sekarang bukan hanya dirga saja yang tersinggung. Ia juga tersinggung oleh ucapan pria itu
"Lihat aku" dihadapkannya wajah pria itu agar menatapnya
"Kapan aku pernah menolakmu?" Tanyanya dengan tajam, memaksa pria itu untuk melihat kemarahannya juga
"Jawab aku. Kenapa diam saja" suaranya semakin tajam dengan tekanan
"Aku bahkan selalu membiarkanmu menyentuhku, pada kau yang bahkan suka lupa tempat dan waktu" ucapnya marah
"Aku hanya memintamu untuk memikirkan perasaanku, hubungan kita bukan sesuatu yang bisa dilihat semua orang. Aku hanya memintamu menghargai dan menghormatiku sebagai wanita yang menjadi istrimu. dan lihat ini bicaramu bisa sampai kemana-mana" asya tertawa hambar ketika mengucapkannya
Tanpa memperdulikan lagi dirga yang masih disana ia segera keluar dari ruangan itu dengan marah, ia sadar bahwa sudah sifat suaminya yang memang selalu bertindak semaunya. Tetapi tetap saja ia merasa kecewa
bagaimana ia bisa bertindak tidak menghormatinya sebagai wanita, sedangkan asya juga masih punya harga diri. ia hanya meminta sedikit saja dari dirga untuk memikirkan perasaannya
ini nusantara dimana Sopan dan santun dijunjung tinggi
.
.
.
.
.
PRAKATA DARI PENULIS;
penulis mengucapkan banyak terimakasih atas dukungan pembaca sekalian hingga detik ini
__ADS_1
penulis harap kalian tidak bosan dengan cerita ini dan bersedia meninggalkan sedikit jejak, karena respon anda adalah semangat saya.