
Hari telah menunjukkan bahwa kekuasaan sang mentari akan segera berakhir
nuansa cahaya berwarna orange telah menyebar kemana-mana membuat dirgantara semakin gusar
"Juan coba kau lakukan pengecekan di stasiun dan pelabuhan, pastikan apakah asya ada disana ataupun pernah berada disana" suara dirga terdengar tegas
"Baik tuan" sahut juan dari seberang sambungan ponselnya
"Zack, bagaimana? Sudah ada informasi?" Tanya dirga pada zack yang sedari tadi sibuk menghubungi seluruh koneksi dan anak buahnya guna memastikan keberadaan sang nyonya pembuat onar, yang seharian ini menghilang dan membuat dirga uring-uringan tak jelas
Mungkin seharusnya zack tak membiarkan nyonyanya itu pergi kekantor tuannya sendiri, meninggalkan anne dirumah sehingga muncul aksi kabur untuk yang kedua kalinya.
"Tuan menurut bandara yang telah saya hubungi nyonya tidak ada dalam penerbangan hari ini tuan"
"Coba kau hubungi beberapa anak buah kita untuk mengecek seluruh cctv dijalan" perintah dirga lagi
Dirga berjalan keluar dari bandara yang beberapa waktu lalu didatanginya itu guna mencari keberadaan istrinya yang entah mengapa terasa begitu pandai bersembunyi, ia benar-benar takut jika asya telah pergi dari jangkauan matanya sehingga tak bisa lagi ia temukan
"Sya, kau ada dimana?" Dirga menatap sendu jalanan dihadapannya
"Mengapa aku bisa begitu bodoh, membiarkan ****** itu masuk kedalam kantorku tanpa izin" dirga menjambak rambutnya dengan frustasi
"Sialll. Siall sial" dirga memukul kemudinya dengan emosi
"Jika saja yasmin ****** itu tak datang dan mengganggu makan siang kami mungkin asya tidak akan marah apalagi pergi. Jika Sampai hari ini asya tak bisa kutemukan maka akan kupastikan jasadnya tak lagi bisa dikenali" aura membunuh jelas muncul menyelubungi tubuhnya
Dirga menyusuri setiap jalan berharap bisa menemukan asya, ia sudah mencari istrinya itu kerumah mertua dan teman-temannya tetapi tak menemukannya.
"Kamu dimana sya, tolong kembalilah" ungkap dirga dengan perasaan kacau berantakan
***
"Ahahahahahaha.... aku bebaasss" asya tertawa dengan membentangkan tangannya lebar
Kathrina hanya menggelengkan heran melihat sifat sahabat sedari kecilnya ini
"Aku sengaja berpura-pura marah dan membuat alasan untuk menjauhinya, hebat bukan aktingku" asya berkata dengan wajah luar biasa sumringah
"Apa kau tak cemburu melihat ada wanita lain yang memanggil sayang pada suamimu?" Kathrina menggantungkan ucapannya, berusaha melihat ekspresi dari sahabatnya
"Apalagi dia berkata bahwa suamimu adalah tunangannya?" Sambungnya lagi
"Aku memang kesal sih, tapi tak cemburu" jawabnya santai
"Aku tak mengerti hatimu itu terbuat dari apa sya"
"Memangnya kenapa?" Asya mengangkat sebelah alisnya tak mengerti
__ADS_1
"Kau seharusnya marah sya, cemburu karena ada seorang wanita yang memanggil suamimu sayang dan mengaku sebagai tunangannya" kathrina menatap asya penuh arti
"Kenapa harus cemburu, aku tau bahwa pria itu tidak akan berbohong apalagi menyimpan ****** dibelakangku" asya mengedikkan bahu cuek
"Kau itu sangat menyebalkan dengan sifat pembuat onarmu yang bisa membuat orang muak sya, bisa saja dia pergi mencari ketenangan dari wanita lain" ketus kathrina mengungkapkan pendapatnya
"Aku memang kesal, kau tau bukan bahwa aku tak senang jika segala sesuatu yang menjadi milikku disentuh orang lain. Kau juga tau bukan!" Asya bertanya pada sahabatnya itu
"Aku tak mengerti, Dengan sifat mendominasimu itu bagaimana mungkin kau tak cemburu sya" kathrina merasa keheranan
"Aku mempercayainya" ucap asya dengan yakin.
"Jika kau lupa, aku ini memiliki kemampuan untuk memahami kepribadian seseorang rin" pandangannya menerawang jauh
"Aku ingat bahwa kau pernah belajar psikologi, jadi apa yang membuatmu begitu yakin padanya" tanya katrina penasaran
"Aku bahkan berfikir bahwa dia itu gay rin, mungkin saja dia menikahiku hanya untuk menutupi fakta itu" ucapnya dengan wajah yang tampak berfikir
"Kurasa dia tidak sedang memanfaatkanmu seperti itu sya" ucap kathrina mengemukakan pendapatnya
"Dia itu terlalu dingin dan kaku rin, aku bahkan tak bisa menyentuh hatinya barang sedikit"
"Kau saja yang tak bersungguh-sungguh" ucap kathrina dengan galak
"Haisshh. Kau ini tak percaya, dia itu aslinya mengerikan" jelas asya tak terima
"Cobalah untuk menerima kehadirannya sya, bagaimanapun dia tetaplah suamimu. Bukankah engkau yang selama ini selalu menasehatiku bahwa surga seorang istri berada pada suaminya" kathrina berusaha menasehati sahabat yang biasanya menasehatinya itu
"Tapi tak semudah itu Rin" asya berkata dengan tertunduk
"Aku tau kau tak pernah punya kisah cinta yang indah sebelumnya, dulu kau pernah menyukai Zeus dan kau berfikir dia juga memiliki perasaan yang sama denganmu. Tetapi ternyata dia menyukai Alicia teman sekelasmu" kathrina menghentikan ucapannya, dilihatnya tatapan sedih asya yang menyayat hatinya
"Aku tau Kau kecewa, kau bahkan belum sempat mengungkapkan perasaanmu. Setelah itu kau tak pernah lagi menaruh hati pada lelaki manapun dan selalu menutup rapat hatimu" lanjut kathrina lagi
"Aku takut untuk membiarkan hatiku dimiliki seseorang, zeus bahkan memilih kuliah diluar negeri mengikuti alicia yang ingin kuliah denganku. Mereka terus saja berada disekelilingku dan semakin membuatku tersakiti"
Tatapan asya semakin sendu
"Belajarlah membuka hatimu sya, kau sudah terlalu lama menutupnya bahkan kau selalu menolak perasaan orang lain padamu dengan Kasar. Sudah terlalu jauh kau menyakiti dirimu sendiri" kathrina memeluk asya dengan erat berusaha menguatkan hati sahabatnya
"Aku pernah patah hati, dan tak ingin mengulangi rasa sakit yang sama lagi" ucap asya dengan suara parau menguapkan rasa tersiksa yang dalam
"Asyaku yang baik, kau selalu menjaga dirimu, menghindari mencintai orang yang salah dan malah terluka oleh perasaan yang semu. Tapi percayalah bahwa hidupmu bisa lebih baik dari ini" kathrina mengusap punggung asya dengan lembut
"Karena kau selalu menjaga dirimu dengan baik, Allah juga pasti menyiapkan sesuatu yang istimewa untukmu. Orang sepertimu selalu berada dalam perlindungan Cinta Allah, aku yakin akan hal itu" kathrina melepas pelukannya lalu memandang asya dan tersenyum
"Terimakasih kau sudah ada untukku kathrina, kaulah yang paling memahamiku" asya memeluk kathrina
"Kau tau sya, abimanyu selalu cemburu jika kau memelukku" ucap kathrina tiba-tiba
__ADS_1
"Mas abim itu kan dulu berfikir kau kekasihku" lalu asya dan kathrina tertawa secara bersamaan
mereka sudah bersahabat sedari kecil dan saling memahami kepribadian masing-masing
"Karena kau terus saja menjomblo makanya abimanyu berkata begitu, tapi setelah kami menikah aku memberitahukan kebenarannya dan diapun mengerti bahwa kau itu cuma Kuper, alias kurang perhatian hahaha...." kathrina kembali tertawa
"Enak saja, aku selalu mendapat banyak perhatian ya" balas asya merasa tak terima disebut kuper,
Seketika ekspresinya langsung berubah sendu
"aku jadi merindukan mas adam, bagaimana kabarnya disana ya?" mengungkapkan perasaannya yang terpendam
"Kenapa kau tak mencoba menghungunya saja" sahut kathrina
"Tidak rin, aku harus bilang apa padanya. Kau kan juga tau aku tak bisa berbohong padanya"
"Kau benar, dia pasti menanyakan apa saja yang kau lakukan tanpanya dan jika dia tau yang terjadi mungkin dia akan marah besar" kathrina menjawab dengan suara lemah
Kathrina tau betul keadaan mereka, bagaimana asya yang menempel pada adam dan bagaimana adam tak bisa jauh dari asya. Mereka telah lama saling mengenal, jadi kathrina tau betul jika sampai asya jauh dari adam atau terluka maka hal itu akan menimbulkan keterpurukan yang parah baginya.
Adam memang tampak ketergantungan pada asya terlepas dari sosoknya yang bijaksana dan dewasa
Ini adalah fakta yang jarang diketahui, biasanya orang akan berfikir bahwa asya lah yang memang manja kepada kakaknya tanpa mereka ketahui bahwa sebenarnya adamlah yang ketergantungan dan tak bisa jauh.
Asya bagaikan obat penenang dari sifat rapuh dan mudah setres yang adam tutupi selama ini
"Dengarkan aku sya, berusahalah menerima keberadaan suamimu. Jika kau tulus aku yakin mas adam akan menerimanya juga" kathrina kembali memberikan saran
"Sulit rin" jawab asya dengan singkat
"Ingatlah! Bahwa mas adam itu ibarat cerminan hatimu, jadi ketika kau tak percaya pada suamimu dia juga tidak akan percaya, bahkan membencinya" tegas kathrina
Asya hanya memandang kathrina dengan sorot mata lemah, menyeruakkan kepiluan
"Mungkin pernikahan ini tak kau inginkan dan suamimu bukanlah sesuatu yang kau harapkan, tapi percayalah sya ini semua sudah diatur sang Gusti untukmu. inilah takdimu yang harus kau jalani" ucap kathrina menasehati
"Kau sudah tampak seperti ibuku sekarang ini" asya terkekeh mendengarkan nasehat dari kathrina
"Dasar kau ini. aku sedang serius tau" kathrina ikut terkekeh.
"Ya karena kau itu suka tantangan makanya Allah juga memberikan sesuatu kepadamu secara Ekstreem" kathrina tergelak ketika melihat asya yang mengerucutkan bibirnya kesal setelah mendengarkan ucapannya
"Berusahalah menerima dan mempercayainya sya, this is your life and your way" kathrina mengedipkan sebelah matanya untuk memancing senyuman asya, dan benar saja. Sahabatnya itu tersenyum menatapnya
Sapaan lembut udara dan daun pepohonan yang melambai-lambai menjadi saksi betapa berharganya persahabatan mereka yang tulus menembus setiap waktunya
"jadi kau mengganggu waktuku yang berharga, dan menyuruhku secepatnya ketempat ini hanya untuk menjadi pelarianmu yang sembunyi dari suamimu sendiri. begitu" kata kathrina iseng
sedangkan asya yang merasa bersalah hanya senyam-senyum tak jelas
__ADS_1