
"Haish, kalian sedang merayuku rupanya" asya terkekeh dengan raut wajah tidak percaya yang kentara
"Aku tidak sedang merayu" sanggah mike disertai gerakan tangan menyilang didepan dada dan menggeleng-gelengkan kepala
"Aku berkata jujur, kami merasa bahagia karena memilikimu" sahut dirga dengan nada datar khas miliknya
"Berhentilah merayu, aku tidak percaya" kekeuh asya
"Bagaimana cara membuktikannya" geram mike merasa frustasi
"Ahiya, akan kuberikan seluruh boneka yang ada dikamarku untuk kakak ipar, sebagai bukti rasa sayangku" lanjut mike dengan wajah bersungguh-sungguh
"Idiiihh ogah, semua boneka itu bau ilermu" ledek asya secara terang-terangan
"Tapi itu adalah benda-benda berharga dalam hidupku kakak ipar" rajuk mike mendengar ledekan asya padanya
Mike membutuhkan waktu yang lama untuk meyakinkan asya bahwa dirinya tidak berbahaya sehingga asya tidak lari ketika melihatnya. Berbagai cara telah dilakukan mike agar asya mau mengakuinya sebagai keluarga dan ia tidak akan membiarkan asya jauh apalagi membencinya seperti semula
"Mike?" Panggilan asya berhasil membuyarkan lamunan mike
"Iya kakak ipar?" Tanya mike
"Kau tidak terobsesi padaku bukan" asya menatap mike dengan serius berusaha menemukan hal meyakinkan dari pertanyaan yang terdengar seperti pernyataan darinya
Mike hanya nyengir tidak jelas menampilkan giginya yang rapi
"Jawab mike" tuntut asya
"Sejujurnya aku memang terobsesi padamu kakak ipar, aku terobsesi untuk diakui sebagai keluarga olehmu" jawab mike dengan suara rendah dan kepala yang tertunduk
"Hahhhh, sudah kuduga" desah asya seakan meluapkan rasa lelahnya
"Apa yang kau duga?" Tanya dirga merasa penasaran
__ADS_1
"Kalian memang terobsesi padaku, entah apa yang membuat kalian begitu padaku"
"Karena aku mencintaimu" ucap dirga yang terdengar tidak nyambung
"Obsesi kalian itu sampai membuatku merasa sesak nafas" ucap asya dengan kesal
"Rasa sayang kami sangat besar, sehingga kami tidak ingin kakak ipar dalam bahaya sedikitpun" sambung mike membela diri
"Ngomong-ngomong soal bahaya, jadi teringat akan satu hal" ucap asya serius
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya dirga mulai penasaran, sedangkan mike dia sudah siap menyimak dengan tegang
"Beberapa waktu yang lalu ketika mas tidak dirumah dan mike juga tidang datang berkunjung....." asya menggantungkan ucapannya guna melihat reaksi kedua orang dihadapannya yang ternyata lumayan tegang
"Aku menyadari jika ada orang yang mengawasi kediaman ini, dia berusaha menyusupkan orang beberapakali dan dia terus mengikutiku" asya menghembuskan nafasnya kasar
Asya mendapati reaksi dua orang dihadapannya yang luar biasa terkejut, awalnya ia berfikir bahwa kedua orang dihadapannya ini tidak akan terkejut. Tetapi rasanya ia salah karena dirga bahkan mengeratkan rengkuhannya, tubuhnya menegang dan degub jantungnya terdengar keras berdentum seakan hendak keluar dari rongga dadanya. Asya jelas dapat merasakan adanya perubahan ekspresi dan reaksi dari dirgantara karena posisinya saat ini masih berada dalam pangkuan suaminya itu
Sedangkan mike, aura gelap langsung menyelimuti tubuhnya sedangkan tangannya terkepal kuat hingga urat-uratnya tampak menonjol dan giginya bergemalatuk. Ada rona terkejut, takut dan marah dari ekspresi mike yang sungguh tidak terbayangkan sedikitpun oleh asya
Diraihnya tangan asya hingga berada dalam genggamannya dan diciumnya lembut
"Kau terlalu cerdas dan peka untuk berlama-lama tidak tau apa-apa" ucap dirga yang terdengar ambigu
Lagi-lagi ucapan ambigu dirgantara tetap mampu dipahami oleh asya.
Ya! Dirgantara selama ini berusaha menutupi dan menyembunyikan keberadaan musuh-musuhnya, ia ingin asya melihat kehidupannya yang baik-baik saja tetapi nyatanya istrinya itu tetap tau bahwa hidupnya diliputi bahaya.
Ia tidak ingin asya dalam bahaya tetapi ia juga terlalu egois untuk membiarkan asya meninggalkannya, asya adalah tulang rusuknya dan dia adalah separuh nyawanya. Jadi bagaimana mungkin ia bisa hidup tanpa kesayangannya, zaranya. Jika baru jauh sebentar saja ia sudah merasa seperti sekarat
"Kurasa dia cukup berbahaya" ungkap asya lagi
"Mulai sekarang aku tidak akan jauh darimu" ucap dirga
"Jangan berlebihan" asya terkekeh mendengar ucapan dirga
__ADS_1
"Kakak ipar, ini bukan hal yang berlebihan tetapi hal yang diharuskan. Kami tidak ingin dirimu terluka" ucap mike dengan ekspresi serius
"Siapa sebenarnya orang itu sampai membuat kalian tampak waspada seperti ini?" Tanya asya yang penasaran
"Aku belum tau pasti, yang jelas dia amat berbahaya" jawab dirga masih dengan ekspresi tegangnya
"Kalian sungguh tidak tau?"
Rasanya asya tidak percaya ketika dirga berkata tidak mengetahui identitas lawannya, bukankah koneksi dirga sangat luas! Lantas mengapa ia tidak mengetahui identitas orang tersebut. Apakah orang itu begitu kuat dan hebat sehingga membuat seorang dirgantara cemas dan waspada
"Kami belum tau kakak ipar, sejauh ini dia selalu bekerja dibalik layar. Bahkan bayangannya sekalipun tidak dapat kami ketahui" jelas mike dengan wajah muram yang membuatnya tampak menakutkan
"Kurasa dia juga sama seperti kalian" kata asya menyimpulkan
"Sama? Maksudmu sayang?" Tanya dirga yang bingung, entah mengapa otak cerdasnya kali ini tidak mampu menerka kemana arah pembicaraan yang dimaksud istrinya itu.
"Mungkin dia juga terobsesi pada hal yang sama dengan kalian"
"Maksudmu dia juga terobsesi padamu" ucap dirga dan mike secara bersamaan dengan kemarahan yang meluap-luap seakan siap meledak
"Bukan, bukan begitu maksudku" sangkal asya cepat, rupanya emosi kedua pria dihadapannya sangat mudah terpancing jika menyangkut masalah tentang dirinya. Pantas saja ia jadi diincar musuh karena sudah jelas bahwa untuk menghancurkan seorang sekuat dirgantara dan michael maka diperlukan tindakan menghancurkan hal yang menggoyahkan ketegaran keduanya, dan disinilah posisi asya sebagai sumber dari bentuk emosi kedua pria hebat yaitu dirgantara dan michael
"Jadi begini loh, obsesi adalah keinginan (hasrat/nafsu) akan sesuatu disertai usaha keras bahkan terkesan memaksa untuk mencapai keinginannya itu. Sebuah keinginan yang disertai tindakan emosi yang tidak terkendali atau berlebihan serta tidak beralasan untuk mewujudkan keinginannya. Bahkan menurut beberapa psikolog obsesi adalah bentuk gangguan kejiwaan dimana seseorang tersebut jadi merasa tergoda untuk memikirkan dan sukar dihilangkan, sehingga demi menenangkan perasaannya ini ia akan berusaha menggenggam dan meraih apa yang menjadi objek obsesinya bahkan jika hal itu terkesan dipaksakan, ia tidak perduli tentang pendapat oranglain karena yang dia inginkan haruslah ia dapatkan" jelas asya, ia terdiam sejenak untuk melihat reaksi lawan bicaranya
"Jadi bisa saja musuh kalian ini menganggap kalian adalah penghalang untuk dia mencapai keinginannya, dan dia beranggapan bahwa untuk menghancurkan kalian ia perlu menyingkirkanku.
Kuharap kalian lebih waspada mulai saat ini, lakukan pemeriksaan secara menyeluruh diperusahaan. Jangan menerima kontrak bisnis dari perusahaan baru yang belum kalian kenal dan fahami"
entah mengapa mulut asya saat ini rasanya tidak bisa dikendalikan, sehingga dengan lancangnya mengatakan hal yang tidak perlu. Dirgantara tentu lebih tau tentang hal ini, aiisshh dasar mulut kurang ajar. Asya terus saja merutuki tidakan spontannya
"Terimakasih zara, karena kau telah menghawatirkan kami" ucap dirga dengan tulus disertai senyum lembut yang mampu menggetarkan jiwa, dengan gerakan pelan dirga kembali mengecup tangan istrinya itu dan menatapnya dalam
"Hey,hey hentikan adegan romantis kalian itu" teriak mike dengan kesal
"Kau merusak suasana mike" sewot dirga kesal
__ADS_1
"Pahamilah perasaanku, bagaimana mungkin kalian tega melakukan itu dihadapanku"