
"Menikah itu nasib, mencintai itu takdir. Kamu bisa berencana menikahi siapa, tapi tak dapat kau rencanakan Cintamu untuk siapa. (Sujiwo tejo)" ucap asya dengan lembut
Dirgantara kembali dihantam oleh keterkejutan ketika mendengar ucapan wanita yang tengah berada dipelukannya itu,
Apa maksud dari ucapan asya?
***
"Apa maksud dari ucapanmu ra?" Tanya dirgantara dengan suara bergetar
Ia takut untuk mendengar jawaban sesungguhnya dari asya, jiwanya terasa melayang ketika mendengar ucapannya. Hatinya berasa tertusuk sembilu
Ucapan asya mengandung makna ganda, ia tak berani memikirkan segala kemungkinannya. Ia tidak akan bertindak tidak tahu diri lebih dari ini lagi
Seseorang yang sehina dirinya ini tak akan berani mengharapkan apapun dari asya, memangnya apa yang pantas dari dirinya untuk dibanding orang lain yang jelas lebih baik darinya,
Ya benar, jika sudah ada orang yang sebaik zeus tengah menunggu dihadapan asya tentu dirgantara tak boleh mengharapkan apapun lagi. Ia dengan jelas juga tahu bahwa asya tetap berada disisinya hingga saat ini karena keterpaksaan
Karena dirinyalah yang memaksakan keberadaan wanita itu disisinya, karena ia mengancam asya dengan segala hal agar tak sekalipun ia bisa melepaskan diri darinya.
Dengan kenyataan yang sejelas ini mana mungkin dirgantara berani berharap lebih, bagaimana mungkin ia berani berharap bahwa asya akan membalas perasaannya. Ia cukup tau diri untuk itu
"Benar..."
Ucapan asya yang terdengar menggantung semakin menghancurkan jiwanya, hatinya mungkin telah berdarah-darah ketika memikirkan kebenarannya
Tidak ada yang tersisa dari dirinya ketika memikirkan betapa asya tersiksa oleh keberadaannya dan betapa besar harapnya untuk bersama zeus, pria yang dicintainya
"Benar aku bisa berencana untuk menikah dengan siapapun itu, namun lagi-lagi denganmulah nasibku. Apapun yang kurencanalan dan kuharapkan
Tanpa kuketahui cinta itu takdir, dan engkaulah takdir yang selama ini berusaha kupungkiri" ucap asya dengan tersenyum tulus
Dirgantara melepaskan pelukannya, ia menatap asya. Berusaha keras memindai kebohongan ataukah mungkin ia yang salah mengartikan ucapan istrinya itu
"Sekeras apapun aku membohongi diriku sendiri, pada akhirnya Do'amulah yang menang. Gusti semesta alam lebih memilih mengabulkan Do'amu daripada harapku yang egois" asya masih saja tersenyum ketika mengucapkannya
"Daripada membiarkan kekeras kepalaanku yang tak mau mempercayai cinta, sang gusti lebih memilih untuk membuktikan padaku bahwa cinta itu ada dan ia adalah fitrah.
Daripada membiarkanku yang egois, Gusti Allah lebih senang menjeratku pada perasaan cinta kepadamu hingga aku sendiri tak sanggup mengendalikannya" asya menyelesaikan ucapannya dengan cengiran khasnya
Dirgantara langsung memeluknya erat, tak memperdulikan lagi harga dirinya yang begitu tinggi. Perlahan buliran itu jatuh membasahi pipinya
Ia terlalu haru untuk mengucapkan sepatah katapun, otaknya terasa kosong. Yang ia rasakan saat ini hanyalah seperti ada ribuan bunga dan kupu-kupu yang beterbangan diperutnya
Entahlah ia tak bisa lagi menjelaskan perasaan yang begitu menggelitik ini, ia bahagia hingga rasanya tidak akan ada yang cukup untuk membuktikan rasa syukurnya saat ini.
"Kok malah nangis sih mas, Aku salah bicara ya?" Tanya asya dengan panik
Dirga melepaskan pelukannya, ia mengusap air matanya dan menggeleng kuat-kuat
__ADS_1
Ia masih saja tak percaya dengan yang baru saja ia terima, ia tak yakin dengan ucapan asya. Mungkin saja istrinya itu hanya sedang membujuknya kan
"Katakan padaku, kenapa kau bisa jatuh cinta padaku?" Tanya dirga dengan ragu-ragu
Asya hanya berusaha keras menahan tawanya ketika melihat tingkah dirga,
masyaallah, apakah setan posesif ini tengah merasa tidak percaya diri? Lucu sekali
"Mau tau alasannya?" Tanya asya sengaja mengulur-ulur untuk membuat suaminya itu semakin penasaran
"Tentu" ucap dirgantara dengan yakin
Asya menangkup wajah tampan berahang tegas dirgantara, jari-jari mungil itu mengusap-usap pipinya perlahan. Menatap manik gelap itu dengan dengan seksama berusaha menyelaminya dalam-dalam
"Sekelam jelaga yang menghancurkan jiwa, segenap mutiara pengarung samudera. Seluas angkasa yang angkuh mendewa"
Asya menatap dirgantara yang masih saja tak bergeming, ia masih menatap istrinya itu dengan tatapan menelisik. Bagaimanapun juga asya terlalu pandai bermain kata-kata, sehingga sedikit saja ia salah mengartikannya maka ia pulalah yang akan terjebak oleh perasaannya sendiri
"Aku menyukai bagaimana caramu menatapku, memperhatikanku, dan aku selalu suka pada kegelapan manik jelaga ini. Lalu tanpa aku sadari aku telah jatuh kedalam pesonamu
Asya tersenyum ceria, ia beralih mengusap-usap helaian kehitaman dirgantara. Membuat dirgantara tersipu oleh sikap manisnya
"Kau menyukaiku karena mata ini?" Tanyanya lagi meyakinkan
"Iya aku menyukainya, ada banyak hal yang sangat menarik disana" jawab asya dengan yakin
"Rasa cinta, ketulusan, kerinduan, Rasa sakit dan kehampaan. Aku melihat itu semua" ucap asya dengan suara yang semakin merendah
"Aku selalu merindukanmu" ucap dirgantara, ia takut asya salah menafsirkannya. Dirinya sungguh takut karena rasa itu memang benar ada
"Tidak, kau tidak merindukanku" tolaknya dengan tegas
Dirgantara tertegun karena nyatanya asya memang mengetahuinya, namun ia tak ingin asya salah faham
"Kau merindukan orang lain dan bukan aku" asya menatapnya dalam-dalam
"Zara dengar"
"Tidak, mas yang harus mendengarkanku" ucapnya memotong setiap apapun yang akan dikatakan oleh dirgantara
"Rasa rindu itu selalu muncul bersamaan dengan rasa sakit dan juga kehampaan, kenapa mas selalu membohongi diri sendiri seperti itu!" Asya berucap dengan tajam,
lawannya adalah orang tangguh seperti dirgantara. Maka, jika tak ingin kalah janganlah gentar dan lemah
"Berhentilah membohongi dirimu sendiri mas, ada apa dengan kepergian kedua mertuaku sampai mas menutup diri begitu" tanyanya dengan sendu
Dirgantara menatapnya dalam-dalam, zaranya tak salah apalagi salah faham. Ia lega sekaligus bahagia
Asya bukanlah pilihan yang salah, wanita itu adalah anugerah baginya. Istrinya yang selalu memahami dirinya dalam keadaan apapun, seorang wanita yang bahkan tak meninggalkan dirinya yang hina demi meraih sosok yang lebih sempurna.
__ADS_1
"Nanti aku akan memberitahumu, tapi itu bukan sekarang" ucap dirgantara dengan tersenyum
"Kenapa tidak sekarang saja?" Rajuk asya yang sudah bosan diterkam oleh rasa penasaran
"Tidak bisa, Karena aku tak tau harus bagaimana menyampaikannya padamu" Dirgantara segera memeluk asya dengan sayang
"Aku sangat bersyukur karena kehadiranmu ra, aku sangat bahagia dan sangat bangga karena memilikimu disisiku" ucapnya dengan tulus
"Sebenarnya kemarin aku tak ingin berada disisimu, aku ingin lari saja tapi sayangnya tidak bisa" ucap asya sekenanya
"Ayolah zara, kau suka sekali merusak suasana romantis yang susah payah kuciptakan"
Dirgantara tau benar bahwa asya tidak suka suasana mengharukan atau semacamnya yang mampu membutnya canggung, dan hal lainnya lagi adalah sifat provokatif yang dimilikinya tak pernah berubah dan itu sangat merepotkan
"Baiklah, apa mas mau dengar sesuatu yang romantis?" Tanyanya dengan menggoda, dirgantara menanggapinya dengan anggukan semangat
"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada (Sapardi djoko damono)."
Dirgantara tersenyum lembut ketika asya telah menyelesaikan ucapannya, ternyata menjatuhkan diri pada cinta seorang Sulthan bukanlah kesalahan. Mereka perayu yang handal dengan segala kemanisan dalam ucapan-ucapannya yang mampu membuat siapapun yang mendengarnya akan luluh lantak.
Dirgantara mendekatkan dirinya pada asya hingga tiada jarak diantaranya, nafas hangatnya menyentuh kepermukaan kulit, membelai dengan lembut hingga terhanyut
Asya telah memejamkan mata, menunggu dengan suka-rela dirgantara yang hendak menciumnya
"Ekheeemm"
Sontak dirgantara dan asya langsung menjauhkan diri, terkejut dengan kehadiran seseorang yang telah menginteruksi mereka dengan deheman keras
Siapa sebenarnya yang telah membiarkan pintu itu terbuka?
.
.
.
.
.
PRAKATA DARI PENULIS:
Penulis mengucapkan banyak terimakasih atas dukungan pembaca sekalian hingga detik ini
Penulis harap kalian tidak bosan dengan cerita ini dan bersedia meninggalkan sedikit jejak, karena respon anda adalah semangat saya.
Penulis ucapkan banyak terimakasih kepada pembaca sekalian yang masih setia menunggu, Sekaligus ingin memberitahu bahwa penulis MengUp cerita ini diantara hari Senin/Jum'at.
__ADS_1