Setan Posesif

Setan Posesif
Hiperbola


__ADS_3

"jangan menilai buku dari sampulnya, karena kita tak pernah tau sebaik apa isinya"


~Alfiyah sulthan~



Entah sudah jam berapa saat ini, udara terasa begitu dingin menyentuh kulit. Suara binatang malam terdengar mendominasi membuat suasana semakin sunyi, sayup-sayup terdengar suara panggilan sang muadzin kepada umat agar segera bersujud kepada sang pemilik alam


Suara merdu itulah yang perlahan-lahan mengembalikan kesadaran asya kepermukaan, matanya mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang menembus retinanya.


"Assshhh......" asya mendesis merasakan sakit ketika menggerakkan tangannya dan Ia melihat tangannya yang di infus


"Nyonya? Akhirnya anda sadar" tampak sekali kelegaan diwajah anne ketika melihat asya telah sadar


"Oh. Ini nyonya" anne mengangsurkan gelas berisi air kepada asya.


"Anda pasti merasa haus" anne segera membantunya untuk duduk


Asya segera meminum air yang diberikan kepadanya, tenggorokannya saat ini terasa amat kering


Perlahan tapi pasti asya mulai mengingat kejadian ketika melihat pria psikopat yang sempat ingin membunuhnya itu, hingga kemudian ia berlari ketakutan dan akhirnya jatuh tak sadarkan diri


"Anne, barapa lama aku pingsan?" tanya asya memastikan


"Seharian lebih nyonya" jawab anne dengan cepat


"Jam berapa sekarang ini?" tanya asya lagi


"Ini sudah jam lima pagi nyonya" jawab anne menjelaskan


"Selama itu aku pingsan?" Tanyannya tak percaya


"Anda terserang syok dan berakhir demam nyonya, kami sungguh khawatir"


"Apa kau menjagaku semalamam anne?" Tatapannya meredup, ada sedikit rasa bersalah yang menyusup dalam hatinya karena telah membuat orang lain kesulitan


"Tentu saja nyonya" sahut anne dengan tegas


"Terimakasih anne" asya tersenyum tulus kepadanya


"Jangan berterimakasih nyonya, ini sudah kewajiban saya" jawab anne merasa tak enak hati


"Anne tolong bantu aku mengambil mukena" pinta asya


"Baik nyonya" anne bergegas menuju ruang ganti namun tak lama kemudian ia kembali muncul

__ADS_1


"nyonya. Saya tidak bisa menemukannya"


"Aku masih menaruhnya di koper"


Anne bergegas mencari mukena tersebut setelah ia menemukannya segera ia keluar dari ruang ganti dan segera memberikan kepada nyonya nya yang telah menunggu. Asya menyadari bahwa tubuhnya masih lemah dan berdasarkan kondisinya ini tak memungkinkan untuk mengambil air wudhu sehingga Akhirnya ia memutuskan untuk tayamum.


Ketika asya selesai mengerjakan sholat ia melihat telah banyak orang yang mengelilinginya, perasaan tidak nyaman mulai mengusik ketenangannya


"Bagaimana keadaanmu?" Seorang dokter mendekat dan melakukan pemeriksaan.


"Apa yang kau rasakan?" Tanyanya lagi


"Kepalaku terasa sedikit berat" jujur asya


"Apa kau merasa mual?"


tanya dokter itu lagi memastikan dan asya hanya menjawab dengan gelengan kepala


"Baguslah jika begitu, kau harus meminum obat yang kuberikan" ia tersenyum kepada asya, disertai dengan gerakan supaya perawat yang berada didekatnya segera menyiapkan obat yang sesuai


"Anda siapa?" tanya Asya yang tak bisa menyembunyikan lagi rasa penasarannya


"Aku adalah samuel, kau bisa memanggilku sam. Seperti dirga memanggilku" ia kembali tersenyum lagi


Luna dengan segera berlalu meninggalkan tempat itu, tak lama kemudian luna datang membawa semangkuk bubur, ia bahkan bersikeras menyuapi asya meskipun asya telah menolak hal itu


"Dokter sam, bukankah semua ini berlebihan" asya mulai berkomentar setelah melihat keadaan diruangan tersebut, ia bisa melihat adanya peralatan medis dan perawat-perawat yang nampak ahli disana.


Bahkan asya sempat mengira bahwa dirinya berada dirumah sakit, apalagi dengan adanya penjagaan ketat disekelilingnya.


"Tidak ada yang berlebihan untuk seorang nyonya maheswara" ucap sam masih dengan senyuman manisnya


"Mengapa kalian mengatakan hal yang sama" asya mengerucutkan bibirnya tanda tak senang


"Ahaha.....hahhahha, jadi ia juga sudah mengatakan hal yang sama?" sam tergelak karena mengetahui bahwa dirga mungkin telah mengatakan hal tersebut


"Dia sungguh tipe orang yang berlebihan" adu asya


"Kau sangat lucu, biasanya wanita akan menyukai hal seperti ini" sam sedikit mengusap ujung matanya yang berair karena tertawa


"Bukankah wanita senang bila diperlakukan seperti putri yang dipuja-puja" lanjut sam menjelaskan


"Tapi aku tak suka hal yang berlebihan seperti ini" ucapnya sarkast


"Nyonya, bukankah kau berasal dari keluarga yang berada?" Sam bertanya dengan nada tak mengerti

__ADS_1


seharusnya asya terbiasa dengan hal-hal seperti ini, diistimewakan bak sebongkah berlian berharga yang harus dijaga. apalagi tadi sam sempat mencari informasi tentang asya, ia cukup terkejut ketika tau bahwa istri temannya ini adalah seorang nona sulthan. wanita yang terkenal berkat prestasinya dalam berbisnis, lalu jika memang begitu mengapa asya tampak asing dengan hal-hal seperti ini


"Tapi keluargaku menjunjung tinggi kesederhanaan dan melarang kami untuk berlebihan dalam kemewahan" jelas asya dengan senyum disudut bibirnya mengingat tentang betapa luar biasanya keluarga mereka


"Anda sungguh mengejutkan nyonya, saya fikir......" ucap sam yang langsung terhenti


"Stop! Jangan memanggilku nyonya. Kalian membuatku tak nyaman" asya memotong ucapan sam


"Panggil saja aku ASYA" ungkapnya lagi menegaskan


"TUAN AKAN MEMBUNUH KAMI NYONYA" sam, luna dan anne menolak dengan serentak


"Ehm. Nyonya tolong jangan membuat keadaan kami semakin sulit" sam sedikit berdehem sebelum menjelaskannya, membuat asya terdiam


Bagaimana mungkin mereka berani memanggil asya yang merupakan istri tuannya tersebut hanya dengan namanya, itu sih berarti menggali kubur sendiri. mereka tau jelas bagaimana sikap arogan dirga jadi tak mungkin berani menentangnya



Asya tengah berjalan-jalan keluar dengan dipapah anne karena bosan dan merasa bahwa kondisinya semakin membaik, Alangkah terkejutnya ketika sampai dihalaman depan rumah


"Astagfirulloh hal'adzim" ia menutup mulutnya dengan tangan karena terkejut


"Ada apa nyonya?" tanya anne


"Apa yang terjadi?, mengapa pengawal disini semakin banyak?" kata asya terkejut ketika melihat penjagaan yang semakin diperketat


"Itu karena anda kemarin tak sadarkan diri ketika melihat tuan michael, sehingga tuan meningkatkan keamanan dan melarang tuan michael kemari selama tuan di dubai" sahut anne menjelaskan


"Sungguh Hiperbola" jawab asya tak percaya


"Hiperbola nyonya?" Anne tampak tak mengerti dengan ucapan nyonya nya


"Iya! Hiperbola atau BER-LE-BI-HAN" ucapnya penuh penekanan


Anne hanya tersenyum menanggapi ucapan asya yang terdengar luar biasa untuknya. Ia berfikir bahwa istri tuannya itu seorang wanita elegan yang angkuh dan berkuasa apalagi dengan status tuannya, namun ternyata ia salah karena nyonya nya ini hanyalah seorang wanita sederhana dengan sifat yang ramah, baik dan terkesan ceplas-ceplos


Jujur anne saat ini menjadi kagum pada wanita yang menjadi istri tuannya ini, dengan segala kemewahan yang diberikan oleh dirgantara wanita ini malah bersikeras menolaknya. jika anne tidak tau latar belakang asya mungkin ia akan berfikir bahwa nyonya nya ini hanya seorang wanita naif yang mengandalkan kepercayaan dengan cinta


"Anne?"


"Iya nyonya?"


"Emm. Michael itu siapa?"


__ADS_1


__ADS_2