
Asya dan dirga telah berkeliling dan menyalami hampir seluruh tamu, tamu yang hadirpun cukup banyak. Terhitung dari keluarga dekat asya dan teman-temannya hingga rekan kerja mereka yang lumayan banyak jumlahnya
Ada kathrina bersama suami dan anaknya yang baru berumur 3 tahun, ada juga pasangan Navila bersama suami dan anak kembarnya, Lalu ada pasangan emily dan bryan sang pilot yang sulit dijumpai dengan membawa anak mereka yang berusia 5 dan 2 tahun juga tentunya, Serta ada sahabat yang suka menasehati yaitu Sherlina dan suaminya juga anak pertama mereka yang baru menginjak usia 2 tahun
Disaat asya dan dirga masih asik bertegur sapa dengan pasangan kathrina juga sherlina tiba-tiba saja ada yang menghampiri mereka, sedangkan kathrina dan sherlina langsung membeku menatap sosok itu
"Selamat atas pernikahanmu, semoga selalu bahagia" ucapnya dengan senyum manis yang biasa ia berikan pada sosok dihadapannya
"Terimakasih atas kehadiranmu Zee" ucap asya tulus
"Jika ada apa-apa kau tentu tau harus kemana" ucapnya dengan senyum miring penuh keangkuhan
Setelah mengucapkan hal itu zeus berlalu tanpa menoleh lagi, bahkan tak ada setitikpun niatan untuk sekedar menyapa orang yang menjadi suami sahabatnya, atau mungkin orang yang telah merebut pemilik hatinya
Dari cara tersenyumnya saja semua orang sudah pasti bisa melihat adanya rasa yang tersimpan, apalagi sorot matanya yang tak ragu-ragu menunjukkan rasa kagum pada asya
Abimanyu dan nuril mematung melihat adanya tatapan tajam menusuk secara tak kasat mata yang ditunjukkan dirgantara, sebagai seorang pria saja mereka bisa gentar melihat tatapan mengintimidasi dari dirga. Mereka terheran-heran melihat tingkah zeus yang berani sekali menggoda asya didepan matanya
Ketika asya menoleh dan melihat suaminya itu seketika senyumnya langsung luntur berganti dengan sikap gugup yang mendera
"Dia teman lamaku" ucap asya berusaha memutus tatapan tajam yang mampu menusuk hingga ketulang belulang itu
"Dia hanya bercanda" sambungnya lagi ketika tidak juga mendapati sahutan dari sang suami yang masih menatapnya tajam
Dirga tak menyahutinya ia hanya mengalihkan pandangannya kedepan menyapa para tamu yang masih ramai berdatangan. dirga merasa tidak suka dengan sikap terang-terangan yang ditujukan pria yang disebut teman istrinya itu, apalagi ia tau benar siapa dia
***
Waktu sudah semakin larut dan para tamu tampak mulai menikmati hidangan yang tersedia, namun entah mengapa sang suami sama sekali tak terdengar suaranya. Membuat asya mulai mengarahkan perhatiannya pada dirga
Asya terkejut ketika mendapati wajah sang suami yang tampak pucat, bahkan ada bulir-bulir keringat dingin yang meluncur dari pelipisnya
"Mas kenapa?" Tanya asya yang mulai panik, sedangkan yang ditanya hanya terdiam dengan memejamkan mata menahan sakit
Asya yang menyentuh tubuh dirga langsung terkejut ketika merasakan betapa dinginnya tubuh itu
__ADS_1
"Kita keatas sekarang" ucap asya mulai menuntun dirga untuk meninggalkan tempat itu
"Loh ra, mau kemana?" Tanya adam ketika melihat sang mempelai yang hendak meninggalkan pesta pernikahan mereka
"Mas dirga nggak enak badan jadi mau kuantar keatas" sahut asya
"Kok tiba-tiba padahal tadi masih sehat-sehat aja, apa perlu dipanggilkan dokter?" Tanya adam ketika melihat wajah pucat adik iparnya
"Nggak usah mas, mungkin cuma kecapean. Cuma perlu istirahat" tolak asya pada tawaran adam
Jika sampai mereka mengetahui keadaan dirga yang sebenarnya maka dapat dipastikan akan ada kekacauan yang timbul, bisa jadi mereka akan mengorek identitas dirga yang sesungguhnya. Tentunya hal ini tidak boleh terjadi atau rahasia suaminya akan terbongkar dan bencana akan terjadi
"Nggak papa kok mas, ini bukan masalah besar" ucap asya meyakinkan adam
"Lagian udah tau bakal resepsi bukannya istirahat malah sibuk kerja" ketus adam mengingat pagi tadi ketika ia bertanya pada asya kemana suaminya itu dan sang adik menjawab bahwa dirga harus pergi bekerja karena ada sedikit terjadi masalah
Adam cukup kesal ketika mengingatnya, bahkan ia ingat ketika kedua mempelai itu muncul setelah lama ditunggu-tunggu oleh para tamu. Dia juga heran karena sebelumnya tidak melihat kedatangan dirga namun tiba-tiba bisa keluar dari kamar dengan tampang tidak bersalah
"Tolong bilangin keAbi dan para tamu ya mas, maaf karena tidak bisa menyambut lebih lama lagi" ucap asya pada adam yang langsung menganggukinya
***
Luka lainnya tampak aman kecuali yang berada dilengan, sesungguhnya dirga terluka dibanyak tempat bukan hanya dilengan tetapi dileher, dada, kaki dan perutnya juga. Namun luka yang lain hanya goresan kecil dan tidak dalam, tidak separah luka dilengannya yang sampai perlu diperban
"Apa kita perlu memanggil dokter sam kesini?" Tanya asya ketika selesai mengganti perbannya
"Tidak" jawab dirga
"Tapi aku khawatir, tubuhmu bahkan terasa hampir membeku" sahut asya sambil membantu sang suami mengganti pakaiannya
"Aku sudah diobati, ini hanya reaksi obatnya saja" ucapnya meyakinkan asya
"Lukanya juga cukup dalam tetapi kenapa tidak dijahit saja" ucapnya menyuarakan kebingungan yang sedari mendera akibat melihat luka dilengan suaminya
"Aku terkena senjata beracun ra, jika sampai dijahit malah bisa menimbulkan infeksi" ungkap dirga memberitahukan keadaannya
__ADS_1
"Ini sudah zaman apa coba! Yang benar saja masih pakai racun" rasanya hal itu terdengar kuno seperti dahulu kala saja
"Aku serius ra" ucap dirga
Sebenarnya saat ini tubuhnya sudah cukup lemas dan juga sakit, tetapi entah mengapa dia tidak bisa mendiamkan istrinya itu untuk sejenak saja. Rasanya ia ingin terus bertanya dan berbicara
"Apa mike juga terluka?" Tanya asya perlahan
"Iya, kakinya terluka cukup parah" jawabnya santai
"Sungguh! Tapi dia bahkan berada disini" asya terkejut bukan main, bagaimana bisa orang yang terluka parah bisa hadir dipesta dengan penampilan yang terkesan luar biasa. Bahkan adik iparnya itu sangat aktif bergerak kesana-kemari
"Akan sangat mencurigakan apabila tiba-tiba kami menghilang, bukankah kau juga tau bahwa tempat terbaik untuk sembunyi adalah keramaian" dirga berusaha menjelaskan
"Apakah dengan seperti ini lukanya tidak semakin parah" asya menjadi khawatir ketika memikirkannya
"Dia pasti sudah memastikan keadaannya untuk ini, dan kami tidak bisa sedikitpun bersantai karena pihak berwajib pasti mengintai. Ingatlah bahwa yang kami lakukan ini ilegal" sorot matanya menajam ketika mengatakannya
"Benar juga ya" asya mengangguk-angguk ketika memikirkannya
"Yasudah, sekarang mas langsung istirahat saja. Aku mau ganti baju dulu, gaun ini berat" keluhnya dengan sedikit mengangkat ujungnya
Ditatapnya asya yang telah berlalu meninggalkannya sendirian, ia masih jelas mengingat bagaimana asya memeluknya tadi. Juga mengingat bagaimana wanita itu menangis dan memintanya jangan pergi
Seulas senyum langsung terukir diwajahnya, bolehkah sekarang ia berharap? Apakah sekarang ia sudah berada dihatinya?
Sejenak ia merasa bahagia, hatinya menghangat mengabaikan tubuhnya yang seakan sudah membeku. Bahkan segala rasa sakitpun tidak akan mampu menyiksa dan menghalanginya untuk saat ini
.
.
.
.
__ADS_1
.
jangan lupa tinggalkan jejak, karena respon anda semangat saya😊