Setan Posesif

Setan Posesif
Amazing Maheswara


__ADS_3

"Mas adam jangan" teriak asya berusaha menjauhkan adam dari suaminya itu


"Adam hentikan" bentak ahmad berusaha melepaskan dirga dari cengkraman kuat adam yang siap kembali melayangkan pukulan


***


Sity dan istri adam yang mendengar suara teriakan asya segera menghampiri mereka dan berusaha melerai adam


Dengan susah payah akhirnya mereka berhasil memisahkan Adam dari dirga, ahmad serta sity juga fauzia istri adam bahkan kesulitan menghentikan perlawanan adam yang diliputi amarah


"Akan kubunuh kau" teriak adam dengan keras


"Adam hentikan itu" ahmad masih berusaha menghentikan perlawanan adam


"Beraninya kau mencuri adikku selama aku tak ada" adam masih terus meluapkan emosinya


"Tanpanya zara mungkin sudah tiada adam" bentak ahmad yang mulai gusar dengan tingkah adam


"Pokoknya aku tidak terima kau mencuri adikku" histeris adam membuat kegaduhan di ruang keluarga itu


"Zara segera bawa suamimu kekamar, biar abi bicara dulu dengan masmu" ucap ahmad dengan tegas


Asya yang mendengar perintah dari ayahnya segera bergegas membawa sang suami kekamarnya guna menghindari adam yang masih meronta-ronta dan siap kembali menerjang


Setelah sampai dikamar asya langsung menguncinya, ia berbalik dan menatap dirga. Hembusan nafas kasar langsung terlontar begitu saja ketika menatap wajah suaminya itu


Dengan gerakan cepat asya menuntun dirga untuk duduk ditepi ranjang, setelahnya ia mendekat dengan membawa kotak obat


"Hhhh, lukanya jadi tambah parah kan!" Asya lagi-lagi menghela nafas


Dibersihkannya luka diujung bibir dirga yang tampak berdarah, belum lagi memar didagunya yang tampak lebih parah


"Maaf atas tindakan impulsif mas adam" ucap asya dengan menunduk, menunjukkan rasa bersalahnya


"Sudahlah ra" ucap dirga dengan santai


"Tapi dia melukaimu" sahut asya lagi


"Dia benar, aku memang bersalah karena sudah mencurimu darinya" ucap dirga dengan kekehan ringan yang membuktikan bahwa ia baik-baik saja


"Yang dikatakan abi benar"


"Ha?" Tanya dirga kebingungan dengan ucapan asya yang terdengar misterius


"Jika tidak karena dirimu mungkin aku sudah tiada" ungkap asya dengan mata berkaca-kaca


"Omong kosong darimana itu, bahkan akulah yang mengancam dan menodongkan pistol padamu" sangkal dirga yang merasa ucapan istrinya itu salah


"Itu benar, jika aku tidak bertemu denganmu maka aku sudah pasti akan jadi mayat karena mike membunuhku dan melenyapkanku bersama dengan korbannya dihari itu"


sahut asya mengingatkan kembali tentang bagaimana ia bertemu mike yang akhirnya membawanya pada pertemuan tidak disengajanya dengan dirgantara


"Lupakan hal itu, karena akupun tidak lebih baik darinya" sahut dirga dengan diiringi rengkuhannya pada asya


"Setidaknya kau sudah menjamin kehidupanku" ucap asya disertai gerakan membalas pelukan dirga padanya.


Dirga hanya terdiam dan mengecup singkat puncak kepala istrinya itu


"Maaf"


"Untuk apa?" Tanya dirga


"Karena ini do'aku"


"Maksudmu" tanya dirga lagi sambil melepaskan pelukannya dan menatap asya


"Aku yang berdo'a semoga mas adam segera pulang dan menghajarmu"

__ADS_1


"Hahaha, dan itu terkabul. Bukankah seharusnya kau bahagia ra" dirga tergelak ketika mendengar penuturan istrinya yang terdengar lucu baginya


"Aku menyesal" sesal asya menatap suaminya itu dengan ekspresi siap meledakkan tangisannya


"Aduuh lucunya istriku" dirga memeluk asya dengan gemas


"Aku serius" asya memberengut kesal melihat respon dirga yang memeluknya hingga membuat sesak


"Iya sayangku" ucap dirga dengan mencium singkat kening asya


Asya memukul-mukul dada suaminya itu dengan cukup keras, sedangkan empunya hanya tersenyum-senyum tak jelas seakan tindakan asya hanyalah angin lalu dan tidak berefek apapun padanya


Tindakan mereka terhenti karena adanya ketukan dipintu yang menginterupsi


"Zara" panggil sity dari luar sana


"Iya ma?" Sahut asya dengan segera beranjak dan membuka pintu.


Asya segera mempersilahkan ibunya tersebut untuk masuk, tatapan sity langsung meredup ketika netranya menangkap dirga yang sedang mengobati luka disudut bibirnya yang terluka. Ada rasa bersalah yang menyusup hatinya


"Maafkan kami nak, kami tidak tau akan terjadi hal seperti ini" ucap sity dengan pandangan sendunya menatap sang menantu


"Tidak apa-apa ma, ini hanya luka kecil yang akan segera sembuh" sahut dirga dengan senyumnya


"Adam baru tiba pagi tadi, dan dia langsung mencari zara. Kami memberitahunya tentang apa yang terjadi, awalnya dia hanya terdiam sehingga kami tidak menyangka jika dia akan melakukan ini" sambung sity dengan rasa bersalahnya


"Itu hal wajar ma, aku baru saja mencuri adik kesayangannya" ucap dirga dengan suara tenangnya yang disertai senyum tipis bercanda


"Segeralah turun dan kita bicarakan hal ini baik-baik" ucap sity dan kemudian pergi tanpa memasuki kamar putrinya itu sama sekali


***


Suasananya terasa tegang dan mencekam, seakan aura yang menguar tajam mampu menusuk hingga membunuh siapapun yang ada disana.


Tidak ada yang memulai bicara, semuanya hanya terdiam menunggu sang kepala rumah tangga membuka suara. Posisinya saat ini adam duduk diapit Sity dan fauzia istrinya, sedangkan diseberangnya asya dan dirga yang duduk tenang dengan kepala menunduk. Ahmad duduk dikursi tunggal lain yang membuat suasananya terkesan seperti sedang sidang


Ahmad berdehem sebentar sebelum akhirnya membuka suara


"Aku sedang menekan amarahku, dan ketika aku melihatnya aku langsung ingin membunuhnya" sahut adam menatap tajam dirga


"Apa kau senang jika adikmu menjadi janda" tukas ahmad tajam


Sedangkan yang diajak bicara hanya terbungkam tidak menjawab


"Coba fikirkan itu adam. Apa kau senang melihat adikmu terluka karena tindakanmu pada suaminya" ultimatum ahmad lagi hingga mampu menusuk adam


"Tapi dia mencuri adikku" tuding adam dengan sengit menatap adik iparnya yang hanya diam


"Dengar adam, aku sudah menjelaskannya padamu. Tanpa adanya Dirgantara mungkin Zara kita sudah tewas dibunuh" tegas ahmad dengan ucapan menusuknya secara gamblang supaya putra tertuanya itu bisa membuka fikirannya


"Dasar kau pencuri, akan kubunuh kau" ucap adam dengan tajam kepada dirga,


hal itu mampu membuat semua orang yang berada disana menghela nafas lelah. Bagaimana mungkin ini semua menjadi rumit, apalagi adam sudah berada dimode keras kepala yang sulit diluluhkan


"Mas adam, ini memang akibat dari kesalahanku karena menentang perintah abi untuk dikawal kekantor. Tapi sekarang dia adalah suamiku, jadi tolonglah mengerti mas adam" rengek asya menatap adam yang ada dihadapannya


"Kenapa juga kau tidak segera memberitahuku tentang masalah ini ra? Aku sangat emosi karena merasa kau hianati" Tuntut adam merasa tidak terima


"Bukankah jika aku memberitahu maka mas adam akan langsung pulang, lalu menghampiri suamiku dan membunuhnya saat itu juga. Aku tidak ingin membuat kekacauan mas" ungkap asya memberikan pembelaan diri


"Haaiihh semua karena sipencuri ini" sahut adam dengan bangkit yang langsung ditahan sity dan fauzia


"Hei kau! kenapa kau melakukan hal bodoh itu sehingga adikku terjebak denganmu" teriak adam pada dirga


"Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar saat itu" sahut dirga dengan tenang dan hal itu mampu memicu amarah adam dengan cepat


"Dasar kau...!"

__ADS_1


"Mas adam, tolonglah mengerti! Tanpa pertolongannya aku pasti sudah tertangkap pembunuh itu dan akhirnya mati mas! Mati! Menjadi mayat" keluh asya frustasi menghentikan ucapan adam sebelumnya


"Kenapa kau membelanya dek" tuding adam tidak terima


"Astagfirulloh, kurasa jika anak kita sudah lahirpun maka ia akan berdiri dihadapan bibinya untuk membela dan menentang pemikiran egoismu itu mas. Tentu saja zara membela suaminya masa membelamu yang konyol" fauzia akhirnya angkat bicara karena telinganya sudah gatal mendengar ucapan suaminya yang keras kepala dan terus-terusan menyudutkan adik iparnya


Adam terdiam dan melihat istrinya yang sedang mengelus-elus perutnya yang membuncit


"Seharusnya kita bahagia mas, zara kecil kesayangan kita sudah dewasa dan menemukan jodohnya. Harusnya yang kita lakukan adalah mendo'akan dan menyemangati penyempurnaan agamanya dalam ibadah yang panjang ini" ucap fauzia lagi


"Aku hanya merasa tidak terima dengan caranya menikahi Zara kita" ucap adam dengan sendu


"Jadi apa maumu mas? Menceraikan mereka begitu!" Tanya fauzia lagi


"Apa kau tidak memikirkan perasaan zara yang melihatmu memusuhi suaminya! aku juga juga marah mendengar berita ini, tapi aku tidak mau membuat adikku sedih karena amarahku. Aku tidak mau membuatnya semakin tersakiti dengan menambah masalah yang ia hadapi" jelas fauzia panjang lebar menusuk tajam hingga kerelung hati


"Apa kau tega melihat adikmu yang terlunta-lunta dan sengsara karena keegoisanmu untuk memisahkan mereka? Fikirkan ini semua dengan matang adam, bagaimana jika saat itu dirgantara tidak bertanggung jawab pada zara dan memilih kabur? Fikirkan bagaimana beratnya masalah yang akan dihadapinya, kau tentu tidak lupa bahwa adikmu itu orang berpengaruh dikota ini bukan. Fikirkan bagaimana hancurnya kehormatan keluarga kita jika hal itu terjadi" jelas ahmad panjang lebar pada adam yang tertunduk dan berfikir


"Tolong maafkan kami mas adam" bujuk asya pada adam, matanya sudah berkaca-kaca. Lalu dengan pelan dirga mengusap-usap lengan istrinya itu


"Jangan sentuh adikku" sentak adam melihat tindakan dirga


Semua orang disana sontak kaget lalu menggelengkan kepala dan mendengus kasar melihat sifat egois dan posesif adam. yang benar saja seorang suami dilarang menyentuh istrinya sendiri


"Baiklah, aku akan mengampunimu bocah maheswara" ucap adam dengan angkuh


"Dengan syarat?" Tanya dirga, adam yang melihat kepekaannya langsung tersenyum dingin


"Adakan resepsi pernikahan kalian besok" titahnya dengan yakin


"Adam! Apa kau gila, mana bisa mempersiapkan pesta pernikahan secepat itu" seru ahmad terkaget


"Aku akan mengakuimu sebagai adik iparku jika kau mampu melakukannya" ucap adam lagi pada dirga tanpa memperdulikan ucapan ahmad


"Baiklah, sebenarnya aku sudah mempersiapkan resepsi pesta pernikahan tetapi kami harus menundanya untuk kehadiran mas adam dan nathan" sahut dirga dengan tenang namun serius


"Mas!" Tegur asya pada dirga dengan berbisik, asya bahkan tau bahwa selama ini suaminya itu sangat sibuk bahkan seringkali keluar kota bahkan keluar negeri hingga jarang berada dirumah. Jadi bagaimana mungkin ia sempat mempersiapkan hal serumit itu.


"Tenanglah ra, aku sudah mempersiapkan segalanya sejak sebulan setelah pernikahan kita sesuai dengan janjiku dulu. Tetapi abi menyuruhku menundanya guna menunggu seluruh keluarga berkumpul" sahutnya menenangkan asya, hingga mampu membuat istrinya itu ternganga tidak percaya


"Lakukan resepsinya dirumah ini" ujar adam memberi ultimatum


"Aku sudah mempersiapkannya digedung pernikahan" sahut dirga


"Aku ingin resepsinya ada disini, ini adalah moment penting karena kami akan mantu putri satu-satunya dikeluarga ini. Jadi lakukan atau kubunuh saja kau" tentang adam pada dirga


"Baiklah kalau begitu, aku akan menghubungi pihak resepsinya untuk segera mempersiapkannya disini" ujar dirga dengan tenang dan santai, ia bahkan sudah mulai menghubungi orang yang dimaksudnya


Semua orang disana kecuali adam dan dan dirga yang masih bersitegang, menatap dirga dengan terkejut


Wow! Apakah ini seorang dirgantara itu, ia bahkan membicarakan masalah serius dengan sikap santai dan tenang seakan semua ini bukan apa-apa baginya. Maheswara memang hebat


.


.


.


.


.


.


PRAKATA DARI AUTHOR ;


Maaf ya readers karena author terkesan lambat up, sehingga membuat kalian menunggu. sebenarnya author ga kemana-mana kok, kemarin-kemarin author cuma sibuk merefisi dari awal sampai akhir. kalau tidak percaya boleh dicek deh

__ADS_1


Oh ya! jangan lupa mampir dikarya baru author yang berjudul AMNESIA


Akhir kata author ucapkan terimakasih kepada pembaca setia dan mohon tinggalkan jejak like, komen, rate dan vote seikhlasnya, Karena respon anda adalah SEMANGAT saya😊


__ADS_2