Setan Posesif

Setan Posesif
Hujan


__ADS_3

Fajar telah menyapa dengan semburat cahaya kerinduannya, menebarkan sulur hangat yang menyentuh kalbu, bersama bisik-bisik rayuan yang lembut membawa sisa-sisa dinginnya semalam


Menatap keindahan itu sendirian, menilik ruang hampa didalam sana yang begitu suram. Mengapa keindahan semesta tak mampu mewarnai ruang kelam itu


Menjebaknya lagi dalam kesunyian yang menyesakkan dada, lagi-lagi asap hitam itu membuatnya tersesat dalam gelap yang membumbung tinggi tak terkendali


"Kakak ipar" panggil mike, tatapannya lurus kedepan menghadap jendela kaca besar diseberang sana


"Hm" gumam lawan bicaranya


"Mengapa semuanya pergi?" Tanyanya tanpa melihat lawan bicaranya


"Mengapa mereka meninggalkanku sendirian?" Suaranya merendah dengan tekanan yang semakin kuat


"Semesta begitu jahat padaku, aku sendirian dan begitu ketakutan" netra berwarna hijau itu meredup hampir tenggelam oleh genangan


"Aku merasa kosong, hancur dan berantakan"


Lawan bicaranya hanya terdiam disana, memperhatikan dan menilai tanpa mengeluarkan sepatah katapun


"Apa tidak bisa aku bahagia sejenak saja, aku lelah namun tak bisa menyerah. Mengapa semesta begitu kejam padaku, ia sudah menyiksaku sampai serusak ini tetapi masih tak mau menunjukkan cahaya padaku meski setitik saja" genangan itu jatuh perlahan membasahi ketika kehijauan itu tertutup dengan isakan tertahan yang terdengar rendah menyapa pendengaran


"Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni, dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu"


Dipeluknya sosok rapuh itu dalam dekapannya, diusapnya dengan lembut helaian kecoklatan gelap itu dengan sayang.


Tidak ada yang tau bagaimana hari-hari dilalui oleh adik iparnya itu, bagaimana disetiap waktu yang berlalu ada kesedihan dan kesepian yang selalu menerjangnya tanpa ampun


Bagaimana setiap kerinduan telah menyayat-nyayat jiwanya hingga terkoyak, meninggalkan luka menganga yang terus terinfeksi hingga membuatnya semakin parah dengan iringan kepingan kenangan


"Biarkanlah masa itu berlalu, kau tak perlu menghancurkan dirimu lagi lebih dari ini. Menangislah sepuasmu adikku, lalu setelahnya biarkan rasa sakit itu terbawa arus begitu saja, karena untuk menyambut cahaya itu kau perlu mengikhlaskan segalanya dimasa lalu. Seperti hujan bulan juni yang menyembunyikan kerinduannya kepada pohon berbunga itu" asya berbisik menenangkan mike yang masih dalam dekapannya


Tubuhnya bergetar disertai isakan tertahan yang begitu menyakitkan menyayat kalbu, suaranya terdengar jelas kala kepedihan itu dilepaskannya


Pilar-pilar penyangga yang begitu kokoh telah roboh, menyisakan sosok rapuh yang terdampar dalam kenangan dimasa lalu yang menjatuhkannya seketika hancur berkeping-keping.


"Kau tau, rintik hujan itu telah jatuh sampai kedalam tanah, namun dari sanalah pohon itu mampu berbunga. Menyampaikan rasa rindunya yang begitu megah kepada semesta" ucapnya lembut menyentuh hati


"Begitulah kau harus bangkit, tak perduli betapa kejamnya kecaman padamu wahai hujan. Tetapi nanti ketika ketulusanmu telah mampu menyentuh langit, Maka bahagia akan merengkuhmu dengan erat. Memberikan warna layaknya bunga sebagai bukti rindu hujan padanya"


"Kakak" panggilnya terhenti oleh serak yang mencekal dari tenggorokannya, menekan kuat hingga tiada yang bisa lolos dari sana. rengkuhan mike semakin mengerat seiring tangisnya yang semakin meluap


"Kau tak sendirian adikku, kami ada disini untukmu. Memeluk dan mendo'akan kebahagianmu" tanpa terasa air mata itu ikut jatuh ketika ia mampu merasakan kesedihan hatinya


"Semesta bersamamu tanpa kau sadari, kau hanya lupa bahwa kami disini" diusapnya punggung itu yang bergetar hebat


Perlahan tangan itu meraup mereka dalam dekapan hangat, bersama berbagi kesedihan yang begitu menenggelamkan jiwa. Lagi-lagi air mata itu ikut jatuh ketika kenangan dan kepedihan datang bersamaan


"Kami disini mike, tak pernah meninggalkanmu" suara berat itu menenangkan ketika menyapa telinga yang langsung sampai kedalam hati


"Kita berada disini untuk berbagi kebahagiaan dan kesedihan, jangan kau bebani lagi dirimu dengan sepi yang merajam hati" ucapnya dengan lembut menenangkan

__ADS_1


"Aku takut sendirian" ucapnya dengan terisak


"Kami bersamamu" sahut asya


"Disini terasa hampa, seperti ada yang kosong" ucap mike dengan menyentuh sisi kiri dadanya


"Haiih, sepertinya kita harus segera menikahkannya" asya bergerak pelan melepaskan rengkuhannya


"Kakak ipar!" tegur mike


"Supaya tidak ada lagi yang kosong disana" tunjuk asya pada dada kiri yang sebelumnya disentuh mike


"Apa hubungannya, kakak ipar ini ada-ada saja" tanpa disadari ia terkekeh perlahan, menghentikan air matanya yang terus bergulir menjatuhi pipi


"Oh tentu saja ada, iyakan mas!" tanya asya mencoba mencari pembelaan dari suaminya


"Yang hampa disana itu karena tidak ada cinta, kau butuh cinta untuk memenuhi ruang kosong itu" Sahut dirga memberi pembenaran


"Haha, rasanya aku tidak pantas merasakan cinta" mike tertawa kaku dengan ucapan kedua orang yang memeluknya itu


"Kau itu manusia mike jadi sudah menjadi fitrah untuk merasakan cinta" Asya mengatakannya dengan tegas


"Hal konyol apalagi itu, yang benar saja semesta akan membiarkanku melihat wujudnya" mike menggeleng-gelengkan kepalanya merasa mustahil dengan yang diucapkan kedua kakaknya itu


"Lagipula kau sudah saatnya menikah mike, aku tidak suka melihatmu yang hanya menggoda para gadis. Kau membuatku geram" tersirat ketajaman dari ucapan yang menusuk dari dirgantara


"Aku sudah tidak melakukannya asal kau tau" sangkal mike


"Iya, iya. Kemarin itu memang aku yang salah" aku mike


"Dasar bocah nakal" tuding dirga dengan ketus


"Tapi aku sudah lama tidak melakukannya" Sanggah mike membenarkan dirinya


"Omong kosong" tatap sinis ditujukannya pada mike


"Aku terlalu sibuk mengekori kakak ipar, jadi mana sempat menggoda anak orang" mike menunjukkan pembelaan dirinya


"Benar tidak ra?" Tanya dirga pada istrinya


"Ini sih sepertinya benar" ucap asya dengan berfikir


"Dia menggoda anne tidak?" Tanyanya lagi


"Akhir-akhir ini dia tidak lagi menggodanya, karena tau bahwa anne tengah menjalin hubungan dengan seseorang dari kantor perpajakan" sahut asya dengan yakin


"Ah benar juga ya. Jadi adikku ini sedang patah hati rupanya" sindir dirga


"Hentikan omong kosong ini" tegas mike yang merasa terpojok


"Sepertinya kita harus segera menikahkannya" ucap asya dengan mantab

__ADS_1


"Tapi gadis mana yang mau dengan play boy macam dia" goda dirga dengan sengaja


"Benar juga, pasti gadis-gadis akan enggan menjalin hubungan serius dengannya" timpal asya


"Kakak macam apa kalian ini, hobinya hanya menindas adik sendiri" mike yang merasa disudutkan semakin tak berdaya


Asya dan dirga tertawa lepas hingga melupakan kesedihan yang sebelumnya merengkuh erat mereka, tanpa disadari mike telah larut dalam suasana perbincangan sederhana yang menghanyutkan segalanya


"Baiklah, baiklah. Sudah waktunya untukmu minum obat" asya menyudahi tawanya ketika menyadari waktu, dan segera mengangsurkan beberapa butir obat yang diresepkan oleh dokter sam kemarin pada mike


"Minum obatnya adik kecilku" ucap dirga menggoda mike ketika melihatnya mulai mengambil alih obat yang diserahkan istrinya


"Kalian ini kakak yang sungguh menjengkelkan" geram mike yang kesal sebab terus-terusan digoda oleh kedua orang itu


"Uluh, uluh. Nanti baru kami tinggal sebentar juga sudah rindu" asya malah semakin gencar mengganggu mike


"Ra, sepertinya aku harus segera berangkat bekerja" ucap dirga ketika melihat arloji yang melingkari pergelangan tangannya


Asya mengangguk menanggapinya


"Kita menginap disini saja sampai dia sembuh, dan lagi kemungkinan abi akan datang menjenguk mike" ungkap asya pada mereka


"Aku akan langsung pulang kemari, nanti biar luna dan anne yang mengantarkan pakaianmu. Jangan pergi kemanapun mengerti!" Titah dirga dengan tegas


"Baiklah" sahut asya


Setelahnya dirga segera beranjak dan mencium kening asya sebelum akhirnya bergegas berangkat bekerja


"Betapa menyedihkannya aku yang setiap hari harus melihat adegan romantis kalian ini" ucap mike dramatis


"Makanya segera menikah sana!" Sahut asya dan dirga bersamaan


.


.


.


.


.


.


.


.


PRAKATA DARI PENULIS;


penulis mengucapkan banyak terimakasih atas dukungan pembaca sekalian hingga detik ini

__ADS_1


penulis harap kalian tidak bosan dengan cerita ini dan bersedia meninggalkan sedikit jejak, karena respon anda adalah semangat saya.


__ADS_2