
Siang ini asya dan dirga baru saja kembali dari masjid terdekat untuk melaksanakan sholat dzuhur bersama, jangan tanya kenapa dirga bisa ada dikantor asya karena sudah pasti pria itu datang kesana dengan alasan klasik ingin makan siang bersama.
Berhubung asya memiliki jadwal rapat sekitar jam 2 siang makanya mereka hanya makan siang dikantor, tidak jadi makan direstoran dan Dirga sudah memesan makan siang untuk mereka
Wajah tampan namun dingin berwibawa dirgantara yang ia tampilkan sejak tadi langsung sirna ketika berada diruangan asya dan hanya ada mereka berdua saja disana
Mungkin kalian akan tercengang melihat sifatnya yang berubah cukup instan ini bahkan mungkin lebih instan dibanding indomie, dia! Dirgantara sedang berbaring dengan kepala berbantalkan paha istri tercintanya. Dirga bahkan sengaja meletakkan tangan asya dikepalanya dan menuntun supaya dibelai layaknya anak kecil
Ia memejamkan mata dengan senyuman tipis terpatri diwajah tampannya ketika menyadari asya membelai pelan rambutnya. Ah indahnya dunia berasa hanya milik berdua, yang lainnya mah cuma numpang
Ia membuka matanya perlahan dan langsung menatap asya, ia mengernyit ketika mendapati istrinya itu ternyata sedang fokus memperhatikan ponsel digenggamannya, rasanya sangat kesal ketika melihat asya memusatkan perhatiannya pada hal lain
Dengan gerakan cepat dirga menangkup sisi wajah asya dan mengarahkan untuk menatapnya, ketika mata itu menatapnya dengan wajah tak mengerti dirga langsung berucap
"Jangan alihkan pandanganmu pada hal lain ketika kau bersamaku" ucapnya ketus
"Aku sedang melihat jadwalku" sangkal asya tidak terima
"Apa aku perlu mengurungmu dirumah saja" ungkapnya dengan pernyataan yang dikatakan dengan nada dingin menusuk
"Tentu saja tidak perlu" sanggah asya cepat
"Aku disini dan kau malah melihat disana" liriknya pada layar ponsel
yang masih tampak menyala itu
"Baik, baik. Aku tidak akan melakukannya lagi" bujuk asya disertai gerakan meletakkan ponselnya pada meja dihadapan mereka, guna menghindari amukan dirgantara yang mudah sekali tersulut
Dirga hanya terdiam dan memperhatikan manik milik istrinya itu dengan tajam berusaha menelisik dan menemukan sesuatu yang entah apa itu
"Sya" panggil dirga setelah sekian lama terdiam
"Hm" gumamnya
"Sayang"
"Iya, ada apa?"
"Aku juga ingin memanggilmu ZARA" tanya dirga tanpa mengalihkan pandangannya
"Memangnya kenapa ingin memanggilku begitu?" Sebelah alis asya terangkat tak mengerti
"Abi bilang itu panggilan kesayanganmu"
"Kapan abi memberitahukan itu?" Tanya asya penasaran
"Waktu kami mengobrol semalam"
"Semalam"
"He'em. Kami sempat mengobrol sebentar sebelum akhirnya aku menyusulmu tidur kekamar"
"Ooh. Panggil saja jika kau ingin begitu" ucap asya tanpa merasa keberatan
"Zara" panggil dirga sesaat
"Ya?"
"I love you" ucap dirga masih dengan ekspresi dinginnya yang sama
harusnya kata itu terdengar romantis tetapi karena dirga mengucapkannya dengan datar dan terkesan dingin hal itu menjadi tidak romantis dan malah terasa aneh
"Terimakasih" jawab asya dengan senyum tulusnya
"Kapan kau akan mencintaiku juga sya" tanya dirga dengan tatapan tajamnya
__ADS_1
"Entahlah"
"Berapa lama aku harus menunggu
Untuk cintamu padaku
Haruskah sampai lautan kering
Haruskah sampai suara jadi hening
Ini adalah hatiku
Telah kupercayakan padamu
Telah kulembutkan untukmu
Tak bisakah kusentuh nuranimu
Berikan aku sayangmu
Percayakan aku cintamu
Serahkan hatimu yang tak tersinggahi
Karena ibadahmu aku yang imami"
Asya tersenyum kecil ketika mendengarkan puisi dari dirga yang cukup menyentuh hati
"Darimana mas belajar berpuisi, aku bahkan tidak tau jika mas sepuitis ini" ucap asya terkagum dengan kemampuan suaminya yang baru ia ketahui
"Entahlah, aku hanya sedang mengungkapkan apa yang berusaha diucapkan hatiku" sahut dirga cuek
"Berikan aku waktu, seperti bulan yang memberi waktu pada mentari agar bersinar disiang hari" ucap asya membalas puisi suaminya
"Kenapa?" Tanya dirga yang terdengar ambigu
Tanpa membalas puisi asya dirga menarik istrinya itu agar merunduk padanya lalu menciumnya lembut, asyapun tidak menolaknya ia justru membalas ciuman itu hingga berubah menjadi lumatan kecil
Tidak ada kata yang terucapkan tapi tatapan mata itu berusaha menjelaskan tentang rasa yang terpendam didalam sana (adegan seperti diatas hanya boleh dilakukan oleh pasangan yang sudah halal)
"Oi,oi,oiiii stop ya. Jangan mesra-mesraan disini"
Suara keras mike berhasil mengalihkan perhatian keduanya, asya sedikit mengalihkan wajahnya untuk menyembunyikan rona yang menghiasi pipinya. Gimana gak malu coba! Lagi adegan ciuman eh ternyata lagi ditonton oleh adik ipar, kebayang dong malunya gimana
"Kalian menyakiti jiwa jombloku" kata mike dramatis
"Kenapa kau tidak menikah saja sih mike" sahut dirga sewot
"Bagaimana mau menikah jika anne saja selalu menghindariku" sambung mike kesal
"Mengapa harus anne sih, kamu kan bisa memilih salah satu teman tidurmu" timpal asya
"Maksudmu koleksi bonekaku kakak ipar, ma'af aku masih normal ya" sahut mike sengit
"Bukan itu maksudku mike"
Seketika itu mike menatap asya, otak cerdasnya akhirnya faham dengan maksud ucapan kakak iparnya
"Ma'af kakak ipar, aku memang ******** tetapi aku hanya bermain dengan brandy dan vodka bukannya dengan wanita" ungkap mike dengan raut serius yang nyata
"Entah mengapa aku tidak percaya" sanggah asya dengan wajah angkuhnya yang terangkat
"Aku ini perjaka asli, begitupun dengan dirga sebelum menikah denganmu kakak ipar" ucap mike bersungguh-sungguh
"Aku tidak percaya" asya masih kekeuh dengan argumennya
__ADS_1
"Yang dikatakan mike itu benar, kau adalah yang pertama dan akan tetap menjadi satu-satunya bagiku" ucap dirga dengan tenang dan mengecup tangan asya yang berada digenggamannya
"Omong kosong macam apa itu" sangkal asya masih dengan keyakinannya
"Aku tidak pernah membiarkan wanita manapun menyentuhku zara, dan kaulah pengecualian itu"
Asya hanya terdiam menatap mata dirga untuk mencari kebenaran dari sana, dan nyatanya mata itu menunjukkan keseriusan dan keyakinan di sana
"Memang ada banyak wanita yang mengelilingi kehidupan sehari-hariku, bahkan ada yang melemparkan dirinya dengan suka rela tetapi aku tidak pernah menyentuhnya" mike berusaha meyakinkan kakak iparnya yang ternyata menilainya cukup buruk
Asya hanya terdiam tak menanggapi
"Jujur ya, aku tidak pernah merasa tertarik pada wanita kecuali pada anne. Hasratku selalu bangkit ketika berada didekatnya" aku mike dengan wajah yang memerah malu layaknya kepiting rebus
"Astagfirulloh mike, rupanya kau berfikiran mesum pada pengawalku ya" ungkap asya yang terkejut
Mike hanya meringis menanggapi ucapan kakak iparnya yang tidak salah namun rasanya juga tidak benar itu
"Aku harus menjauhkan anne darimu supaya aman" putus asya tegas
Mike yang mendengar itu tentu terkejut, kakak iparnya itu bukan tipe orang yang akan mudah bercanda. Ia adalah tipikal wanita yang serius
"Jangan lakukan itu sayang" cegah dirga
"Mengapa begitu!" Sanggah asya merasa tak terima
"Itu urusan pribadi mereka zara, biarkan mereka yang mengurusnya"
"Apa maksudmu! Aku tidak ingin anne celaka" ucap asya cukup keras
"Biarkan mike berusaha mendekati anne dan biarkan takdir yang menjelaskan pada mereka, berusahalah memahami keadaan zara" jelas dirga dengan penekanan ketika mengucapkan panggilan kesayangan istrinya itu
Rupanya asya bisa sedikit memahami sesuatu melalui pandangan dirga dan juga genggaman ditangannya, tidak semua hal yang terlihat baik memanglah baik, dan tidak semua hal yang terlihat buruk memanglah buruk. Dari kopi harusnya kita belajar bahwa yang pahit masih bisa dinikmati dan yang hitam tidak selalu ngeri
"Tunggu" ucap mike yang bingung menggantung diudara
Asya dan dirga seketika itu menatap mike lekat-lekat menunggu pria itu melanjutkan ucapannya
"Kenapa dirgantara memanggil kakak ipar dengan ZARA?"
"Kupanggil dia zara" ucap dirga misterius
"Maksudnya?" Mike bingung dengan ucapan dirga yang tidak nyambung menurutnya
"Zara adalah panggilan kesayangan untuknya"
"Ooh. Kalau begitu aku juga memanggilnya kakak ipar zara"
"Tidak!" Tentang dirga ketus
"Mengapa tidak boleh!" tidak mau kalah dan ditentang
"Kau tidak diizinkan, Hanya aku yang boleh memanggilnya zara"
"Kenapa kau jadi egois"
"Ya aku memang egois" ucap dirga angkuh
"Kau pelit"
"Ya aku memang pelit. Berhenti mendebatku atau aku juga akan membantu asya menjauhkan anne darimu" ancam dirga pada mike yang sudah cemberut tidak karuan
"Dasar setan posesif" sewot mike
"Biar saja" ucap dirga dengan angkuhnya
__ADS_1
"Terserah saja, aku mau pergi dari sini. Mataku tersakiti oleh adegan romantis kalian yang sengaja dipertontonkan padaku tanpa belas kasihan" ucap mike yang terdengar tragis hingga akhirnya pria itu benar-benar beranjak pergi